Mencintai Laut

Mencintai Laut

706
0
41 Flares Twitter 0 Facebook 41 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 41 Flares ×

Sejak sekolah dasar, setiap anak Indonesia telah dicekoki dengan pengetahuan sosial yang membahas tentang sejarah, ekonomi, hingga budaya. Salah satunya mengenai Indonesia sebagai negeri yang sarat berbagai potensi, karena letaknya di antara dua benua dan samudera. Tak hanya itu, Indonesia juga merupakan negara khatulistiwa yang mendapatkan panas matahari yang berkecukupan di sepanjang tahun.

Tak dapat dipungkiri, Nusantara yang terbentang dari Pulau Papua di timur sampai Pulau We di barat, dari Pulau Mianggas di utara sampai Pulau Rote di selatan, memang menyimpan berbagai kekayaan alam yang berlimpah sehingga sering dilirik oleh asing. Kekayaan laut Indonesia, misalnya, salah satu yang paling beragam di dunia. Tak aneh ketika Indonesia disebut sebagai negara maritim.

Klaim negara maritim ini tak hanya dilihat dari sisi kekayaan lautnya saja. Dari sisi sejarah, Indonesia memiliki rekam jejak yang tak kalah gemilang. Kemahsyuran dua kerajaan terbesar, Sriwijaya dan Majapahit adalah faktanya.

Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan yang berada di Sumatera Selatan yang pada masanya memimpin sepertiga luas wilayah Nusantara. Hal yang paling membekas dari kerajaan Buddha ini adalah kisah-kisah penakluk lautan yang mengarungi samudera, hingga meninggalkan remah-remah sejarah di beberapa negara seperti India dan Tiongkok.

Kemahiran mereka dalam pelayaran membuat Kerajaan Sriwijaya menjadi poros perdagangan. Kerajaan-kerajaan lain berdatangan, baik untuk berdagang maupun untuk kepentingan lainnya, seperti penyebaran agama atau pendalaman agama Buddha.

Kedigdayaan Sriwijaya disusul oleh Kerajaan Majapahit, yang memiliki luas wilayah jauh lebih besar. Bahkan di era Majapahit, Nusantara dapat disatukan, bahkan sampai ke Malaka, Filipina, dan daerah Asia Tenggara lainnya. Majapahit menjadi kekuatan yang disegani, bahkan oleh Kekaisaran Tiongkok yang besar di Asia Timur.

Tentunya, tantangan Indonesia saat ini berbeda dengan Sriwijaya dan Majapahit. Meski masih bergelar negara maritim, tetapi banyak fenomena yang sebenarnya menjadi permasalahan kronis yang menggerogoti Indonesia.

Masih segar dalam ingatan, ketika Malaysia mencoba mengambil alih pulau-pulau terdepan Indonesia. Bahkan, Sipadan-Ligitan telah sepenuhnya menjadi hak mereka. Banyak pula nelayan asing yang secara ilegal menangkap ikan di wilayah Indonesia dan menjualnya ke pasar internasional, padahal nelayan kita menangkap ikan dengan teknologi yang masih tradisional.

Transportasi laut kita juga bermasalah dan tidak berimbang antara wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia. Akibatnya, kekayaan alam dari satu daerah tidak dapat didistribusikan dengan cepat dan efisien dari satu daerah ke daerah lain. Biaya distribusi membengkak dan menyebabkan tingginya harga produksi.

Hasil nyata dari ketimpangan transportasi laut ini terlihat dari perbedaan harga yang mencolok antara wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia. Harga kebutuhan pokok di wilayah tengah dan timur berkali-kali lipat dibandingan wilayah barat. Padahal salah satu bagian vital dari negara maritim adalah kuatnya pelayaran dan infrastruktur pendukung seperti pelabuhan, galangan kapal, dan lainnya.

Dari kacamata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Indonesia memiliki sejuta pesona dan potensi laut yang selama ini terbengkalai. Jika melihat beberapa bulan ke belakang, sudah banyak kapal asing yang tertangkap basah menjarah hasil laut Indonesia, yang kemudian diledakkan.

Maraknya pencurian ini sebenarnya bukan hal yang baru, tetapi menjadi baru terdengar karena pemerintah melakukan tindakan pencegahan yang tegas dan keras. Alangkah baiknya jika potensi kekayaan laut yang selama ini dicuri nelayan asing tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia.

Indonesia selama ini sudah terbiasa dengan pemikiran daratan dan doktrin Indonesia sebagai negara agraris. Sumber daya manusia kita juga akhirnya dididik dan dibentuk untuk menjadi pekerja di bidang-bidang pekerjaan yang bertumpu pada aktivitas di daratan. oleh karena itu dibutuhkan upaya untuk mengubah arah pendidikan kita agar memandang laut sebagai rumah dan tempat pekerjaan kita.

Pemerintah sekarang berupaya mengembalikan citra Indonesia sebagai negara maritim. Bahkan Presiden Jokowi memiliki visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Pemerintah membuat kebijakan dan regulasi yang mengatur agar kelautan Indonesia dapat berjaya. Menjadi tugas setiap elemen masyarakat untuk dapat mengembangkan Indonesia agar dapat mengembalikan kebanggaan kita tersebut.

Tema edisi kali ini membahas tentang bidang maritim Indonesia. Memberikan informasi kepada para pembaca FOKAL bagaimana realitas Indonesia sebagai negara kepulauan. Bukan hanya dari segi ekonomi, tetapi juga dari segi pariwisata, dan dari segi kedaulatan negara.

Jalesveva Jayamahe!

SHARE
Previous articleLaut itu Hati Saya
Next articleHukum Tanpa Takaran
Lukya Panggabean
Lukya Panggabean lahir di Aeknatolu, 28 Januari 1995. Saat ini sedang menempuh pendidikan jurusan Ilmu Jurnalistik di Universitas Padjadjaran.