Pak Mus Kejar Pengalaman Hidup Sampai Ke Amerika Serikat

Pak Mus Kejar Pengalaman Hidup Sampai Ke Amerika Serikat

2066
0
192 Flares Twitter 0 Facebook 191 Google+ 1 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 192 Flares ×

Pak Muslinang dikenal sebagai dosen yang tak pernah terlibat dalam proyek-proyek seperti lazimnya. Ia memilih fokus mengajar. Membaktikan dirinya bagi kemajuan dunia pendidikan Indonesia di ITB.

Jauh sebelum tahun ini, sejak muda, ia telah mempersiapkan dirinya untuk belajar di negeri orang. Baginya, kuliah di luar negeri itu tak sekedar belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang pengalaman hidup. Mau tahu lebih lanjut sosok pilihan FOKAL edisi kali ini? Yuk! Simak wawancara FOKAL dengan Dr. Ir. Muslinang Moestopo.

FOKAL: Bagaimana pengalaman Bapak saat berkuliah di luar negeri?

Pak Mus: Buat saya itu pengalamannya menyenangkan, menikmati, dan mensyukuri. Saya merasa segmen hidup saya selama berkuliah disana itu membuat saya bisa mengenal diri saya sendiri, membentuk sikap saya, bahkan berubah, pandangan hidup juga berubah.

Kebetulan saya baru berkeluarga disana dan menikmati membangun keluarga sendiri disana, menjadi lebih dekat dengan istri disana. Menghadapi dan belajar hidup habis-habisan. Menyenangkan dan menikmati kalau melihat dari kacamata yang lebih luas.

Kalau bisa dibandingkan, kuliah di luar negeri itu, porsi kuliah keilmuannya dibandingkan dengan apa yang saya dapatkan untuk persiapan hidup yang saya rasakan sekarang ini, jauh lebih besar pembelajaran pengalaman hidupnya. Dalam berkeluarga, menghadapi masyarakat, mengenal diri sendiri, juga dalam belajar. Mengukur kemampuan, merubah sikap, dan macam-macam.

Kalau diukur-ukur, saya bersyukur menyelesaikan S2 dan S3, itu capaian yang saya syukurin tapi yang jauh lebih besar dari itu yang saya syukurin juga pengalaman. Lulus S2 dan S3 bukan segala-galanya untuk saya.

36_sosok_3FOKAL: Bagaimana persamaan dan perbedaan pendidikan di dalam dan luar negeri? Apakah sangat timpang atau seperti apa Pak?

Pak Mus: Memang saat saya berangkat tahun 1988, sangat kelihatan jauh bedanya. Belum ada internet. Saya mengirim informasi saja dua minggu pakai pos. Sampai kesini informasi terbatas, selembar kertas. Sekarang dalam berapa menit, banyak informasi bisa disampaikan. Sehingga kalau saya bandingkan sekarang, gapnya sangat jauh berkurang.

Katakan pendidikan s2 dan s3 di ITB, saat saya berangkat dulu dibanding sekarang, saya rasa gapnya saat ini semakin mendekat. Saya tidak tahu dengan kampus yang lain. Alasannya karena sudah semakin banyak dosen lulusan luar negeri yang mengajar disini, jadi membawa perubahan, membawa cara belajar, dan sistem pendidikan yang sedemikian. Dan selain itu Indonesia sangat mudah mendapatkan fasilitas internet. Ini sangat berperan mendekatkan jurang perbedaan.

Saya sangat merasakan sekali, saat saya kesana, saya mendapat banyak sekali kemewahan. Mungkin disini yang masih kita rasakan berbeda adalah fasilitas seperti laboratorium, itu pun tidak terlalu jauh berbeda. Di beberapa tempat dari sisi dosen saya rasa tidak kalah. Tapi dulu memang gapnya jauh sekali. Sangat timpang iya. Tapi sekarang gap nya sudah semakin dekat.

FOKAL: Apakah Bapak memiliki pengalaman lucu dan sulit dilupakan selama berkuliah di luar negeri?

Pak Mus: Mulai dari yang saya alami betul. Bawaan saya itu sebagai orang timur ya pasif. Jadi kalau saya merasa tidak perlu, saya merasa kurang saja kalau harus ngomong duluan. Diam. Kalau tidak ngerti berusaha ngerti sendiri. Saya merasa itu sangat rugi.

Saya sebagai orang timur berusaha ngomong baik, yang pas, dengan bahasa Inggris yang baik, tapi bahasa Inggris saya dari segi grammar menurut saya lebih baik dari teman-teman asal China dan lainnya. Grammar mereka nggak karu-karuan. Tapi mereka berani berdiskusi, mengemukakan pendapat, dekat dengan profesor, dengan siapapun, dengan bahasa yang kadang-kadang nggak dimengerti oleh saya, dengan grammar yang acak-acakan, bahasa tarzan, tapi mereka berani. Itu ternyata yang disukai oleh para dosen disana. Karena komunikasi terjalin.

