Kapal Belajar untuk Anak Pinggiran Danau

Kapal Belajar untuk Anak Pinggiran Danau

981
0
791 Flares Twitter 0 Facebook 791 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 791 Flares ×

Kesuksesan dan kemapanan adalah mimpi hampir semua orang Indonesia. Kita ingin diri kita ataupun keluarga kita dapat hidup berkecukupan. Kita kemudian mencarinya kemana-mana, bahkan hingga pergi meninggalkan daerah asal kita. Kita merantau hingga ke kota-kota besar untuk menemukan kebahagiaan dan kesejahteraan.

bang toguNamun, berbeda dengan orang kebanyakan, Togu Simorangkir justru memilih kembali ke kampung halamannya. Ketimbang mencari kesuksesan dan kemapanan di balik gedung-gedung perkotaan, beliau justru melihat kebahagiaan sejati dapat ditemukan di pinggiran danau di kampung halamannya.

Bersama rekan-rekannya, Togu Simorangkir merintis Sopo Belajar Lontung, sebuah perpustakaan dan tempat belajar sederhana dan swadaya yang dibangun di sebuah desa di Pulau Samosir. Mereka juga melakukan berbagai aktivitas sosial, yang sebagian besar ditujukan untuk meningkatkan pendidikan dan minat baca anak-anak yang tinggal di pinggiran Danau Toba.

Berikut adalah wawancara yang dilakukan FOKAL.info saat berkunjung ke rumah beliau di daerah Pematangsiantar beberapa minggu yang lalu:

FOKAL: Tahun berapa mulai membuat Sopo Belajar Lontung? Kenapa abang terpikir untuk membangun sopo belajar ini?

Bang Togu: Kami memulai kegiatan kami tanggal 21 April, tahun 2010 yang lampau. Sopo yang pertama kami dirikan di Lontung. Aku tidak mau anak-anak itu menjadi bodoh dan tertinggal. Aku tidak suka membaca. Aku ingin mereka suka membaca.

FOKAL: Apa saja kegiatan yang dilakukan di sopo ini?

Bang Togu: Anak-anak ini sebenarnya adalah pekerja anak. Mereka bersekolah dan juga pergi ke ladang. Kebanyakan anak-anak di desa seperti itu. Namun sekarang di Pangunguran sudah ada warnet. Sepulang sekolah anak-anak justru bermain di warnet. Tapi kalau di Lontung belum ada internet. Akses telepon susah, jaringan juga sulit.

FOKAL: Sudah berapa tahun abang melakukan kegiatan di Samosir?

Bang Togu: Sebenarnya Sopo Belajar Lontung yang pertama kali didirikan. Waktu aku masih di Kalimantan, aku memutuskan untuk mencukupkan diri berbuat di Kalimantan. Aku ingin kembali ke kampung dan berbuat di sana, dan yang utama, aku ingin dekat dan menemani mama aku. Waktu itu aku sering membaca di facebook. Satu orang ibu bisa merawat sepuluh orang anak, namun sepuluh orang anak belum tentu bisa merawat satu orang ibu. Aku memutuskan untuk meninggalkan zona nyaman aku, pulang ke kampung, ingin berbuat di kampung.

Karena dari dulu sudah sering berkegiatan di sosial, di LSM, jadi saat di kampung aku juga mulai terlibat dalam kegiatan sosial dengan teman-teman yang lain. Awalnya nongkrong-nongkrong saja, kemudian timbul keinginan untuk berbuat.

Kenapa aku memilih Samosir? Karena daerah itu jauh dan dalam bentuk pulau. Akses transportasi kesana sulit, begitu juga dengan akses informasi. Sebagai contoh, dari daerah Tomok ke Sopo Belajar Lotung butuh waktu 50 menit, padahal jaraknya hanya 9 kilometer saja. Jalan disana sangat tidak layak.

FOKAL: Saat ini di Sopo Belajar Lontung ada buku apa saja?

Bang Togu: Awalnya tahun 2010 hanya ada 727 buku, kebanyakan Buku Donald Bebek. Di awal tujuan kami adalah meningkatkan suka baca anak-anak. Seiring berjalannya waktu, buku pun bertambah dan bertambah. Banyak orang yang berpartisipasi, seperti Asian Foundation dan Kick Andy Foundation. Tidak tahu darimana mereka dapat informasi. Mereka mengirim banyak buku bagus. Sekarang anak-anak ketagihan baca buku ensiklopedia. Aku bingung cari bukunya darimana. Anak-anak sekarang sukanya buku pengetahuan. Memang ada jenjang membaca. Mulai dari PAUD, SD dan seterusnya, levelnya berbeda dan meningkat. Kami membuat database. Setiap hari kami mendata buku apa saja yang  dibaca setiap anak.

FOKAL: Kami mendengar tentang kapal belajar dan tantangan berenang sejauh 18 kilometer melintasi Danau Toba. Bisa abang ceritakan?

Bang Togu: Haha. Tujuan berenang itu untuk mengecilkan perut tapi hanya berhasil turun 4 kilogram.

Ya, sebenarnya Kapal Belajar ini adalah sebuah gerakan untuk membuka mata hati orang Indonesia bahwa anak-anak di pinggiran danau juga butuh buku bacaan berkualitas. Selama ini ada saja yang bicara sinis. Seorang Togu Simorangkir dengan yayasannya Alusi Toba justru menjual kemiskinan.

Kita tidak menjual kemiskinan. Tujuan kita adalah anak-anak di pinggiran Danau Toba harus diberi kesempatan untuk mendapat buku bacaan. Yang memotivasi aku karena aku tidak suka membaca. Kalau aku suka membaca, mungkin kita tidak bertemu disini. Pasti aku sudah kemana-mana. Haha.

