Ichiyo: Perempuan Berprinsip yang Menari Bersama Nasib

Ichiyo: Perempuan Berprinsip yang Menari Bersama Nasib

900
0
413 Flares Twitter 0 Facebook 413 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 413 Flares ×

Kisah Ichiyo berlatar belakang Restorasi Meiji. Kalau masih ingat film anime Jepang Samurai X tentu tak asing dengan istilah Restorasi Meiji. Membaca Ichiyo membuat hati jadi hangat. Membaca kisah perempuan di negara lain pada waktu yang berbeda yang percaya dan berjuang meraih mimpinya. Apa mimpinya? Apa mimpimu?

Dari Era Shogun Tokugawa Menuju Restorasi Meiji

Menurut sejarah restorasi Meiji adalah peristiwa pengembalian kekuasaan ke tangan Kaisar yang selama ini dipegang oleh Shogun dari dinasti Tokugawa. Peristiwa peralihan terjadi pada tahun 1876, tetapi layaknya peristiwa pengalihan kekuasaan di manapun maka sebelum dan sesudahnya diwarnai oleh gejolak sosial serta militer yang melibatkan negara-negara lain dan rakyat macam petani dan peadgang yang menjadi korban.

Nama ‘Meiji” diambil dari gelar Kaisar Mutsuhito. Meiji memiliki arti “pemerintahan yang tercerahkan”. Nama ini menggambarkan Jepang yang kembali stabil setelah 2,5 abad diperintah oleh Shogun Tokugawa yang menerapkan kebijakan Sakoku yang menjadikan Jepang negara kolot. Keberadaan Shogun telah menyingkirkan peran Kaisar. Sehingga Kaisar hanya menjadi simbol. Semenjak tahun 1603 posisi Shogun menjadi begitu sentral.

Tahun 1633 Rezim Tokugawa menjalankan kebijakan Sakoku. Kebijakan ini melarang orang-orang Jepang bepergian ke luar negeri, dan orang-orang dari negara lain tak boleh masuk ke Jepang termasuk buku-buku asing dan agama-agama dari negara lain. Alasannya Tokugawa khawatir kalau negara-negara asing membawa pengaruh negatif khususnya dari negara Spanyol dan Portugis.

Ah, saya teringat novel ‘Silence’ karya Shusako Endo yang mengisahkan kebengisan Rezim Tokugawa terhadap para misionaris dan para penduduk Jepang yang menganut Katolik. Demi menjaga kemurnian Jepang mereka tak segan-segan menciptakan serangkaian hukuman fisik yang memaksa orang-orang Katolik mengingkari imannya. Tokugawa juga takut jika banyak sekali orang-orang Jepang yang memeluk agama Katolik dan lebih patuh pada gereja daripada kepada Shogun.

Tetapi angin perubahan berhembus. Shogun Tokugawa dengan prinsip Sakoku-nya rontok. Shogun Tokugawa tak kuasa membuka Jepang bagi Amerika Serikat, Rusia, Inggris, dan Perancis. Demo dari rakyat terjadi di mana-mana karena rakyat merasa dikhianati oleh Shogun Tokugawa yang terlanjur mendapuk diri sebagai penjaga kemurnian Jepang. Akhirnya pada tahun 1867, Tokugawa Yoshinobu mengundurkan diri sebagai Shogun. Ia menyadari sudah tak ada lagi yang mendukung keberadaan Shogun. Inilah era berakhirnya kekuasaan Shogun Tokugawa. Dan menjadi era awal Restorasi Meiji.

IchiyoIchiyo dan Restorasi Meiji

Restorasi Meiji membuat Kaisar bergegas mengirimkan putra-putra terbaiknya ke luar negeri untuk belajar berbagai macam ilmu pengetahuan untuk memajukan Jepang yang baru, Jepang yang tercerahkan. Pemerintahan yang tercerahkan ini berimbas pula pada teknik cetak yang berkembang sehingga ada koran dan novel yang dapat dibaca oleh rakyat. Masa ini disebut ‘ Bunmei Kaika’ atau Masa Pencerahan.

