Ayo Bikin ‘Rame’ Sama-Sama

Ayo Bikin ‘Rame’ Sama-Sama

728
0
29 Flares Twitter 0 Facebook 29 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 29 Flares ×

Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” ujar Pram.

Pram Pramoedya telah menorehkan prestasi besar melalui mahakarya tetralogi Bumi Manusia, yang menggambarkan kehidupan pribumi kala itu. Jika Pram menulis untuk keabadian, dr. Soetomo menulis dengan semangat dan melahirkan mahakarya sendiri, Boedi Oetomo.

Boedi Oetomo digagas dr. Soetomo dan delapan pelajar STOVIA lainnya pada 20 Mei 1908. Awalnya, Boedi Oetomo bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan budaya, namun belakangan mereka juga terlibat di bidang politik. Pembentukan organisasi ini menjadi langkah awal kesadaran etnonasionalisme, yang kemudian berkembang menjadi nasionalisme untuk mewujudkan kemerdekaan.

Organisasi ini menjadi wadah bagi orang yang kritis, berjiwa nasionalis, dan memiliki semangat yang tak pernah padam. Padahal, kedua pendiri Boedi Oetomo tidak memiliki latar belakang politik. Mereka justru berprofesi sebagai dokter, yang dijalaninya hingga akhir hayat mereka.

Sama seperti Pram, kedua tokoh pendiri Boedi Oetomo ini juga gandrung menulis. Bedanya, apabila Pram berada di jalur narasi dan fiksi, anggota Boedi Oetomo justru banyak menelurkan tulisan mengenai semangat akan kerinduan untuk mencerdaskan bangsa dan kemerdekaan.

Anggota-anggota pentolan Boedi Oetomo memang akhirnya berpisah jalan. Soetomo, misalnya, setelah lulus dari STOVIA ia sempat ke Belanda dan kembali ke Indonesia untuk membentuk Parindra. Ia kemudian aktif menulis untuk surat kabar Goeroe Desa.

Sementara itu, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo keluar dari Boedi Oetomo dan bergabung dengan Indishje Partij. Bersama Douwes Dekker, Mohammad Hatta, dan Suwardi Suryadiningrat, Tjipto berhasil membakar bara semangat pemuda-pemuda Indonesia dalam Perhimpunan Indonesia. Sepulangnya ke Indonesia, Tjipto bergabung dengan Volksraad, dan kemudian diasingkan ke berbagai tempat, hingga akhirnya ke Bandung tempat ia bertemu dengan Soekarno.

Jalan hidup mereka menunjukkan bahwa mereka memiliki cita-cita yang sama, tetapi memilih jalan yang berbeda. Soetomo lebih mengutamakan pendidikan dan kebudayaan sedangkan Tjipto yang lebih bergerak di bidang politik. Namun, di balik itu mereka memiliki kesamaan dasar berjuang yakni semangat nasionalisme.

Mereka senang menulis, senang berdiskusi, dan senang membaca. Soetomo menulis untuk Goeroe Desa, sementara Tjipto menulis bersama Douwes Dekker melalui De Express. Keduanya lahir pada masa berlakunya Agrarische Wet, sehingga mereka benar-benar melihat bagaimana penderitaan rakyat.

Jika ditelisik kembali, masa ketika dua tokoh ini sungguh jauh lebih sulit dibanding sekarang. Kemerdekaan masih jauh dari genggaman, pribumi masih direndahkan, dan semangat rakyat masih butuh dikobarkan.

Sayangnya, ketika saat ini berbagai kemudahan tersedia, semangat untuk kebangkitan nasional justru tidak tumbuh dan sekedar seremoni saja. Generasi muda, khususnya mahasiswa, seakan lupa akan makna kebangkitan nasional. Padahal kita bisa mencontoh para pendahulu, memberikan dedikasi untuk negara, bukan hanya opini belaka.

Soekarno pernah berkata, “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Bagaimana jika pemuda yang diberikan, kualitasnya sama dengan Soetomo atau Tjipto? Mungkin benar mereka akan menguncang Indonesia, bahkan dunia sekalipun.

Namun, jika Soekarno diberikan pemuda dari generasi saat ini, apakah ada kemungkinan para pemuda kita saat ini mengguncang dunia?

Saat ini Indonesia membutuhkan beribu-ribu orang layaknya Soetomo dan Tjipto. Untuk membenahi bangsa ini, dibutuhkan lebih banyak lagi; lebih banyak perhatian, pengorbanan, dan api semangat yang lebih membara.

Hari Kebangkitan Nasional harus diperingati untuk mengingatkan semangat yang mengalir dalam pejuang pemuda yang menggagas Boedi Oetomo. Mereka menulis, membaca, berdiskusi, memberikan manfaat, dan menginspirasi rakyat Indonesia.

Peringatan 107 Tahun Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momen bagi Indonesia untuk bangkit di segala aspek kehidupan, baik di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, dan teknologi. Indonesia harus bangkit, berjalan maju, menyongsong kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

SHARE
Previous articleBeri Aku Sepuluh Blogger
Next articleKapal Belajar untuk Anak Pinggiran Danau
Lukya Panggabean
Lukya Panggabean lahir di Aeknatolu, 28 Januari 1995. Saat ini sedang menempuh pendidikan jurusan Ilmu Jurnalistik di Universitas Padjadjaran.