Beri Aku Sepuluh Blogger

Beri Aku Sepuluh Blogger

810
0
40 Flares Twitter 0 Facebook 40 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 40 Flares ×

Banyak orang tahu dr. Soetomo  salah satu pendiri organisasi pemuda Boedi Oetomo yang hari didirikannya diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Organisasi ini dikatakan berpengaruh pada pergerakan nasional Indonesia pada zamannya. Tapi apakah banyak orang yang tahu  pada masa itu juga hidup seorang pemuda di sudut lain dari pulau Jawa yang sama semangatnya dengan dr. Soetomo untuk melihat bangsa ini berlari ke arah yang lebih baik?

Beliau adalah Agus Soewarno. Ada hal yang membedakannya dengan dr. Soetomo. Mengapa dr. Soetomo memiliki kesempatan untuk mendirikan Boedi Oetomo dan terus dikenal sampai sekarang sebagai tokoh Kebangkitan Nasional, sedangkan tidak ada yang mengenal Agus Soewarno padahal api semangat yang ada dalam diri mereka sama besarnya?

(Pasti sekarang kamu bingung kenapa saya mengetahui tentang keberadaan Agus Soewarno).

Oke teman-teman… Saya mengarang nama di atas, saya minta maaf.

Saya mengarang nama di atas karena besar kemungkinan banyak “Agus Soewarno” dalam nama-nama yang berbeda yang memiliki semangat dan harapan sama seperti dr. Soetomo, tapi tidak pernah memiliki kesempatan untuk berdampak seperti dr. Soetomo.

dr. Soetomo mendirikan Boedi Oetomo bersama dengan dr. Mangunkusumo dan rekan-rekan mahasiswa STOVIA lainnya. Cita-cita mereka sama, dan mereka memiliki satu sama lain untuk bersama-sama mengerjakan cita-cita tersebut.

Relasi yang dimiliki oleh dr. Soetomo menyebabkannya dapat ambil bagian mendirikan Boedi Oetomo, dan akhirnya organisasi ini mampu memberi dampak bagi Indonesia. Pemuda yang memiliki semangat adalah satu hal, tapi pemuda yang memiliki rekan dan teman yang mempunyai semangat yang sama adalah hal yang lebih baik. Bersama dengan dr. Soetomo, rekan-rekan yang dimiliki dr. Soetomo membantunya berjalan lebih jauh dalam pemenuhan cita-cita dr. Soetomo.

Saya pernah membaca sebuah artikel yang berkata bahwa yang dapat membuat orang kaya menjadi semakin kaya dan orang miskin menjadi semakin miskin adalah orang-orang yang berada dalam hidup mereka. Seorang yang kaya memiliki akses pada orang-orang yang berada di atas, pebisnis dengan cara pikir yang hebat, orang-orang yang berpengaruh, dan juga mereka yang berhasil merintis jalan mereka dari bawah dan menjadi berkelimpahan. Semua yang saya sebutkan tersebut tentulah punya cara pikir yang dapat ditularkan pada si orang kaya tersebut. 5 menit saja mengobrol dengan mereka, ada pola pikir yang baik yang dapat ‘dicuri’ dan diterapkan.

Bayangkan orang miskin yang ada di pinggir jalan, mereka tidak punya orang yang bisa menularkan cara pikir hebat itu pada mereka, walaupun mungkin sebenarnya orang miskin ini pintar dan awalnya memiliki semangat. Karena faktor lingkungan sekitar tidak mendukung, api yang ada dalam orang tersebut padam sehingga mereka tidak bisa mewujudkan mimpi besar tersebut.

Inilah kenapa orang kaya bisa semakin kaya, dan orang miskin bisa semakin miskin. Lalu, apakah harus kaya dulu untuk bisa memiliki relasi yang konstruktif seperti itu?

Kita bisa menciptakan peluang bagi diri kita sendiri!

Caranya adalah membiarkan dirimu ditemukan. Ciptakanlah kesempatan agar pemuda-pemuda di luar sana, yang memiliki api kerinduan yang sama denganmu, dapat menemukanmu. Untuk apa? Untuk kalian bersama-sama mengambil langkah baru dalam pemenuhan cita-cita tersebut.

“It sounds a little extreme, but in this day and age, if your work isn’t online, it doesn’t exist.” – Austin Kleon

Kamu punya ide project social tapi kamu butuh orang lain untuk mewujudkannya? Bagikan kerinduan itu, kamu bisa mulai dari teman-temanmu. Kamu ingin membangun sekolah yang tidak mengajarkan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah zaman sekarang? Bagikan mimpimu dan undang orang lain untuk sama-sama menwujudkan mimpi itu. Orang yang memiliki cita-cita yang sama akan dengan mudah menangkap semangat yang ada padamu.

Berbagilah lewat media sosial, blog, dan masih banyak media lain yang bisa kamu gunakan. Puji Tuhan saya adalah saksi hidup bahwa berbagi minat, kerinduan, dan cita-cita adalah langkah awal yang dapat membawa saya semakin dekat dengan garis finish.

Agustus 2013 lalu, saya memberanikan diri membuat blog dan mulai membagikan tulisan saya di halaman Facebook. Saya punya intensi tersendiri mengapa memilih menulis di blog. Saya selalu ingat bagaimana ketika saya putus asa dan kebingungan di kamar kosan, ada masa dimana saya menemukan tulisan-tulisan yang sangat membantu di internet. God bless those bloggers/writers! Saya putuskan saya juga mau menulis online, karena pasti selalu ada gadis muda yang bisa ditolong.