Daripada saya yang diam, nunggu sampai semuanya sempurna, pasif. Itu pengalaman pertama. Rugi kalau kita pasif. Dan mereka gak peduli. Mereka gak bakal “tolong dong anda aktif”. Gak ada yang care. Rugi sendiri.

Pengalaman kedua yang lucu. Saya beli beras dengan teman saya satu karung. Saya masak pertama kok rusak hasilnya. Masak kedua juga sama, kok kayak ketan. Ternyata itu bukan beras, tapi ketan. Tulisannya glutinous rice. Saya kiranya rice saja, beras, saya tidak tahu. Saya kembali ke tokonya. Saya tanya, ini kok bukan beras. Ya memang bukan beras, ini ketan. Tapi baiknya disana. Saya beli satu karung, saya terpakai satu kilo, sisanya dihitung mereka, dan dikembalikan. Jadi saya tidak rugi besar. Teman saya yang lucu, bawa beras satu karung dari Indonesia. Padahal itu berat-beratin tas.

Disana ada libur Thanksgiving, minggu ketiga hari Kamis, November. Saya waktu itu jadi loper Koran. Saya kira hari libur, seperti di Indonesia, semua libur. Pagi saya santai-santai di rumah. Jam 9 pagi saya ke kampus dengan istri saya. Tiba-tiba saya ditelpon manajer saya. “Kenapa kok koran belum diantar ke pelanggan?” Wuih, panik saya, itu sudah jam 09.30. Biasa saya antar jam 5 pagi. Saya sudah siap-siap dimarahin di setiap rumah pelanggan.

Benar, marah mereka. Ya, saya memang salah, saya pikir libur seperti di Indonesia. Saya belum tahu sistemnya. Itu karena saya tidak mencari tahu, saya pasif, tidak aktif. Jadi disana harus aktif. Dan tidak ada yang meminta kita aktif. Itu upaya kita sendiri.

FOKAL: Bagaimanakah sambutan masyarakat luar negeri maupun mahasiswa mancanegara lainnya terhadap Bapak dan mahasiswa Indonesia lainnya?

Pak Mus: Yang saya alami di AS, tidak ada perbedaan, sama. Bahkan mereka memberikan respect kepada yang berprestasi, walau dia bukan orang kulit putih, diberikan respect. Jadi saya merasa tidak ada masalah disitu, bahkan saya merasa rugi kalau tidak aktif.

Kemudian, mereka saat itu kagum pada Indonesia akan seninya. Karena kita sering ada kegiatan Indonesia’s Culture Night. Makanan Indonesia menarik sekali. Mereka sangat menghargai seni dari Indonesia, seni tradisional. Jadi Indonesia sangat dihargai dari sisi itu.

Dari sisi yang lain, yang sangat disorot adalah Indonesia itu diktator, karena saat itu masa Orde Baru. Mereka mengenal kita begitu. Pembicaraan-pembicaraannya tentang kalian hidup di negara yang prihatin. Lalu ada isu RAS, ketidakadilan, isu HAM, pokoknya pada saat itu belum seperti sekarang. Itu sekitar tahun 1988 sampai 90-an awal. Mereka sangat kenal Indonesia saat itu kurang bagus dari sisi politik, tapi mereka sangat menghargai dari sisi seni budaya.

FOKAL: Apakah Bapak memiliki teman/sahabat dekat dari negara lain selama berkuliah disana? Apakah komunikasi masih terjalin sampai sekarang?

Pak Mus: Saya bersahabat dengan beberapa orang disana. Sampai sekarang masih terjalin. Keluarga dan anak-anak saya selalu berkomunikasi. Betul-betul teman. Anak-anak kami saling kenal dari kecil. Kalau ada kesempatan, saya kontak mereka, dan mampir kesana. Jadi betul-betul dekat. Cerita tentang keluarganya selalu setiap tahun.

Ada keluarga dari Amerika, Malaysia, Turki, Afrika. Tapi yang berlanjut komunikasi dengan keluarga Amerika, karena yang lain balik ke negaranya dan hilang kontak.

FOKAL: Banyak isu negatif maupun positif tentang Indonesia yang beredar di dunia internasional. Selama Bapak berkuliah di luar negeri, apa pendapat masyarakat luar negeri tentang Indonesia yang Bapak dengar?

