Tekun Bin Ngeyel

Tekun Bin Ngeyel

872
0
29 Flares Twitter 0 Facebook 29 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 29 Flares ×

Mimpi untuk dapat berkontribusi bagi tanah air lewat pendidikan dan riset menjadi motivasi utama saya bergabung dengan ribuan rekan pemburu beasiswa ke luar negeri pada tahun 2010.

Saat itu hanya hitungan bulan sebelum saya melepaskan status mahasiswa program sarjana dari salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Masa di mana mahasiswa tingkat akhir biasanya mulai lebih intensif memikirkan langkah mereka selanjutnya setelah lulus, sambil memenuhi segudang tuntutan dosen pembimbing tugas akhir.

Berbeda dengan kebanyakan teman seangkatan, sejak masih berada di tahun kedua, saya sudah tahu bahwa menjadi seorang akademisi adalah cita-cita saya. Konsekuensinya, pendidikan lanjut adalah harga mati. Bukan hanya karena tuntutan struktural profesi ini, tetapi juga karena saya menyadari masih kurangnya kapasitas saya. Menurut saya, untuk dapat berkontribusi lebih, saya harus diperlengkapi lebih pula, dan pendidikan adalah salah satu jalannya.

 “Mendapatkan kesempatan berkuliah gratis ke negeri orang itu bukanlah perkara mudah, namun tidak mustahil.”

Saya mengamini betul kalimat ini. Sebelum akhirnya sukses menjadi salah satu peraih beasiswa pemerintah Korea, Korean Government Scholarship Program (KGSP), untuk program master dan bahasa di tahun 2011, saya sudah gagal sebelumnya dari program beasiswa yang sama dan dari program beasiswa pemerintah Taiwan, Taiwan Government Scholarship, di tahun 2010.

Begitu juga sebelum akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa di Australia, International Macquarie University Research Excellence Scholarship (IMQRES), untuk program doktoral di tahun 2015, saya sudah gagal sebanyak tujuh kali dari total sebelas aplikasi lamaran yang saya ajukan ke beberapa universitas di Eropa dan Australia yang kebetulan membuka lowongan.

Dari total sepuluh profesor yang saya coba kontak via email perihal kesempatan bergabung di grup riset beliau sebagai mahasiswa doktor, saya hanya mendapatkan balasan dari empat nama. Kalau coba dirangkum menjadi satu kata, tentunya di samping terus meminta kepada yang di atas, kunci keberhasilan saya pada akhirnya cuma satu yakni tekun bin ngeyel.

Pertama, tekun mencari informasi. Di zaman sekarang ini semua informasi yang dibutuhkan terkait kesempatan berkuliah gratis ke luar negeri dapat ditemukan dengan mudah di internet.

Mulai dari tawaran beasiswa dari profesor, universitas, dan pemerintah negara terkait; contoh essay perkenalan diri, riset proposal, CV, yang diminta di kebanyakan aplikasi beasiswa; hingga ke tips-tips sukses wawancara, meng-email calon pembimbing.

Cukup berbekal kecermatan memasukkan kata kunci di mesin pencari, semua informasi dapat tersedia. Kabar gembira buat rekan-rekan yang bertekad kuat, biasanya 50% dari para pemburu beasiswa yang sayangnya cuma “panas-panas tai ayam” akan tersisih di tahap ini.

Kedua, tekun membaca petunjuk aplikasi dan mempersiapkan kelengkapan administrasi yang diminta. Semua informasi yang diperlukan biasanya sudah tersedia di petunjuk aplikasi. Buang jauh-jauh kebiasaan buruk malas membaca dan kurangilah berasumsi. Sekiranya ada informasi yang masih kurang jelas, jangan malu untuk bertanya baik lewat email ataupun nomor telepon yang disediakan.

Pastikan tidak ada satupun persyaratan yang terlewat karena kebanyakan aplikasi beasiswa menjadikan seleksi administrasi sebagai saringan utamanya, bahkan tak sedikit yang menjadikannya satu-satunya media seleksi.

Sedikit berbagi, untuk program KGSP penerimaan jalur kedutaan yang saya lalui di tahun 2011, ratusan pendaftar dari seluruh pelosok Indonesia tersaring menjadi sekitar 20-an orang lewat seleksi administrasi, sebelumnya akhirnya menjadi 3 orang saja setelah proses wawancara dan seleksi dari pihak universitas.

Sedangkan untuk program IMQRES yang saya lewati belakangan ini, kelengkapan administrasi menjadi satu-satunya media seleksi. Tentunya rekomendasi calon pembimbing yang sudah jauh-jauh hari berkomunikasi dengan saya menjadi faktor penentu terbesar di sini seperti kebanyakan aplikasi program doktoral lainnya.

Namun, keputusan akhir terkait dukungan finansial ada di tangan universitas yang menyeleksi hanya lewat kelengkapan administrasi. Perlu dicatat, komunikasi saya dengan calon pembimbing saat itu lagi-lagi hanya lewat kelengkapan administrasi tanpa wawancara.

Ketiga, ngeyel-lah pada tempatnya. Untuk teman-teman yang bernasib seperti saya dan harus beberapa kali mendapatkan email sejenis seperti di bawah ini:

“Dear Roy Bachtiar Van Basten

Thank you for your interest in the XXX Program in XXX

We regret to inform you that after careful consideration of your application, we have decided not to award you a place to study at XXX. Considering the many excellent applications we receive, we are obliged to apply strict admission criteria. Therefore we unfortunately have to decline some very good candidates.”

Janganlah putus asa apalagi menjadi rendah diri. Karena seperti yang tersirat dari email di atas, kegagalan kita tidak selalu dikarenakan oleh kualitas kita yang buruk, tetapi jauh lebih sering dikarenakan oleh adanya beberapa rekan yang kualitasnya sedikit lebih baik daripada kita.

Dengan sedikit lagi saja berusaha, mengevaluasi dan memaksimalkan lagi semua persyaratan yang diperlukan, dan terus mencoba, tidak mustahil pada saatnya nanti alih-alih kita akan mendapatkan email seperti di bawah ini:

“Dear Roy Bachtiar Van Basten

Congratulations!

It is my pleasure to let you know that you have been recommended to receive an XXX Scholarship, awarded by the University for highly rated scholarship applicants. This award is for commencement in semester XXX, and covers tuition fees and a living allowance for up to three years….”

SHARE
Previous articlePergi untuk Kembali
Next articlePerjuangan Kuliah di Luar Negeri
Roy Simorangkir
Roy B. V. B. Simorangkir menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana dan master masing-masing dari Teknik Telekomunikasi, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung (2010) dan School of Electrical and Electronic Engineering, Yonsei University, Seoul (2014). Pria yang sempat tergabung sebagai tenaga pengajar di Departemen Teknik Elektro, Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB), Bandung sejak 2010-2014 ini sekarang sedang menempuh pendidikan doktoralnya di Dept. of Engineering, Macquarie University, Sydney.