Antivirus itu Bernama Pendidikan

Antivirus itu Bernama Pendidikan

685
0
61 Flares Twitter 0 Facebook 61 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 61 Flares ×

Games Online!

Hal yang menjadi musuh utama kaum penerus bangsa saat ini. Betapa tidak, di setiap kota, desa bahkan setiap lorong kini telah dijarah oleh dominasi permainan online. Point Blank, Counter Strike, Clash of Clans, mungkin hanya segelintir dari maraknya dominasi permainan online di zaman ini. Banyaknya kaum muda yang terkena virus ini seakan dimanfaatkan oleh para pelaku industri untuk dapat meraup untung sebanyak mungkin. Game versi desktop, console bahkan versi handheld pun disediakan demi memuluskan “cita-cita” perusahaan yakni meraup pendapatan sebanyak mungkin. Miris bukan?

Coba kita perhatikan, adakah warung internet di daerah kita? Pernahkah tempat itu seperti tak berpenghuni? Tidak pernah, bahkan warung internet telah menjadi “surga yang terlihat” bagi anak-anak di zaman ini. Inilah krisis yang bangsa kita sedang alami saat ini. Krisis nurani, karakter dan kepribadian mungkin bahasa yang tepat menggambarkan keadaan saat ini. Dengan hancurnya nurani, kepribadian dan karakter akan membuat bangsa ini tidak siap akan perubahan dan tantangan di setiap jamannya.

Jadi siapa yang salah? Siapakah yang benar? Dapatkah pihak industri Games menjadi pihak yang disalahkan? Atau dapatkah pemilik warung internet yang berusaha untuk mendapatkan pundi-pundi materinya dipersalahkan atas hal ini? Jawabnya, tidak!

Saat ini materi menjadi alasan dalam menjawab segala polemik yang sedang terjadi. Materi menjadi hal yang paling diburu saat ini. Di hidup modern seperti saat ini, segala sesuatu nyaris selalu dihubungkan dengan materi; sandang, pangan dan papan. Manusia tidak cuma-cuma mendapatkan berbagai materi ini. Dengan materi terkadang banyak hal dikorbankan, bahkan saudara sendiri, teman, juga orang lain, demi memuluskan jalan mendapat pundi-pundi materi.

Lalu ke mana perginya pahlawan kita, “hati nurani”? Bukankah setiap ada keputusan yang salah, pahlawan kita ini kerap memberi tanda, isyarat atau lainnya? Kemana juga perginya ‘pijakan’ kita, karakter dan kepribadian, yang menjadi pegangan dan dasar dalam segala tindakan kita?

Terkena Virus

Saat ini hati nurani, karakter, dan kepribadian seolah telah menjadi bisu akan segala hal yang terjadi. Seolah hanya melihat kilatan cahaya gelap di malam hari. Tetapi, bukankah nurani telah ‘diprogram’ untuk mengikuti perbuatan benar?

Mungkin dulu benar. Namun kini nurani seolah terkena virus yang mengacaukan segalanya.

Siapa yang rela melihat generasi bangsa hancur? Siapa yang rela melihat masa depan temannya hancur?

Jika hati nurani belum teracuni, tentu jawabnya adalah tidak ada, namun virus yang menghinggapi hati nurani kini telah berhasil menghancurkan kepribadian dan karakter bangsa kita. Padahal itulah bagian inti dari sebuah bangsa. Ibarat sebuah perangkat yang dijangkiti virus, bangsa ini kini tinggal menunggu waktu sampai sistemnya mati dimakan virus. Ketidaksiapan akan perubahan zaman dan tantangan di setiap zaman menjadi buktinya. Terbukti di tahun 2014, Indonesia ‘berhasil’ menjadikan dirinya sebagai target utama pemasaran permainan online. Sungguh pencapaian yang tak bisa dibanggakan. Jadi bagaimana bangsa ini dapat kembali pulih dan mendapatkan jiwanya kembali?

Sebarkan Antivirus

Pendidikan!

Pendidikan layaknya sebuah antivirus terbaik guna menghabisi virus-virus yang telah menghancurkan nurani, karakter dan kepribadian kaum muda bangsa kita. Dengan suntikan pendidikan karakter, moral dan kepribadian, lambat laun kaum muda kita akan kebal akan segala perubahan dan perkembangan zaman saat ini. Mengapa lambat laun? tidak bisakah secepatnya? Tidak, ‘antivirus’ ini tidak akan tercipta dengan cepat mengingat terbatasnya penyedia layanan ini.

Lho, bukankah sekolah kita banyak? Bukankah para pendidik kita banyak? Ya, mungkin sekolah kita memang banyak. Sayangnya, guru kita seolah kehilangan fungsi utamanya dalam melayani peserta didik. Kini pendidik telah berubah nama menjadi seorang pengajar, yang artinya mendidik bukan lagi tugas seorang guru. Jadi tugasnya apa? Saat ini banyak guru menganggap tugasnya hanya sebatas mengajar, yaitu menyampaikan materi lalu selesai. Ini ibarat mozilla firefox tanpa dilengkapi Adds on, atau seperti peramban pada desktop tanpa dilengkapi pemutar flash. Tidak lengkap dan membuat mutunya berkurang, bukan?

Inilah yang menyebabkan antivirus ini akan butuh waktu guna menghalau virus yang telah menjangkiti nurani, kepribadian dan karakter bangsa ini. Semuanya tergantung tersedianya pabrik dan sumber daya pendukungnya. Pendidik jelas menjadi peracik utama dari antivirus ini. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya para pendidik diharapkan mampu meracik antivirus yang dapat mengembalikan kekebalan kita yang bernama nurani, karakter dan kepribadian. Kemudian antivirus ini dapat ditularkan pada setiap generasi penerus bangsa ini.

Kita berharap tidak lagi melihat anak usia dini menghabiskan seluruh harinya hanya untuk memainkan permainan online di warung internet, yang selama ini menjadi ‘surga’ bagi mereka. Kita juga tidak lagi melihat manusia yang menghalalkan segala cara demi materi. Ayo para pendidik, ciptakan antivirus ini secepatnya! Ciptakan antivirus untuk mengembalikan kekebalan kita, yakni: nurani, karakter dan kepribadian. Semangat!

SHARE
Previous articleSi Aboy Menulis
Next articleTidak Abai Terhadap Penderitaan Rakyat
Jimmi Tambunan
Jimmi Reinhard Tambunan, pengajar fisika muda di Pematangsiantar. Penulis juga seorang yang menyukai seni dan teknologi.