Pak Mus: Isu positifnya, Indonesia hebat ya Bhinneka Tunggal Ikanya. Walau banyak perbedaan, berbeda suku dan bahasa, tapi bisa jalan rukun. Mereka sangat kagum. Beda ya dengan sekarang. Tapi saat itu mereka merasa kita kurang dalam hal diktator, HAM. Saat ini berubah, kebersamaan dan gotong royong bermasalah, politik dan HAM saat ini membaik.

Waktu itu seperti itu, positif sekali dalam hal kebersamaan. Mereka juga tahu ada masalah ras dan SARA, tapi mereka tetap kagum dan apresiasi, sekian banyak bahasa dan suku bangsa tetap dapat hidup baik-baik. Ada dari Papua, Sulawesi, dan lainnya.

36_sosok_6FOKAL: Terkadang pemuda/i Indonesia sudah keburu minder sebelum mencoba menempuh pendidikan di luar negeri. Bagaimana perbandingan etos belajar antara mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa luar?

Pak Mus: Jadi memang beda etos kerjanya. Disana itu mahasiswa kerja mandiri. Malu kalau banyak dibantu. Memang katanya konon ada yang masih suka nyontek. Yang saya alami di kelas saya, saya melihat dan bergaul dengan anak-anak saya, mereka mandiri. Malu kalau minta tolong terlalu banyak kepada yang lain. Tidak bisa dibilang egois, tapi mandiri. Jarang kumpul rame-rame di kelas, atau di kampus. Biasanya kerjain sendiri di perpustakaan. Kalau mau nanya paling nanya sebentar dan setelah itu selesai. Nggak ada ngerumpi, ngumpul kerjain tugas sama-sama, bagi-bagi tugas, jadi mereka kerja sendiri.

Mereka tidak suka cari-cari alasan. Kalau salah ya salah. Tidak selesai tugas ya sudah, dapat nilai nol diterima. Tidak mengerjakan tugas, maka siap dengan konsekuensinya. Protes itu kalau ada yang ambigu. Ini rasa-rasanya benar, kok disalahin. Maka mereka protes. Tapi kalau mereka sudah tahu kalau mereka salah, mereka gak bakal protes, mereka mengaku salah. Kalau disini cari-cari alasan, kalau salah, cari alasan. Ini beda mahasiswa kita dengan mereka. Mahasiswa kita cenderung mencari alasan untuk membenarkan yang salah. Kalau mereka merasa benar tapi disalahkan, mereka akan ngotot memperjuangkan haknya.

Pola mahasiswa kita yang belajar disana pelan-pelan berubah. Itu yang bisa membuat survive dan unggul, mereka merubah pola belajarnya. Buat mereka yang nggak bisa merubah kebiasaan, itu mereka akan kesulitan mengikuti perkuliahan. Jadi mahasiswa kita yang belajar kesana harus merubah pola belajarnya. Harus mandiri. Kalau di Indonesia prinsip gotong royong disalahartikan.

Disana mereka punya harga diri, berusaha mengerjakan mandiri. Ada rasa malu kalau terlalu bergantung kepada orang lain. Beberapa mahasiswa kita yang masih sulit berubah, umumnya stress. Biasanya mahasiswa Indonesia lainnya disana akan mendukung dan mendorongnya agar dapat merubah pola belajarnya.

Disana tidak banyak waktu untuk bergosip. Tidak habis berjam-jam untuk bergosip. Waktu itu berharga. Kecuali waktunya untuk itu, misalnya weekend, waktu itu benar-benar mereka pakai untuk bermain, hobby, aktivitas mereka, tidak ada memikirkan kuliah dan kerjaan mereka. Tapi kalau sudah hari kerja, mereka tidak akan habiskan waktu untuk hura-hura. Ngobrol seperlunya saja. Beda dengan kita di Indonesia.

FOKAL: Bagaimana penilaian Bapak terhadap pendapat beberapa lulusan luar negeri maupun dalam negeri Indonesia yang menyatakan bahwa pemerintah Indonesia kurang menghargai dan mengapresiasi para peneliti dan kaum intelektual Indonesia?

Pak Mus: Pemerintah Indonesia kurang menghargai. Siapa sih pemerintah Indonesia itu. Kita harus lebih tepat mendefinisikan. Kalau maksudnya pejabat-pejabat pemerintah, siapakah mereka itu? Menurut saya mereka yang kurang mengerti nilai dari karya sebuah penelitian, apalagi kalau penelitiannya masih teoritis. Untuk pejabat-pejabat seperti ini ya mereka mikirnya ngapain saya keluarkan waktu, biaya, dan perhatian sedemikian banyak untuk penelitian yang masih teoritis, belum ada dampaknya.

Tapi kalau pejabat-pejabat yang mengerti dan punya latar belakang pendidikan yang tinggi, mereka pasti tahu bahwa penelitian itu potensi, harus diperhatikan. Mereka akan mendukung dan punya komitmen terhadap teman-teman yang meneliti. Dulu masih sedikit yang punya pengalaman kuliah tinggi di dalam maupun luar negeri. Sehingga belum banyak yang menilai tinggi sebuah penelitian, karya, apalagi yang masih teoritis.

