Pergi untuk Kembali

Pergi untuk Kembali

993
0
182 Flares Twitter 0 Facebook 182 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 182 Flares ×

Apa yang teman-teman bayangkan ketika mendengar “kuliah di luar negeri?” Beberapa pasti membayangkan indahnya menikmati suasana baru. Yang lain mungkin terbayang betapa luasnya relasi yang dapat dibangun dengan tinggal sementara di luar negeri. Sementara beberapa lagi hanya bisa mengurut dada karena syarat kuliah ke luar negeri itu “hanya dua”: IPK > 3.00 atau kaya raya.

Memang benar! Kuliah di luar negeri itu menawarkan berbagai pengalaman menarik yang tidak akan (dan lebih baik tidak) terulang seumur hidup. Berkutat dengan bahasa, pergaulan yang berbeda, homesick, sampai berteriak dalam hati, “What am I doing here?!”

Nah, kali ini saya akan bercerita kisah jatuh-bangun dalam mengejar kuliah dan beasiswa, perjuangan meyakinkan keluarga, hingga perumusan masa depan yang hingga kini masih berlanjut!

1

Membangun Cita-Cita dengan Reverse Engineering

Dulu, ketika ditanya soal cita-cita, saya selalu menjawab, “Keliling dunia!” Sebagai mahasiswa, yang beruntung mengecap pendidikan tinggi, tentunya cita-cita tidak boleh serendah itu. Kalau saya ingin keliling dunia, I have to do it with purpose!

Seiring berjalannya waktu, saya menemukan profesi ideal tersebut. Dosen adalah jawabannya. Bagi saya, seorang dosen memiliki hidup yang tidak monoton. Bertemu dengan mahasiswa baru setiap tahun, memiliki kesempatan untuk mengikuti konferensi mau pun pertemuan ilmiah di seluruh dunia, dan punya kolega di mana-mana. Menarik!

Beruntung saya memiliki pembimbing akademik yang visioner. Setelah bercerita mengenai cita-cita jangka panjang saya, beliau menyarankan, “Kalau kamu memang mau jadi akademisi, fokus dari sekarang. Habis S1, S2. Habis S2, S3. Setelah itu kamu punya waktu banyak untuk post-doc (postdoctoral, orang yang melakukan riset setelah menyelesaikan studi S3) dan berkarya menjadi akademisi. Jadi hidup kamu nggak setengah-setengah.”

Berbekal nasihat tersebut dan berbagai pergumulan yang dialami, sampailah saya pada suatu cita-cita jangka pendek.  Selesai S1, saya akan S2 di luar negeri!

Antara Idealisme dan Kehendak Orang Tua

Atas dasar tersebut, saya tidak melakukan hal-hal ‘normal’ yang teman-teman saya lakukan. Sementara mereka sibuk mencari kesempatan kerja, saya heboh mencari tempat perkuliahan dan beasiswa. Setiap ada waktu senggang selalu saya sempatkan untuk belajar Bahasa Perancis secara otodidak, karena negara tersebutlah yang menjadi tujuan saya.

Alhasil, ketika teman-teman sudah mulai bekerja dan berpenghasilan cukup, saya masih berkutat di Bandung dengan bekerja di sebuah perusahaan start-up atas rekomendasi dosen pembimbing saya tersebut.

Apa yang saya lakukan ini ternyata mengkhawatirkan orang tua saya. Cita-cita saya tersebut dianggap terlalu tinggi, karena secara akademik, saya bukan orang yang terlalu menonjol. Dengan berbagai cara keluarga besar saya berusaha menarik saya, hingga saya sempat berada dalam keadaan tertekan dan ingin melepas saja cita-cita tersebut.

Namun benar kata orang. Di mana ada keinginan, pasti ada jalan. Beruntung saya didukung oleh komunitas akademis yang sangat luar biasa, di mana saya terus menerus dikuatkan dan ‘dijaga’ agar tidak keluar dari jalur yang sudah saya pilih. Di akhir Mei 2013, dua pucuk surat dari dua universitas berbeda melayang ke rumah saya, dan dibuka terlebih dahulu oleh kedua orang tua saya. Di titik itulah, kepercayaan mereka terhadap saya benar-benar kembali.

Beasiswa Orang Tua

Sayangnya, pada saat surat penerimaan tersebut sampai, kebanyakan beasiswa sudah tutup masa pendaftarannya. Saya nyatakan pada orang tua saya bahwa saya akan mendaftar pada tahun ajaran depan, ketika sudah ada beasiswa.

Di luar dugaan, kedua orang tua saya justru ‘memaksa’ saya untuk berangkat saja dengan keuangan seadanya. Menurut mereka, lebih baik uang mereka habis untuk pendidikan saya dibanding saya menunda kesempatan berkuliah. Di titik itulah akhirnya saya mendapat restu dan menyadari. Perjuangan baru saja dimulai.

Bulan-bulan pertama saya lalui dengan perhitungan gila-gilaan. Lagi-lagi, beruntung saya menemukan teman senasib sepenanggungan yang juga berangkat ke Perancis dengan keuangan orang tua yang seadanya.

Masih teringat di mana uang kami di ATM tinggal tersisa satu digit sementara masih ada seminggu sebelum tanggal satu selanjutnya datang. Sungguh, sesulit itu ternyata bertahan hidup. Pada akhirnya kesempatan itu pun datang. Saya, dan teman saya itu, dinyatakan lulus administrasi, hingga tes wawancara Beasiswa LPDP.

Setelah memiliki beasiswa, kami pun menyadari, betapa beruntungnya orang-orang berbeasiswa, dan tak selamanya orang yang mengandalkan “beasiswa orang tua” hidupnya berfoya-foya.

Tak sedikit di antara teman-teman kami yang tadinya mengandalkan “beasiswa orang tua” namun akhirnya bertahan hidup dengan kerja sana-sini, akibat mereka tidak memiliki beasiswa. Kembali terngiang kata-kata tersebut, “Di mana ada keinginan, pasti ada jalan.”

Dreams after Dreams

Tanpa disadari, kini saya sudah berada di ujung masa perkuliahan. Pertanyaan, “Habis ini mau ngapain?” ternyata jauh lebih sulit untuk dijawab dibanding saat S1 dahulu. Sebisa mungkin, saya ingin tetap berada pada jalur yang telah saya tentukan di awal. Setelah S2, ya S3.

5

Dengan begitu, waktu yang saya miliki bisa dipergunakan untuk kemajuan ilmu, karena setelah disadari, menjadi dosen bukan sekedar perihal mengajar, tapi juga menjadi ujung tombak dalam pertukaran informasi dan pemecahan masalah. Ada masa di kala saya ingin menyerah, namun mudah-mudahan, dengan kekuatan dari kerabat terdekat serta keinginan kuat dari dalam hati, segala sesuatu akan disediakan. Sampai jumpa di masa depan!

SHARE
Previous articleMerajut Pertemanan dari Berbagai Penjuru Dunia
Next articleTekun Bin Ngeyel
Gabriella Alodia
Gabriella Alodia lahir di Jakarta pada tanggal 14 April 1991. Sedang menempuh studi double degree jenjang magister dalam bidang Hidrografi dan Geofisika Kelautan di ENSTA Bretagne dan IUEM - UBO, Perancis. Di sela-sela studinya, ia melampiaskan hobinya dalam berorganisasi dengan menjabat sebagai Kepala Bidang Pendidikan PPI Perancis periode 2014/2015. Ingin selalu berbagi kebahagiaan kepada siapa pun, sesuai dengan motto hidupnya, "be happy," karena bahagia tak selalu mahal.