Kebangkitan Bukan Kebangetan

Kebangkitan Bukan Kebangetan

779
0
33 Flares Twitter 0 Facebook 33 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 33 Flares ×

“Kebangetan anak-anak ini. Masih jam sekolah udah berkeliaran di jalan.“

“Mahasiswa sekarang kebangetan ya, Bu. Beda dengan zaman kita dulu. Dulu kuliah kita bagus, tapi kita juga sempat untuk berdiskusi tentang permasalahan masyarakat. Mahasiswa sekarang, banyak yang teriak-teriak di jalan, tapi prestasi jeblok. Banyak juga yang rajin di kelas, tapi gak peduli dengan permasalahan rakyat. Sisanya kalau gak bikin masalah di kampus, ya bikin masalah di luar. Kalau generasi muda kita kaya gini, saya pesimis dengan masa depan bangsa kita, Bu.”

Kebangetan.

Ya, inilah kondisi generasi muda kita saat ini. Generasi yang diharapkan dapat menjawab tantangan masa depan bangsa justru sekarang ini terpuruk dalam berbagai lubang permasalahan. Kaum muda yang diharapkan dapat berpikir optimis menatap takdir bangsanya malah menjadi makhluk pesimis saat melihat nasib dirinya sendiri. Bahkan beberapa bulan belakangan ini, kita mendengar adanya mahasiswa yang bunuh diri. Pemuda seharusnya memutus berbagai tali kesengsaraan dan ketidakadilan yang mengikat bangsanya. Sayangnya yang terjadi pemuda harapan justru memutus ikatan dirinya dengan dunia karena tidak kuat menghadapi berbagai tantangan zaman.

Kita, generasi muda saat ini seakan lupa, 100-an tahun yang lalu, kaum mudalah yang bangkit dan melihat setitik cahaya harapan di tengah gelapnya penjajahan. Pemuda pula yang kemudian bangkit dan berjuang bersama, membuka pintu gerbang kebebasan dan kemerdekaan. Maka dimulailah masa Kebangkitan Nasional, terjadilah Sumpah Pemuda 1928, dan tercapailah juga kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Inilah kebangkitan.

Kebangkitan muncul karena ada pemikiran optimis yang kemudian berbuah menjadi ucapan dan perbuatan. Ucapan dan perbuatan ini membawa spirit membangun (konstruktif), proaktif, dan solutif. Pemikiran optimis tidak melahirkan tindakan yang merusak (destruktif) dan reaktif, yang justru menghasilkan mudarat ketimbang manfaat.

Pemikiran optimis, bukan pesimis, yang membuat Indonesia bisa terus melangkah hingga saat ini. Berbagai perbedaan suku, agama, ras, dan golongan, serta tantangan internal maupun eksternal tidak menghentikan langkah bangsa kita. Perbedaan dan tantangan itu tentu saja menghambat. Tapi semangat kebangkitan dalam diri masyarakat, khususnya pemuda Indonesia mampu menjawab dan menyelesaikan satu persatu persoalan itu.

Kebangkitan bukanlah kebangetan. Kebangkitan berbeda dengan kebangetan yang membawa aura negatif, pesimis, dan putus asa. Kebangkitan adalah semangat untuk memikirkan sesuatu yang berguna, mengucapkan sesuatu yang bermakna, dan melakukan sesuatu yang bermanfaat. Itulah jiwa Kebangkitan Nasional yang ada pada diri pemuda dulu dan seharusnya masih hidup dalam diri kita saat ini.

Aktor yang Berpikir, Berucap, dan Bertindak

Pemerintahan kita saat ini sudah memasuki masa kepemimpinan Presiden yang baru. Ada semangat baru yang muncul di dalam pemerintahan sekarang. Semangat untuk melanjutkan hal-hal positif yang didapat dari pemerintahan sebelumnya, memperbaiki apa yang masih kurang, serta merancang hal-hal baru yang bermanfaat bagi rakyat.