Di zaman ini, tidaklah sulit menemukan relasi yang tepat untuk sama-sama mengerjakan cita-cita yang dimiliki. Saya mulai melihat bahwa keberanian saya membagikan tulisan di Facebook tidak sia-sia. Beberapa teman merespon dan akhirnya saya mengetahui siapa saja orang di sekeliling saya yang memiliki ketertarikan pada tujuan yang saya kerjakan melalui media tulisan. Awalnya saya tidak tahu karena mereka tidak pernah membagikan/menceritakan hal tersebut.

Kita hidup di masa dimana upaya kolaborasi antar pemuda seharusnya dapat dengan mudah dilakukan. Generasi kita semestinya menjadi yang paling kolaboratif dari generasi-generasi sebelumnya, karena kita memiliki semua kemudahan yang tidak ada pada generasi pendahulu kita.

Namun di zaman ini, hal yang kita pikir positif ternyata dapat berakibat negatif. Kenyamanan justru dapat memadamkan api yang baru mulai menyala. Yap, dengan semua kemudahan dan akses yang ada, generasi ini justru menjadi terlalu nyaman untuk berbuat sesuatu dan mendobrak status quo.

Banyak pemuda berpikir, “begini saja tidak apa-apa”. Mereka yang sudah puas dan menganggap bahwa kondisi ini “baik-baik saja, dan tidak perlu perubahan” akan berakhir tidak melakukan apa-apa.

Kita tidak bisa berharap banyak pada generasi yang sudah merasa puas dan nyaman.

Tindakan membagikan tulisan di halaman Facebook benar-benar bukanlah sesuatu yang saya nyaman lakukan. Pertama, tidak ada teman saya yang melakukan itu. Kedua, saya malu jika orang membaca tulisan saya. Tapi yang selalu menjadi doa saya setiap kali saya menerbitkan blogpost baru adalah, “May the right person read the right post at the right time.” Akan sangat sedih bagi saya jika ada orang yang sedang membutuhkan dan mencari jawabannya di internet (sama seperti yang pernah saya lakukan dulu), lalu tidak menemukan konten tulisan yang dia butuhkan.

Bayangkan saja di zaman sekarang, anak muda yang tidak dekat dengan orang-tuanya, atau tidak punya untuk mendengarkan ceritanya, akan lari ke Google untuk mencari jawaban dari pertanyaannya. Bila tidak ada konten yang benar di internet, maka konten yang salah akan ambil alih. Mengingat hal itu, saya beranikan menyentuh tombol “post”.

Hasilnya tidak kelihatan secara instan. Namun, ketika saya mulai konsisten membagikan konten di blog, barulah saya melihat blog saya sudah memiliki beberapa pembaca setia yang berasal dari lingkaran persahabatan di Facebook.

Setelah setahun, saya mulai mendapat respon dari wanita-wanita muda pembaca blog saya yang belum pernah saya kenal. Banyak yang sampai ke blog karena ketidaksengajaan saat sedang browsing di internet. Kebanyakan dari mereka mahasiswi-mahasiswi, ada yang berasal dari Palu, Cilegon, Medan, Banjarmasin, tempat-tempat jauh yang belum pernah saya kunjungi. Betapa beryukurnya saya!

Seperti yang saya rencanakan, oleh karena kasih karunia Tuhan, tulisan di blog saya sedikit demi sedikit menyalakan lilin-lilin di hati para pembaca. Saya merasa bersukacita karenanya, benar sekali bahwa cukuplah kita mengutuki kegelapan dan mulai menyalakan lilin demi lilin.

Ketika saya memandang pada keadaan Indonesia sekarang, saya stress dan merasa mustahil bangsa ini pulih dan bersih dari segala kebodohan dan korupsi. Tapi yang selalu saya percaya, “You touch the kids, you touch the future.” Kalau mau membangun masa depan bangsa Indonesia sejak sekarang, investastilah pada generasi mudanya sejak sekarang.

Kita butuh menyalakan lebih banyak sumbu pudar, agar sumbu itu dapat menjadi lilin dan menyalakan sumbu-sumbu pudar lainnya.

Diri saya di masa lalu adalah sumbu pudar yang turut dinyalakan oleh api yang berada dalam tulisan wanita-wanita yang saya baca. Sumbu yang bangkit itu menemukan keberaniannya untuk ikut menyalakan lilin-lilin di tempat lain. Kamu juga bisa.

Alasan kenapa kejahatan berkembang dengan sangat cepat bukan karena tidak ada lagi kebaikan di atas bumi, tapi karena kebaikan tidak berbuat apa-apa.

Beri aku 10 blogger yang punya kerinduan yang sama untuk anak-anak muda, yang mau mengajar anak muda lainnya untuk menulis, dan kami akan mengubah dunia (minimal dunia di sekitar kami).

Ini masih awalnya.

Tidak cukup untuk mengawali dengan baik, kita juga perlu untuk mengahiri dengan baik.

SHARE
Previous articleBangkit Dengan Integritas
Next articleAyo Bikin ‘Rame’ Sama-Sama
Sandra Cory Clarisa Tarigan
Sandra Cory Clarisa Tarigan bekerja sebagai Management Trainee di SC Johnson. Suka membaca dan menulis. Blog: https://candleskoy.wordpress.com/.