Tetapi pada masa yang konon katanya ‘cerah’, muncul sebuah motto yang diciptakan oleh Nakamura Masanao yaitu ‘Ryosai Kenbo’ atau “Istri yang baik dan Ibu yang bijak”. Motto ini membuat perempuan harus memahami perannya sebagai ibu rumah tangga yang menggerakkan kehidupan keluarga. Ah, apa pula bedanya dengan era Shogun Tokugawa? Perempuan boleh bersekolah tetapi hanya agar mereka menjadi calon ibu yang cerdas yang dapat melahirkan dan mendidik anak-anak cerdas. Selain itu mereka juga wajib menguasai ketrampilan mengurus rumah tangga sebagai bekal kelak berkeluarga.  Nah, apanya yang cerah ketika perempuan tak bisa memasuki bidang profesi laki-laki? Tak boleh memiliki properti dengan nama sendiri?

Sebenarnya kehidupan perempuan di era Meiji tak ubahnya di era Shogun Tokugawa. Mereka masih dianggap inferior dan hanya mengisi peran mengerjakan hal-hal domestik. Kalaupun pandai menulis dan bersajak, itu bukan untuk dipublikasikan. Atau jangan-jangan karena ini masih masa peralihan?

Ichiyo hidup di era Meiji. Ketika perempuan dianggap hanya mengisi peran sebagai ibu rumah tangga. Tetapi sejak kecil Ichiyo ayahnya sangat revolusioner. Ayah Ichiyo mengenalkan dunia ajaib, dunia buku yang membawa Ichiyo kecil bebas berkelana di dunia kata dan imajinasi yang pada akhirnya mendorong dia untuk menulis. Ichiyo pun makin tenggelam dalam buku-buku yang disodorkan ayahnya dan ia makin mahir mengintepretasi sajak. Hingga setiap sore ia membacakan sajak di perkumpulan sastrawan ketika ia masih berusia 11 tahun. Kecintaannya pada buku dan menulis membuat ia ingin sekolah setinggi mungkin dan menjadi penulis profesional. Mungkinkah? Di era Meiji?

Ibu Ichiyo adalah sisa-sisa hasil pendidikan era Shogun Tokugawa yang memandang pekerjaan perempuan itu di seputar sumur, dapur dan kasur saja. Ia tak senang suaminya mendidik Ichiyo menjadi gadis berkacamata tebal. Tulis Ichiyo, ”Aku tak pernah melihat wanita yang lebih besar keinginannya untuk membunuh bakat besar anaknya daripada ibuku.” Ibu Ichiyo sudah mengatur agar anaknya hanya memiliki sedikit waktu untuk membaca dan lebih banyak mengerjakan pekerjaan domestik ketika ‘kelas feminin’ kosong. ‘Kelas Feminin’ mengajari Ichiyo memasak, menjahit, dan merangkai bunga. Ichiyo lakukan semua itu dengan keseriusan total bukan karena ia suka tetapi karena ia perfeksionis.

Pada akhirnya Ichiyo yang bernama asli Natsuko Higuchi berhasil masuk sekolah bergengsi yang memuaskan hasrat sastra dan menulisnya. Namun kisah hidup tak dapat diduga. Perlahan namun pasti kondisi keuangan keluarga Ichiyo merosot tajam semenjak kematian kakak lelakinya dan ayahnya. Tiga perempuan Higuchi ini menunjukkan keperkasaan perempuan Jepang menari bersama nasib buruk. Dan Ichiyo, tak padam juga api membaranya untuk menghasilkan karya sastra. Sekalipun banyak anggapan bahwa sulit bagi perempuan menembus dunia sastra sebab konon itu hanya milik laki-laki. Barangkali pula karena Ichiyo punya pengalaman direndahkan oleh saudara laki-lakinya ketika ia masih kecil maka api itu semakin membara.