Namun, banyak tantangan dan hambatan yang masih harus dihadapi oleh bangsa kita dalam upaya mencapai kesejahteraan dan keadilan yang dicita-citakan. Kita sebagai generasi muda juga harus ambil peran. Kita juga merupakan aktor pembangunan, yang memiliki peran untuk berpikir, berucap, dan bertindak tentang hal-hal baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Sebagai aktor yang berpikir, berucap, dan bertindak, kita tentu harus bertanggungjawab dengan perbuatan kita. Oleh karena itu, kita harus benar-benar memikirkan dengan matang, mengucapkan dengan benar, dan melakukan dengan integritas setiap hal-hal baik dan membangun yang ingin kita baktikan untuk bangsa dan negara kita. Pikiran, ucapan, dan tindakan ini harus dapat melegakan, membawa angin segar bagi masyarakat kita.

Sayangnya, dalam beberapa kali kesempatan menunjukkan perannya sebagai aktor pembangunan, para pemuda malah tidak menampilkan peranan yang sesuai dengan harapan masyarakat. Pikiran, ucapan, dan tindakan kita justru menghasilkan kekecewaan dan kekesalan dari masyarakat kita. Kita malahan ngotot dengan pikiran, ucapan, dan tindakan kita seakan apa yang kita lakukan adalah hal yang paling benar. Masyarakat yang kita bela justru berbalik menentang kita.

Ketimbang berpikir solusi apa yang bisa kita lakukan untuk menjawab suatu permasalahan, kita justru berpikir bahwa pemerintahan saat ini sudah tidak mampu mengemban tanggung jawabnya. Padahal kita seharusnya juga bisa berpikir, berbagai macam persoalan bangsa tidak mungkin tuntas diselesaikan dalam waktu beberapa bulan saja.

Daripada mengucapkan hal-hal positif yang dapat menginspirasi dan membangkitkan semangat, kita justru mengucapkan hal-hal yang salah bahkan menyesatkan. Padahal sebagai generasi muda yang sudah menjalani pendidikan yang baik, kita tahu bahwa sebelum mengucapkan suatu fakta, kita harus memiliki dasar argumen yang kuat, yang juga memiliki data yang valid dan sesuai realita.

Bahkan kita juga bertindak salah dengan memprovokasi teman-teman ataupun masyarakat kita seakan apa yang kita pikirkan dan ucapkan adalah hal yang paling benar. Padahal yang lebih utama adalah bagaimana bertindak bersama melepas setiap tali permasalahan kebodohan, kemiskinan, korupsi, dan ketidakadilan yang mengikat masyarakat kita. Dan tindakan yang solutif tentu tidak cukup hanya kegiatan setengah hari di tengah jalan, melainkan tindakan yang harus langsung ke tengah masyarakat dan berkesinambungan sehingga secara perlahan tali yang mengikat dapat kita putuskan satu persatu.

Kebangkitan harus dibangun semangat optimis menjadi aktor pembangunan yang berpikir, berucap, dan bertindak positif. Sehingga ke depannya, bapak-ibu kita tidak lagi mengeluh melihat kaum muda yang kebangetan. Melainkan kagum dan terharu, melihat aksi para generasi muda yang membawa jiwa kebangkitan, memberi harapan bagi masa depan bangsa yang cerah dan gemilang. Mari kita bangkit dan sebarkan semangat optimis!

SHARE
Previous articleIndonesia Butuh Kita Semua Bangkit
Next articleTidak Surut Walau Sulit
Sahat Martin Philip SInurat
Penulis lahir pada tanggal 1 Maret 1989 di Pekanbaru. Lulus dari jurusan Teknik Geodesi ITB dan saat ini melayani di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia sambil berwirausaha. Motto hidupnya, “Kapal itu aman di pelabuhan, tapi bukan untuk itu tujuan kapal diciptakan.”