Bukan Sekedar Jalan-Jalan

Bukan Sekedar Jalan-Jalan

685
0
609 Flares Twitter 0 Facebook 605 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 609 Flares ×

Sewaktu masih SMA beberapa tahun lalu, saya sempat memiliki keinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Selepas sarjana, saya kemudian berburu beasiswa untuk mewujudkan keinginan ini. Namun, jalan hidup berkata lain, dan saya melanjutkan pendidikan saya di Indonesia.

Keinginan saya untuk belajar di luar negeri disebabkan karena adanya dorongan untuk menantang kemampuan diri sendiri, baik dari segi akademis maupun survival. Tetapi sebenarnya penyebab utama adalah cerita bapak saya tentang pengalamannya studi di luar negeri puluhan tahun lalu.

Bapak belajar di Universitas Southampton, Inggris, yang membuatnya berkesempatan untuk berjalan-jalan di Eropa daratan ketika masa liburan kuliah. Foto-foto dari berbagai negara menjadi bukti petualangannya di sana.

6

Tapi bapak tetap menceritakan sisi lain dari kisah hidupnya itu. Kuliah di luar negeri tak hanya sekedar jalan-jalan atau belajar, namun juga soal beradaptasi dan bertahan hidup. Perubahan iklim, perbedaan kebudayaan, dan variasi makanan menjadi tantangan sehari-hari ketika berada di sana.

Tantangan ketika studi di luar negeri tentunya juga dihadapi oleh rekan-rekan kita yang sedang berjuang di sana, dan hal inilah yang menjadi tema FOKAL kali ini. Tema ini menjadi relevan karena banyaknya pemuda Indonesia yang ingin mencicipi pengalaman belajar di luar negeri.

Tentunya, masing-masing dari mereka memiliki alasan yang berbeda. Sebagian merasa pendidikan di luar negeri lebih baik dibandingkan Indonesia. Sebagian karena disemangati oleh keluarga yang sudah berada di sana. Sebagian lagi mungkin ingin memuaskan dahaga petualangannya.

Terlepas dari alasan pribadi, banyak hal yang disiapkan sebelum bertarung di negeri orang. Tak sedikit dari rekan kita yang terpaksa putus studi dari perguruan tinggi asing karena berbagai alasan. Karenanya, persiapan yang baik adalah syarat mutlak yang harus kita lakukan sebelum berangkat ke kampus yang menerima kita.

Misalnya saja, kemampuan bahasa asing. Selain Bahasa Inggris, yang menjadi syarat mutlak, ada baiknya kita juga belajar memahami bahasa nasional dari negara yang akan kita tuju.

Tak hanya itu, pengetahuan kita mengenai kondisi sosial dan budaya negara tujuan juga menjadi hal penting. Peribahasa “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” harus menjadi panduan kita, agar dapat bertahan selama menempuh proses studi.

Rasa rindu terhadap keluarga dan kampung halaman juga menjadi tantangan tersendiri. Meski teknologi bisa membantu kita untuk berkomunikasi dengan keluarga dan teman yang jauh, tetap saja kerinduan itu akan menyerang. Ada baiknya kita membawa benda ataupun hal lainnya yang dapat melepas rindu, seperti foto keluarga dan makanan favorit.

Selain persiapan untuk berangkat, ada hal-hal lain yang juga perlu diketahui ketika berada di negeri orang. Studi di luar negeri adalah kesempatan untuk menambah kolega dan memperluas jaringan. Sadar atau tak sadar, pertemanan yang dibangun akan akan bermanfaat bagi kita di masa depan.

Hal lain yang perlu diketahui juga adalah tawaran kerja selepas lulus studi. Banyak rekan kita yang mengambil tawaran ini, namun tak sedikit juga yang memilih kembali ke Indonesia. Apapun pilihannya, itu adalah sikap dari tanggung jawab kita kepada keluarga, bangsa, dan negara.

Yang patut diingat pula, studi di luar negeri membuat kita membuka gerbang peluang bagi teman-teman di Indonesia. Peluang seperti info beasiswa, pekerjaan, dan lainnya, akan membantu teman-teman sebangsa kita untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan diri.

Semoga edisi kali ini akan memberikan inspirasi dan membuka wawasan pemuda Indonesia, sekaligus memberi semangat untuk mereka yang sedang dan akan berjuang dalam studi di luar negeri.