Perempuan Berprinsip yang Menari Bersama Nasib

Kehidupan tiga perempuan Higuchi mencapai titik nadir. Berpindah rumah adalah biasa. Bahkan ketika harus bertetangga dengan rumah bordil pun mereka lakoni demi menghemat uang sewa. Semua sudah dijual, hanya harga diri Higuchi yang mereka pertahankan. Semua bentuk kehidupan melarat nyaris sekarat sudah kenyang mereka telan. Dan kabarnya, situasi serba sengsara ini yang acapkali mewarnai kisah yang ditulis oleh Ichiyo.

Selain situasi yang serba sengsara, kisah cinta Ichiyo yang kandas kepada mentornya sering menjadi tema dari tulisan-tulisannya. Ichiyo pernah sekali jatuh cinta kepada lelaki yang menjadi mentornya. Namun demi nama baik Higuchi dan karier menulis profesional ia harus menjauhi lelaki yang ia cintai. Walaupun mereka masih berhubungan baik. Menjelang akhir hidupnya, Ichiyo berhasil membongkar anggapan bahwa dunia sastra, dunia menulis hanya milik laki-laki Jepang.

Yang menarik, Ichiyo adalah perempuan yang memiliki prinsip. Ia tak mau mengikuti selera pasar yang mendikte penulis agar menulis kisah yang dangkal dan vulgar. Ia tak mau didikte mentornya walaupun ia tahu ia akan melarat karena karyanya tak akan diterbitkan. Bahkan ia tak mau menggunakan nama pena laki-laki agar karyanya diterima dan dibaca masyarakat. Ichiyo tetap teguh memegang prinsipnya ia akan menulis sebagai seorang perempuan, dan meraih sukses sebagai seorang perempuan, tak boleh kurang dari itu. Betapa dalam jiwanya, Ichiyo sungguh-sungguh perempuan yang sadar posisi dan peran kaumnya kala itu harus diubah!

Perlahan tapi pasti karyanya disukai dan disambut positif bahkan Bungakkai, kelompok sastrawan yang kritis terhadap karya tulis. Menjelang akhir hidupnya, “selembar daun” alias Ichiyo masuk dalam lingkaran sastrawan elit yang semua anggotanya adalah laki-laki. Ia menjadi satu-satunya penulis perempuan yang disegani dan membuat penulis laki-laki berguru padanya. Namun ia menutup buku hidupnya, meletakkan penanya di usia 24 tahun.

Ya, di puncak keemasannya, “selembar daun” itu tak kuasa untuk gugur ke tanah. Ia pergi meninggalkan karya karya hebat dan kemiskinan yang ditanggung adik dan ibunya. Walaupun ia rutin mendapat bayaran dari karya tulisnya, namun hidup mereka belum membaik sepenuhnya.

Melahirkan Ichiyo Masa Kini?

Ichiyo1Membaca kisah Ichiyo saya membaca detak perjuangan seorang perempuan yang hidup di era Restorasi Meiji tanpa seorang kepala keluarga. Mengamatinya yang gemulai namun tegas menari mengikuti tulisan nasib. Dan bagaimana mimpinya dibuahi dan diperjuangkan sepenuh hati. Tentu saja itu tak lepas dari pola asuh ayahnya yang mengenalkan Ichiyo pada buku. Dunia yang tabu bagi perempuan yang hanya dituntut tahu urusan rumah tangga. Ayahnya percaya bahwa perempuan seperti Ichiyo lebih dari layak untuk belajar sama seperti laki-laki bahkan lebih dari itu. Impian Ichiyo kecil sudah tertambat pada buku dan dunia menulis.

Impian yang seharusnya kandas karena terpaan gelombang nasib yang bertubi-tubi. Tetapi entah mengapa Ichiyo tak putus asa. Hatinya sudah menulis. Hatinya sudah bersajak. Maka jalan sesulit apapun ia rela tempuh.

