Penulis Sejati Tidak Akan ‘Melacur’

Penulis Sejati Tidak Akan ‘Melacur’

988
0
396 Flares Twitter 0 Facebook 396 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 396 Flares ×

Apa itu tulisan? Mengapa kita menulis? Dua pertanyaan yang biasa muncul dalam sebuah pelatihan menulis. Bagaimana kita memaknainya?

Saat menulis, kita sedang berada di dimensi yang berbeda dari mereka yang tidak. Penulis biasanya selalu gelisah bila ada ide yang hinggap di ubun-ubun. Penulis tak pernah lelah merekam dan mengamati kejadian sekecil apapun.

Selagi menarik untuk diceritakan, akan dituliskan. Selagi berguna bagi yang lain, akan diabadikan. Selama jadi inspirasi bagiĀ  yang lemah jiwanya, akan digoretkan dengan segala macam alat tulis. Tentang tanah, air, udara, bayi, anak-anak, remaja, orang tua, pendidikan, sains, filsafat, semesta, tentang Tuhan, selalu menarik diceritakan dengan miliaran sudut pandang.

Seorang penulis pasti sadar betul manfaat menulis. Mulai yang pragmatis sampai yang romantis. Pragmatis, berguna untuk menambah wawasan, meningkatkan imaji, membentuk pemikiran kritis, menguatkan cara berkomunikasi, melembutkan jiwa sampai meluapkan emosi.

Dengan menulis, seseorang juga akan punya nilai tambah dalam sebuah komunitas. Penulis akan lebih diperhitungkan pendapatnya. Penulis juga punya posisi tawar di masyarakat. Penulis juga lebih gampang bersosialisasi dengan banyak orang.

Romantis, karena penulis menulis bagi orang lain. Buah pikirannya akan sia-sia bila tak dibagikan ke orang banyak. Penulis menyisihkan waktunya berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun, agar manusia yang berada di tempat lain bisa turut menikmati hasil karya penulis.

Demi menulis

Tanggal 11 Mei 2015 lalu, 3 penulis muda Batak yang romantis bertandang ke sekolah kami. Mereka adalah Basar Daniel Jevri Tampubolon, Pirhot Nababan, dan Efraim Sitinjak. Basar mendirikan sebuah web tempat banyak orang muda belajar menulis bernama FOKAL.info. Di forum inilah Pirhot Nababan (Redaktur Hukumonline) belajar menulis. Sekarang Pirhot menjadi jurnalis muda sukses. Efraim, ia seorang peneliti di ITB. Selain meneliti, ia juga rajin menulis di media massa dan aktif di komunitas menulis di Bandung.

Didorong semangat berbagi, mereka meninggalkan Bandung dan Jakarta selama 4 hari. Demi sebuah tujuan mulia dan tulus; demi (anak muda di tanah Batak) menulis. Pertama-tama mereka melakukan pelatihan di Asrama Yayasan Soposurung. Lalu singgah ke sekolah kami, SMA Unggul Del, untuk melatih dan memotivasi beberapa siswa dan rekan guru dalam menulis.

Basar, pemimpin rombongan, sangat berapi-api menjelaskan kedatangannya. Saya belum pernah bertemu wajah dengan wajah sebelumnya. Kami hanya berkenalan via tulisan di Facebook. Ia bilang kalau ia ingin sekali berbuat sesuatu untuk tanah leluhurnya. Sesuatu itu adalah kemampuan untuk menulis.

Kesadaran akan pentingnya menulis menggerakkan hatinya untuk berbagi pengalaman. Ia membandingkan produksi tulisan pemuda di negara lain dengan negara kita. Sungguh jauh tertinggal bangsa kita.

Apa yang dilakukan para sahabat dari komunitas FOKAL.info ini adalah contoh kongkret dari manfaat menulis. Mereka rela berkorban demi orang lain bisa menulis.

Entah bagaimana, menulis bisa membentuk seseorang menjadi lebih humanis. Menulis mampu menggerakkan kita untuk berbuat hal baik bagi orang lain. Ada beban moral bagi penulis untuk sebisa mungkin tak hanya berbagi hal abstrak (ide) tapi juga hal nyata (tindakan langsung).

Menulis Demi

Namun kita tidak bisa pungkiri, masih banyak pula orang yang menyalahgunakan kemampuannya dalam menulis. Mereka menulis demi popularitas dan uang. Penulis tipe ini akan menghalalkan segala cara agar tulisannya dipublikasikan. Mereka tidak malu melakukan plagiasi dan menjadi ghost writer (penulis bayaran).

Di beberapa surat kabar pernah terdapat beberapa kali mereka yang mengaku penulis ketahuan melakukan plagiasi. Bentuknya beragam. Ada yang hanya mengganti judul, ada yang menerjemahkan tulisan dari bahasa asing, ada juga yang mencaplok bulat-bulat tulisan orang dari media lain hanya ganti nama. Di dunia kampus, ada oknum dosen yang punya kerja sampingan sebagai penempah skripsi. Ia memasang tarif yang cukup mahal untuk sebuah skripsi yang ditulisnya.

Biasanya penulis seperti ini tidak akan bertahan lama. Sepintar-pintarnya tupai melompat, pasti akan jatuh. Untungnya, masyarakat kita masih lebih menghargai karya yang orisinil dibanding yang bajakan. Belum lagi teknologi informasi yang kian canggih. Tulisan-tulisan yang dihasilkan karena plagiasi akan cepat tercium dan akan mendapat hujatan dari publik.

Bagi kaum terpelajar, menulis haruslah menjadi gaya hidup. Menulis adalah upaya untuk merawat peradaban dan memelihara akal sehat. Oleh sebab itu, menulis harus ditularkan bagi generasi selanjutnya.

Kawan, menulis adalah pekerjaan luhur. Oleh karenanya, setiap penulis harus menjaga integritasnya. Penulis sejati tidak akan melacurkan dirinya demi sebuah ketenaran ataupun harta dunia semata. Penulis sejati haruslah menjaga integritasnya dan mengasah kemampuan sosialnya untuk berbagi terhadap sesama. Penulis sejati akan berkorban demi (generasi selanjutnya) menulis.

SHARE
Previous articleAyahku Orang Batak
Next articleTipe-Tipe Mahasiswa Masa Kini
Rinto Tampubolon
Rinto Tampubolon berprofesi sebagai Guru Bahasa Inggris di SMA Unggul Del, Laguboti. Aktif di komunitas Perkamen.