Karena Perbedaan Itu Unik

Karena Perbedaan Itu Unik

1193
0
8 Flares Twitter 0 Facebook 8 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 8 Flares ×

Namaku Denny Martin Longgam Hutasoit, berstatus sebagai mahasiswa di Bandung. Perbedaan suku, agama, dan ras yang ada di Indonesia telah memberikan inspirasi untuk membuat sebuah karya yang mengedepankan perbedaan unik di Indonesia.

Keluargaku berasal dari Medan-Sumatera Utara, yang menjadi kampung halaman bagi suku keluargaku, yaitu orang Batak. Ayahku bekerja sebagai pegawai negeri sipil, yang tentunya sering berpindah-pindah tempat kerja. Beberapa kota di Sumatera Utara seperti Sibolga dan Balige menjadi tempat persinggahan ayah setelah berdomisili di Medan. Beranjak dari Sumatera Uara, ayah lalu berpindah lagi ke Pekanbaru, Kupang, Banjarmasin, dan akhirnya saat ini ditempatkan di Meulabouh, Provinsi Aceh.

Dari tempat-tempat yang pernah kukunjungi, banyak hal baru dan unik yang dapat dipelajari. Hal-hal tersebut semakin membuka mata dan cakwala berpikir tentang kekayaan budaya dan tradisi yang dimiliki setiap daerah yang ada di Indonesia.

Misalnya saja, setiap tempat tentu memiliki ciri khas masing-masing dalam urusan makanan, pakaian tradisional, dan adat istiadat setempat. Tak hanya itu, mereka juga memiliki cara berpikir dan paradigma tersendiri, yang biasanya merupakan ajaran turun temurun dari nenek moyang.

Perbedaan yang ada di Indonesia pernah saya coba terapkan ketika mengikuti kompetisi peradilan semu tingkat nasional Universitas Negeri Semarang. Saat itu, tim kami menggunakan berbagai logat dan bahasa daerah yang ada di Indonesia.

Contohnya ketika seorang saksi memberikan keterangannya, dia menggunakan logat dan bahasa suku asli Sumatera Utara yang cenderung keras dan lantang dengan pelafalannya yang unik. Sementara itu, hakim di tim kami menggunakan bahasa dan logat suku Jawa. Alasannya, karena kompetisi tersebut ada di Universitas Negeri Semarang yang mayoritas penduduknya adalah suku Jawa, kami beradaptasi dengan adat dan budaya setempat.

Berkas-berkas yang kami kerjakan untuk kompetisi tersebut juga dituliskan dengan berbagai agama. Mulai dari agama Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha. Keberagaman agama ini jelas terlihat ketika saksi mengucapkan sumpah sesuai dengan agamanya. Contohnya agama Hindu, ketika pengambilan sumpah, mereka harus membakar sebuah lidi dan bersumpah menurut bahasa yang diajarkan agamanya.

Dari pengalaman ini, aku ingin menyampaikan bahwa keragaman suku, agama, dan ras dari seluruh penduduk Indonesia merupakan sebuah kekayaan yang tidak dapat dimiliki oleh bangsa lain. Perbedaan bukan merupakan sebuah tembok pemisah, melainkan dapat menyatukan dan melengkapi masyarakat Indonesia.

Maka dari itu, aku ingin mengajak para pembaca untuk membangun kembali semangat persatuan dan kesatuan. Perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia dapat menjadi potensi dan kekuatan yang membuat Indonesia bangkit menjadi bangsa yang besar dan lebih kuat.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei dapat menjadi wadah untuk merenung dan merefleksikan kembali semangat dan tekad pendahulu kita. Yang terutama, kita bisa menerapkan kebersamaan dan perbedaan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya dengan menghargai dan menghormati pendapat orang lain.

Sebagai mahasiswa, kita dituntut untuk kritis dan solutif agar bisa kembali membangkitkan Indonesia sebagai macan Asia. Masalah utamanya adalah rasa perbedaan agama, ras, dan suku yang ada di dalam diri kita yang bisa menghambat kita untuk berkreasi sepenuhnya, dan kita harus menghilangkan perasaan itu demi kebangkitan Indonesia.

Lalu, apa yang dapat kita perbuat bagi Ibu Pertiwi? Salah satunya melalui penerapan ilmu—baik akademik maupun non-akademik, yang kita pelajari di bangku pendidikan sesuai dengan keahlian kita masing-masing. Tentunya, dengan semangat kesatuan dan persatuan  dalam diri kita yang menjadikan semua perbedaan itu menjadi kekuatan bersama.

SHARE
Previous articleTidak Abai Terhadap Penderitaan Rakyat
Next articleBangkit Dengan Teknologi
Denny Martin Longgam Hutasoit
Denny Martin Longgam Hutasoit lahir di Medan,10 September 1993. Saat ini sedang menempuh pendidikan jurusan Hukum di Sekolah Tinggi Hukum Bandung. Hobby futsal dan bulutangkis.