Indonesia Butuh Kita Semua Bangkit

Indonesia Butuh Kita Semua Bangkit

819
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Seabad lebih sudah Nusantara menjadi saksi berdirinya Boedi Oetomo, sebuah organisasi yang menjadi perintis nasionalisme Indonesia sekaligus pemantik kemerdekaan republik ini. Kelahiran Boedi Oetomo di tanggal 20 Mei 1908, memang sebuah momen yang sangat bersejarah.

Bisa jadi, tanpa Boedi Oetomo, tak akan ada Sumpah Pemuda, tak akan ada perjuangan makin keras melawan Belanda, dan tak akan ada kemerdekaan. Tak heran, kelahirannya ini menjadi peringatan Hari Kebangkitan Nasional setiap tahunnya.

Kisah heroiknya pendiri Boedi Oetomo memang patut dibanggakan. Soetomo dan rekan-rekannya sesama dokter lulusan STOVIA berani mendobrak kekakuan priyayi di Pulau Jawa, dan berani menantang pemerintah kolonial—yang artinya sama saja membiarkan leher ditebas secara gratis.

Cerita heroik Soetomo dan rekan seperjuangannya memang menghibur pikiran dan hati, di tengah buruknya berita Indonesia belakangan. Hanya saja, jangan sampai heroisme mereka berhenti menjadi sekedar romantisme masa lalu.

Perjalanan Boedi Oetomo sebenarnya menawarkan nilai-nilai, yang sejatinya tidak pernah lekang oleh waktu. Kebersamaan, keberanian mendobrak status quo, nyali untuk membuat perubahan, dan tekad untuk mewujudkan Nusantara yang merdeka, hanyalah sedikit dari nilai-nilai yang mereka tawarkan.

Tentunya, nilai-nilai ini masih terus relevan, bahkan hingga era Twitter dan Facebook seperti sekarang ini. Kebersamaan, misalnya, adalah sebuah keharusan bagi bangsa ini. Pentolan-pentolan Boedi Oetomo juga sadar betul, mereka tidak bisa mengusir Belanda kalau mereka hanya bertarung sendirian. Mereka membutuhkan sikap kolektif dan kolaborasi antara satu anggota dengan anggota lain, agar tujuan mereka tercapai.

Di tengah derasnya hantaman apatisme dan keengganan untuk bergerak kolektif, kebersamaan menjadi hal yang niscaya jika Ibu Pertiwi mau bangkit dari keterpurukan. Ungkapan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” memang terdengar klise, namun merupakan fakta yang tak dapat dihindari. Karena itu, kesendirian, apatisme, dan individualisme memang seharusnya menjadi barang haram di tengah bangsa yang penuh tantangan ini.

Jawabannya bisa beragam. Membentuk organisasi adalah salah satunya, seperti yang dilakukan oleh Soetomo lebih dari 100 tahun yang lalu. Tapi, dengan berkembangnya zaman, tak hanya hal ini yang bisa anak muda lakukan. Bergerak bersama melalui media sosial, pembuatan petisi, penyebaran ide dan visi, mengajar, adalah beberapa sarana bagi anak muda untuk berkolaborasi bersama dan mengubah bangsa ini.

Tak berhenti sampai di sana, kebersamaan dan kolektivitas yang dibangun, tentunya harus diiringi dengan sebuah visi. Tanpa hal ini, gerakan kolektif hanya akan menjadi ribut-ribut seremoni belaka, yang tidak memiliki dampak dan hilang ditelan waktu. Visi ini menjadi sebuah arahan agar gerakan itu bisa terus memiliki ‘bensin’.

Tentunya, visi yang dibangun tidak bisa sembarangan. Visi harus mampu menjawab tantangan, mendobrak status quo dan kemapanan, dan juga menawarkan perubahan. Jika tidak, maka dia hanyalah sekedar janji manis di bibir saja.

Harus diakui, memang, visi seperti ini akan membuat gerah sebagian orang, seperti yang dialami oleh Soetomo ketika dikritik oleh rekannya sesama priyayi—yang lebih memilih status quo. Perubahan memang tidak enak, bagi sebagian yang sudah terlanjur berada di zona nyaman. Kalaupun tidak membuat gerah, orang-orang di sekitar kita biasanya akan bertanya, “Memang untungnya apa sih ngerjain kaya gitu?”

Ketika kondisi seperti itu muncul, dan kita mulai tergoda untuk menyerah, perjuangan Boedi Oetomo harus menjadi sebuah tamparan. Nyawa dan karir dokter-dokter lulusan STOVIA yang tergabung dalam Boedi Oetomo adalah taruhannya. Lantas, ketika kita hanya sekedar bertaruh dengan berkurangnya waktu bergaul dan menipisnya tenaga, apakah kita mau begitu saja menyerah?

Republik ini butuh anak muda yang rela mengorbankan waktunya demi sebuah visi. Republik ini butuh anak muda yang berani menawarkan perubahan meski diganggu oleh dicaci oleh saudara sendiri. Republik ini butuh anak muda yang tebal kuping ketika rekannya tak henti mencaci. Republik ini butuh kita semua untuk bangkit.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional!

SHARE
Previous articleBangkit Dengan Teknologi
Next articleKebangkitan Bukan Kebangetan
Pirhot Nababan
Alumnus Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, kelahiran Bandung 20 Oktober 1985. Sempat menyicipi dunia aktivisme mahasiswa dengan menjadi Ketua Bidang I GMKI Bandung, dan Kepala Departemen Infokom BEM FH Unpad. Mengambil program kekhususan hukum internasional, namun lebih memilih untuk bergelut di bidang jurnalistik sejak di bangku kuliah. Sempat merasakan kerasnya dunia jurnalistik di KOMPAS.com saat berstatus mahasiswa, dan selepas menggenggam gelar sarjana hukum langsung bergabung dengan Hukumonline.com, media online yang fokus di bidang hukum. Di awal tahun 2014 berhasil menyelesaikan studi magister konsentrasi hukum ekonomi dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, sambil tetap mengisi waktu senggang dengan gitar klasik, buku, film, dan Rubik’s Cube.