Tidak Abai Terhadap Penderitaan Rakyat

Tidak Abai Terhadap Penderitaan Rakyat

673
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Presiden Soekarno pernah berujar, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Ucapannya ini tentu sarat makna. Salah satunya adalah fakta bahwa sejarah telah menghantarkan bangsa kita saat ini tetap bertahan dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun, kita kurang memaknai sejarah sebagai guru kehidupan yang memberikan kontribusi dalam pembentukan karakter bangsa. Sejarah seringkali diperlakukan sebatas kata dan hanya memanfaatkan fakta sebagai materi utama di lingkup pendidikan.

Sejatinya, sejarah seharusnya dipahami secara utuh oleh generasi muda, dengan menggali makna dari peristiwa atau tokoh sejarah. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan menjadi landasan pembentukan karakter bangsa yang efektif.

Salah satu momen sejarah yang harus terus dipahami adalah pendirian Boedi Oetomo di tahun awal abad 20. Ketika itu, dr. Soetomo dan rekan-rekannya dari STOVIA (Sekolah Dokter Jawa) mendirikan organisasi karena peduli akan realita sosial yang dihadapi masyarakat.

Awalnya, mereka bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan budaya, hingga akhirnya juga terlibat dalam bidang politik. Perjuangan mereka tidak mudah, karena Belanda masih mengontrol gerak-gerak pribumi yang berusaha menjadi lebih kritis terhadap pemerintahan kolonial.

Waktu berputar dan zaman berganti. Penjajahan telah diganti kemerdekaan. Kesulitan di awal abad 20 telah diganti oleh berbagai kemudahan abad 21. Namun, apakah kita masih memiliki semangat yang sama seperti Boedi Oetomo?

Kemudahan yang ditawarkan saat ini justru membuat generasi muda tertidur pulas dalam zona nyaman. Sudah lebih dari enam dekade umur kemerdekaan Indonesia, namun negeri ini belum menjadi tempat yang layak bagi setiap orang.

Kita bisa menyisir jalan seraya melempar pandangan, dan akan menemukan sesuatu yang ganjil. Di tengah tegaknya gedung megah dan pusat perbelanjaan, kita masih bisa melihat di sampingnya permukiman kumuh dan anak-anak terlantar yang mengundi nasib demi mengais uang receh di jalan-jalan. Gedung dan apartemen dilego dengan nilai miliaran, namun di baliknya masih banyak gubuk yang menyerupai jamban ketimbang tempat tinggal yang layak.

Masihkah kita sebagai generasi muda acuh tak acuh terhadap realita rakyat sekarang?

Pemuda saat ini membutuhkan semangat dari generasi Boedi Oetomo. Pemuda harus lebih peduli terhadap realita rakyat agar generasi muda peka dan merasakan bagian dari rakyat itu sendiri. Pemuda harus menggunakan waktu dan mendedikasikan hidupnya bagi kepentingan yang lebih besar.

Kepentingan masyarakat yang lebih luas harus terus menjadi beban utama yang harus dipikul oleh pemuda Indonesia. Seperti yang pernah dikatakan Soe Hok Gie, “Aku besertamu orang-orang malang.”

SHARE
Previous articleAntivirus itu Bernama Pendidikan
Next articleKarena Perbedaan Itu Unik
Yopri Rangka
Yopri Rangka lahir di Panahan, 23 Juni 1990. Lulusan Universita Palangka Raya ini gemar berorganisasi, pernah aktif di GMKI Cab. P.Raya, GAMKI Prov. Kalteng, BEM UNPAR. Hobbi membaca, menulis, diskusi, futsal, jogging, dan mancing.