Teknologi Obat Kangen, Dulu dan Kini

Teknologi Obat Kangen, Dulu dan Kini

816
0
17 Flares Twitter 0 Facebook 17 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 17 Flares ×

Menjelang kepergian dari tanah air, biasanya kita sangat bersemangat karena akan membuka lembar kehidupan yang baru. Tak sabar rasanya bertemu dengan orang-orang baru, meninggalkan jejak di tempat-tempat yang dulu hanya bisa dibayangkan untuk didatangi, dan belajar hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Euforia keberangkatan mengaburkan kekhawatiran akan jauh dari orang-orang yang kita sayangi untuk paling tidak setahun lamanya.

Euforia keberangkatan tadi biasanya akan bertahan di bulan-bulan pertama tinggal di negeri orang. Namun, memasuki pertengahan tahun pertama, keinginan untuk bertemu dengan orangtua, teman-teman, dan (terkadang) pacar mulai dating menghantui.

Rasa ini akan lebih lagi muncul jika kita mulai menghadapi kesulitan atau masalah, atau ketika kita merasa belum menemukan teman yang benar-benar dekat di tempat tinggal yang baru. Lebih parah lagi rasanya mendekati hari besar yang biasanya dirayakan bersama keluarga: Natal, Idul Fitri, Imlek, dan lainnya.

Untungnya, saat ini teknologi komunikasi banyak tersedia dan relatif terjangkau. Mungkin kita belum menyadari betapa berartinya teknologi yang tersedia saat ini dalam menjaga hubungan kita dengan orang-orang terkasih di tanah air.

Saya membandingkan bedanya komunikasi dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia 10 tahun lalu ketika saya mengikuti pertukaran pelajar ke Eropa, dengan saat ini ketika saya kembali ke Eropa untuk melanjutkan studi saya. Betapa banyak perubahan yang sudah terjadi!

Sekarang nggak lagi ketinggalan berita

Membuka halaman beranda Facebook terkadang bisa jadi menyebalkan jika ada orang-orang yang membagikan berita fitnah atau memulai cek-cok lewat status kontroversial. Tetapi, terlepas dari itu, Facebook memberikan fasilitas untuk berbagi kabar dengan mudah kepada semua orang di jaringan pertemanan kita.

Sepuluh tahun lalu, jangankan Facebook, internet secara umum pun belum banyak digunakan. Saya ketinggalan berita bagaimana euforia kelulusan SMA teman-teman saya, siapa diterima di kampus mana, atau siapa jadian dengan siapa.

Sekarang, mudah sekali update kabar teman-teman dan keluarga. Lewat foto-foto atau status yang dibagikan, saya jadi tahu (dan bisa mengucapkan selamat) kepada teman-teman saya yang baru melahirkan anak pertama mereka, akan menikah, atau baru diterima bekerja di tempat yang baru.

Dulu harus beli kartu telepon

Mungkin di antara kita masih ada yang ingat iklan layanan telepon inter-lokal 001? Yap, sepuluh tahun lalu, telepon ke mancanegara bukan sesuatu yang gampang. Orangtua saya tidak bisa sering menelepon, karena biaya telepon cukup mahal. Jika saya ingin menelepon orangtua saya, saya harus membeli kartu telepon yang berisi “jatah” waktu maksimal bisa berbicara ke Indonesia.

Obrolan di telepon akhirnya harus dipilih, yang penting-penting saja, karena waktu terbatas. Saat ini, kita bisa menelepon gratis ke mana pun dengan aplikasi seperti Line dan Viber. Selama telepon genggam kita terkoneksi ke jaringan internet, kita bisa bebas berbicara dengan keluarga kita kapan pun dan di mana pun.

Sekarang bisa ekspresif

Dulu, ketika saya bertukar kabar dengan teman-teman saya lewat email, sulit untuk benar-benar menggambarkan apa yang kami rasakan. Email yang paling ekspresif yang bisa kami tuliskan hanyalah email dengan smiley :), :(, :-|.

Saat ini, bertukar kabar dengan tulisan lebih menyenangkan dan ”hidup” karena ada pilihan untuk menggunakan berbagai sticker dan emoticon. Ekspresi yang tidak dapat disalurkan lewat tulisan semata dapat digambarkan dengan sticker dan emoticon yang sesuai.

Dulu harus menunggu

Terkadang, sesuatu terjadi pada kita atau keluarga kita, dan ingin segera kita sampaikan. Saya ingat bagaimana 10 tahun lalu saya mendapat kabar tentang Tsunami yang menimpa bagian utara Sumatera lewat berita di radio. Ingin rasanya cepat-cepat memastikan di mana keluarga saya berada, apakah daerah tempat tinggal saya juga merasakan efek Tsunami, dan apakah keluarga saya baik-baik saja.

Sayangnya, saya harus menunggu, karena saat itu tidak gampang untuk mengirim kabar. Saat ini, menyampaikan kabar yang urgent tidak lagi harus menunggu. Jika tidak dapat menghubungi lewat telepon karena perbedaan waktu, kita bisa meninggalkan pesan lewat messenger seperti Whatsapp atau Blackberry Messenger, dan yakin akan dibaca sesegera mungkin.

Sekarang kita melihat hal yang sama

A picture is worth a thousand words. Tak jarang, bercerita lewat kata saja tidak cukup. Untungnya, saat ini kita bisa dengan mudah berbagi gambar, bahkan video, dengan keluarga dan teman-teman saat berkomunikasi via aplikasi chatting atau telepon.

Dengan mudah, kita bisa menunjukkan bagaimana rupa kamar kos atau asrama di negeri orang dengan memutar kamera telepon genggam atau laptop kita mengelilingi kamar saat sedang video-call dengan orangtua kita. Saat sedang berjalan-jalan dan menemukan benda unik, kita bisa dengan cepat mengirimkan gambar benda tersebut kepada teman kita di tengah obrolan tentang perjalanan kita. Rasanya seperti berada di lokasi yang sama pada saat yang sama.

Kangen, dulu dan kini, memiliki pola yang tak berbeda. Tapi cara menghadapinya sudah jauh berbeda dan lebih mudah, berkat teknologi yang semakin maju. Video­-call yang dulu hanya fantasi di film science fiction, kini sudah menjadi satu bagian biasa dari hubungan jarak jauh dengan keluarga dan teman-teman. Mungkin suatu saat nanti, seseorang akhirnya menemukan alat teleportasi, dan jarak tak lagi menjadi penghalang bertemu saat kangen? Siapa yang tahu.