FOKAL: Apakah Kapal Belajarnya sudah ada atau masih dalam proses pembuatan?

Bang Togu: H-3 sebelum kegiatan berenang berbagi, aku berdoa pada Tuhan. Sampai H-5 sebelum aku masuk kamp persiapan, total sumbangan sudah 73 juta rupiah. Aku berdoa agar kegiatan ini bisa mendapatkan 100 juta di tanggal 2 nanti. Itu saja aku sudah sangat bersyukur. Kita nanti bisa mulai membangun kapal dengan cara backpacker.

Tiba-tiba, saat H-1 sebelum kegiatan, ada orang yang datang dan menyumbangkan kapal seharga 800juta rupiah. Aku tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Padahal dua hari sebelumnya, aku sudah mengobrol dengan pembuat kapal, tentang cara membuat kapal. Apa kayu yang digunakan? Kalau membuat kapal berapa lama waktunya. Bahkan kami sudah sepakat untuk membuat kapal. Rencananya dengan kayu damar laut yang paling bagus. Aku akan mencari kayu ke Sibolga. Tapi harus ada modal 300 juta, dana belum cukup. Sudah ada beberapa orang yang berjanji akan mengirim dana, tapi aku hitung, 300 juta tetap belum cukup.

Tidak disangka, H-1 benar-benar ada datang kapal dengan kayu damar laut. Datang. Sangat besar. Tuhan bekerja dengan cara yang tidak bisa kita jangkau dengan pikiran kita. Itu yang membuat seketika aku tidak bisa ngomong, hanya bisa menangis. Terserah orang mengatakan aku mellow atau apa. Ini benar-benar tidak disangka-sangka.

Apa yang kulakukan ini bukan untuk kepentingan aku. Sebenarnya secara materi aku rugi. Karena kelelahan berenang, aku sakit. Aku tidak bekerja, tidak jual air, maka menurun penjualan air. Secara materi aku rugi. Tapi secara kebahagiaan, perasaanku melesat luar biasa.

Syukurnya, ada dukungan dari istriku juga. Aku diizinkan bekerja yang tidak menghasilkan duit. Itu yang hebat dari istriku. Ini bentuk dukungannya. Walau tidak ada setoran ke istri, aku tetap diizinkan. Hebat itu. Bisa kena marah harusnya kalau tidak kerja berpenghasilan, tapi ini justru sebaliknya.

FOKAL: Setelah Kapal Belajar didapat, apa langkah selanjutnya?

Bang Togu: Juli ini kami akan launching Kapal Belajar ini. Kapal ini akan membawa buku-buku berkualitas di dalamnya. Agustus ini rencananya akan ada lomba pidato Bahasa Jerman di atas kapal.

Kapal ini akan mendatangi desa-desa di pinggiran danau. Live in 3 hari di desa, selanjutnya pindah ke desa lainnya. Harapannya desa yang sudah dikunjungi punya keinginan untuk membangun sopo belajar. Kita encourage mereka untuk membangun sopo belajar, mereka menyediakan tempat dan orang. Kita akan cari bukunya sama-sama.

Tahun 2012 lalu kita menggalang dana dengan berenang berbagi. Waktu itu kita mendapat bantuan sebesar 64juta. Namun kita baru bisa eksekusi 1 tahun 2 bulan kemudian. Karena apa? Karena ada tujuh desa menolak. Mereka heran aku datang naik motor dari Siantar dan menawarkan apakah mereka tertarik membuka perpustakaan. Orang desa curiga semuanya. Ada yang bilang ini mau jadi bupati Samosir. Berbuat baik itu ternyata belum tentu benar bagi orang lain.

Kita berpikir, kita harus buat strategi baru. Kita pikir harus ada kapal yang dapat menjangkau anak-anak lebih banyak lagi. Agar masyarakat desa yakin. Jadi kapal ini seperti striker dalam permainan bola.

FOKAL: Bagaimana abang mengajak keterlibatan orang-orang?

Bang Togu: Aku tidak ada mengajak apa-apa. Aku tipe orang yang berbagi. Aku lebih kepada berbagi cerita. Ketika orang mau bantu, puji syukur. Kalau mereka tidak mau membantu, itu hak mereka karena kita sudah membuka pintu kebaikan untuk berbuat baik bagi sesama.

Aku tidak pernah berharap ini atau itu. Aku hanya berbagi cerita. Jadi nothing to lose. Aku tidak pernah kecewa. Karena aku tidak berharap banyak. Selama ini sudah banyak yang sering berjanji. Sangat-sangat banyak. Bahkan beberapa kali, ada orang-orang yang langsung berjanji ke depan anak-anak. Dan aku merasa bersalah kalau janji mereka itu tidak mereka penuhi. Jadi sekarang kalau ada yang janji, ya kita tunggu sajalah. Jadi aku tidak pernah berharap banyak.

Rencananya, 26 September ini akan ada bersepeda berbagi. Syarat untuk ikut, membawa tiket yaitu membawa lima buku ensiklopedia. Jadi kita akan menggalang buku. Relawan-relawan yang akan mengerjakan. Nama kami adalah relawan baling karena hanya orang baling yang bisa menyadarkan orang waras. Haha. Kalau tidak baling kita akan ikut arus. Hidup itu harus berbagi. Hidup itu harus seperti ikan nila, melawan arus. 

SHARE
Previous articleAyo Bikin ‘Rame’ Sama-Sama
Next articleTerima Kasih Bu Susi!
Sahat Martin Philip SInurat
Penulis lahir pada tanggal 1 Maret 1989 di Pekanbaru. Lulus dari jurusan Teknik Geodesi ITB dan saat ini melayani di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia sambil berwirausaha. Motto hidupnya, “Kapal itu aman di pelabuhan, tapi bukan untuk itu tujuan kapal diciptakan.”