Ichiyo memang buta fashion karena kondisi keuangan tak memungkinkan ia berdandan ala perempuan Jepang waktu itu dengan kimoni aneka warna. Ia minder, ia malu tetapi setiap kali ia jatuh, ia selalu ingat bahwa yang membuatnya menarik bukan sekedar kimono pembungkus raga tetapi apa yang ada di balik jiwa dan tajamnya goresan pena yang membuat ia bersinar di antara kemilau kimono mahal.  Dan memang benar, seorang lelaki pernah jatuh cinta dan tak hentinya mengagumi gadis cerdas berpena tajam dengan wawasan luas yang dibungkus kimono usang warna abu tua.

Ah, membaca Ichiyo membuat saya merenung. Bagaimana dengan perempuan di Indonesia? Apa mimpi kalian? Bagaimana dengan pola asuh di keluarga, sekolah, dan gereja serta masyarakat? Apakah perempuan selalu dikaitkan hanya dengan urusan domestik yaitu ‘Macak’ (dandan), ‘Masak’, dan ‘Manak’ (melahirkan)? Disekolahkan supaya jadi ibu bijak? Menjadi penatua supaya ada perempuan sana?

“Jangan Anda bertanya apa yang saya lakukan…tetapi tanyalah apa yang tidak saya lakukan: saya tidak memotong sayap anak saya untuk terbang.” Kata Ziauddin Yousafzai ayah Melala. Melala gadis yang memiliki impian kuat, sangat kuat bahkan mengalahkan ketakutannya. Impiannya adalah agar setiap anak bisa bersekolah. “Kalau Anda tidak memberi mereka pena, para teroris akan memberi mereka senjata,” kata Melala ketika diwawancarai CNN. Ichiyo dan Melala dua perempuan beda zaman, beda situasi, memiliki orangtua yang “tidak memotong sayap anaknya untuk terbang”… Tidak menghalangi anaknya meraih mimpinya sekalipun mereka perempuan!

Untuk melahirkan Ichiyo made in Indonesia (dan Melala) dimulai dengan pemahaman di rumah bahwa anak perempuan boleh meraih impian sama seperti anak lelaki, boleh bekerja di bidang yang konon zona laki-laki, boleh membaca buku sebanyak-banyaknya. Sekolah setinggi-tingginya, berkarya seluas-luasnya. Bukan hanya sekedar belajar memasak, mencuci, menjahit dan berdandan mengikuti fashion terkini tapi lupa update wawasan! Anak lelaki pun perlu mendapat pemahaman bahwa anak perempuan sejatinya setara dalam hal kesempatan belajar, kesempatan mengembangkan diri dan harus dihormati sama seperti ia menghormati dirinya sendiri.

higuchil
Ichiyo lahir tanggal 2 Mei 1872, maka bukan kebetulan jika saya memboyong pulang Ichiyo pada tanggal 2 Mei 2015 karena bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Dan masih tak terlampau jauh dari euforia perayaan hari Kartini.  Bagaimana kita memaknai pendidikan dan peran perempuan di dalamnya? Apakah perjuangan Kartini alias Trinil hanya dimaknai dengan peragaan busana nusantara? Apakah sekali lagi perempuan hanya dinilai dari apa yang ia kenakan bukan apa yang ia lakukan dan katakan?

Ichiyo menjadi contoh perempuan yang menjungkirbalikkan pandangan bahwa dunia sastra hanya milik laki-laki. Nah, bagaimana dengan perempuan Indonesia? Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan kalian laki-laki Indonesia? Siapkah? Maukah kita mendorong perempuan-perempuan Indonesia bermental baja, memiliki prinsip, berwawasan luas, dan tetap merawat kehidupan? Yang bukan hanya ayu kemayu tetapi cerdas menari bersama nasib!

SHARE
Previous articleHukum Tanpa Takaran
Next articleAyahku Orang Batak
Yohana Defrita Rufikasari
Lahir 16 Mei 1987. Suka bermain bersama anak-anak, membaca, menulis, melukis, nonton film, dan jalan-jalan. Saat ini menjadi guru Agama Kristen di TKK BPK Penabur Guntur dan SDK 5 BPK Penabur Guntur Bandung.