Nenek Moyangku Seorang Pelaut

Nenek Moyangku Seorang Pelaut

861
0
6 Flares Twitter 0 Facebook 6 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 6 Flares ×

Jargon “nenek moyangku seorang pelaut” tentunya bukanlah hal asing bagi Indonesia. Sejak pendidikan dasar, kalimat ini sering dikumandangkan karena kekayaan dan potensi yang dimiliki Indonesia, dan juga statusnya sebagai negara kepulauan.

Status sebagai negara kepulauan tentunya membuat Indonesia memiliki potensi yang besar di bidang kelautan. Menurut Sharif C. Sutardjo, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, nilai potensi pada sektor kelautan dan perikanan mencapai 171 miliar dollar AS per tahun.(1) Bahkan, menurut Bobby Gafur Umar, Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), potensi maritim Indonesia bisa mencapai Rp. 9.300 triliun(2).

Nilai ini ingin menunjukkan betapa besarnya nilai kekayaan kelautan dan perikanan Indonesia. Hanya saja, besarnya nilai itu tidak berbanding lurus dengan nasib nelayan Indonesia. Tingkat upah nelayan hanya sekitar Rp. 1,1 juta per bulan dengan jumlah nelayan sebanyak 2,17 juta (hanya 0.87% tenaga kerja) tersebar di seluruh wilayah Indonesia(3).

Apa yang menyebabkan kondisi ini bisa terjadi?

Di masa lalu, komitmen Pemerintah untuk memaksimalkan potensi kelautan dan perikanan tidak terlihat. Beruntung, pemerintahan kali ini memiliki visi Indonesia “Poros Maritim”(4). Visi ini dilanjutkan melalui tindakan nyata dengan melumpuhkan setiap kapal yang memasuki wilayah laut Indonesia tanpa izin dan melakukan aktivitas illegal fishing.

Penyebab lainnya adalah profesi di bidang kelautan belum menjadi sesuatu yang menarik bagi masyarakat Indonesia, karena profesi nelayan identik dengan kemiskinan(3). Hal ini diperburuk karena nelayan kita masih menggunakan perahu dan cara menangkap ikan yang masih tradisional.

Masalah ini sebenarnya bisa diselesaikan melalui edukasi menyangkut kemampuan teknis, sehingga dapat meningkatkan kualitas nelayan kita dengan infrastruktur yang lebih memadai dari sisi teknologi (misal: kapal dengan teknologi yang lebih modern). Edukasi ini juga memiliki peran penting dalam rangka mengubah persepsi masyarakat, agar profesi di sektor kelautan dan perikanan bisa menjadi lebih menarik. Pendirian sekolah atau memperbanyak program yang berkaitan dengan kelautan dengan memberikan insentif berupa beasiswa kepada kaum muda untuk menciptakan ketertarikan mereka terhadap dunia kelautan Indonesia.

Terakhir, ada baiknya pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulator, namun juga harus mendukung nelayan melalui permodalan. Misalnya saja pemberian pinjaman lunak agar nelayan memiliki modal yang kuat untuk melangsungkan usahanya. Hal lain yang bisa dilakukan adalah pendirian unit koperasi sebagai pengumpul sekaligus pembeli hasil tangkapan ikan dari nelayan dengan harga yang wajar untuk dijual kembali.

Tentunya peran ini akan menjadi perwujudan komitmen pemerintah yang selaras dengan pasal 33 UUD 1945 yang menjamin pengelolaan seluruh kekayaan alam Indonesia demi kemakmuran rakyat Indonesia.

Referensi:

  1. http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/08/14/potensi-kelautan-indonesia-mencapai-171-miliar-dollar-as
  2. http://www.tempo.co/read/news/2014/10/30/078618090/Potensi-Maritim-Indonesia-Rp-9300-Triliun
  3. http://nasional.kompas.com/read/2014/11/19/21243231/Nelayan.Kita
  4. Suroso, GT. 2015. Poros Maritim dan Perkembangan Perekonomian Indonesia. http://www.bppk.depkeu.go.id/publikasi/artikel/150-artikel-keuangan-umum/20555-poros-maritim-dan-perkembangan-perekonomian-indonesia. 13 Februari 2015.
SHARE
Previous articleMimpi Kemaritiman dan Pembangunan Manusia Indonesia
Next articleRegulasi ala Kerajaan Majapahit
Albert Tommy
Saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta ternama di Jakarta. Bidang yang diminati: Marketing, Human Resources, Organization Development. Quote favorit, “Don’t work for a person. Do work for yourself and for God for the value you should fight for.” – Kornel M. Sihombing