Birokrat itu punya tanggung jawab terhadap anggaran, program, jadi mereka tidak melihat penelitian itu berguna. Investasinya terlalu jauh. Jadi ya tidak diperhatikan. Ya bukan jahat, tapi kondisinya seperti itu sekarang ini. Tapi sekarang ini karena banyak pejabat sudah disekolahkan lanjut, para pejabat mudanya. Jadi mereka sekarang sudah memperhatikan kelanjutan penelitian pasca lulusnya.

Tidak adanya penghargaan itu bukan karena sentimen, tapi karena dirasa nilai ekonomis dan politisnya kurang, makanya kurang diperhatikan. Tapi kalau paradigmanya bahwa ini adalah investasi jangka panjang, nilai ekonomisnya bagus untuk jangka panjang, pasti akan mereka perhatikan.

Jadi untuk bidang-bidang pemerintah yang ada program risetnya, sebaiknya pemimpinnya orang yang punya pengalaman pendidikan yang tinggi, sehingga memahami bagaimana paradigma jangka panjangnya, bagaimana pentingnya penelitian.

FOKAL: Bagaimana pendapat Bapak tentang fenomena adanya lulusan luar negeri yang kemudian memilih untuk tetap tinggal dan bekerja di luar negeri?

Pak Mus: Selama pilihan itu lahir dari kesadaran dan kerinduan kita untuk mengembangkan diri kita lebih baik lagi dan dengan itu dia yakin memberikan yang lebih baik untuk Indonesia dan paling penting dia betul-betul sadar dan yakin bahwa ini panggilan dan rencana Tuhan, maka kerja di luar negeri hanya salah satu opsi dan bukan segala-galanya.

Jadi jalani saja di Indonesia atau di luar, selama itu jelas dan bisa dipertanggungjawabkan dan passionnya untuk mengembangkan Indonesia, ya tidak masalah. Tapi jangan cari-cari alasan, ingin berkiprah di luar, tapi ternyata karena lebih nyaman, enak, bukan karena panggilan.

Saya pikir baik apabila dia memilih itu sebagai rencana Tuhan dan juga sebagai bentuk karyanya.

FOKAL: Apakah Bapak memiliki saran untuk para pemuda/I Indonesia yang ingin menempuh studi di luar negeri?

36_sosok_4Pak Mus: Dari pengalaman hidup saya, juga cerita dari banyak rekan-rekan saya yang sekarang ini sudah bekerja dan berkarya di banyak tempat. saya menyimpulkan belajar keluar negeri itu bukan hanya untuk gelar atau ilmu. Tapi bagaimana kesempatan belajar di luar negeri menjadi modal dia untuk berkarya. Bukan hanya dari segi kepintarannya, dari seutuhnya. Jadi hal-hal yang non akademik, non teknis, selama dia diluar, akan terbuka pemahamannya. Seharusnya begitu.

Kelihatan beda, orang yang kuliah ke luar negeri hanya untuk mendapat gelar, dengan orang yang ke luar negeri selain berkuliah, tapi juga mencoba belajar banyak hal, membuka wacana, cara pandangnya akan berubah.

Kesimpulan saya adalah, belajar ke luar negeri tidak hanya investasi ilmu saja, tapi juga pengalaman hidup.

Saya setelah kembali ke Indonesia dan bekerja, ternyata aktivitas saya tidak hanya berkaitan dengan keilmuan saya, tapi banyak hal lainnya sesuai panggilan saya. Ternyata saya berkarya tidak hanya sesuai bidang saya. Disitu saya melihat, dari kacamata keimanan saya, ternyata Tuhan memakai pengalaman saya yang lain itu saat Tuhan menempatkan saya di aktivitas pelayanan dan karya saya.

Jadi ketika kita berkuliah di luar negeri, kita harus menerima diri kita diarahkan Tuhan untuk belajar banyak hal, tidak hanya keilmuan saja. Saat disana saya mau diarahkan Tuhan, sehingga saya bisa berkembang. Saya dulu pendiam, tapi setelah berkuliah di luar negeri, saya bisa belajar. Apakah itu bisa didapat jika kuliah di Indonesia, ya pasti juga bisa didapat. Tapi ada pengalaman hidup yang berbeda.

Saya melihat kesempatan bertemu banyak orang dan belajar disana, ternyata setelah kembali ke Indonesia, saya merasa ada manfaatnya. Berkuliah di luar negeri bukan keistimewaan jika dibandingkan berkuliah di dalam negeri. Ya tidak mungkin semua orang berkuliah ke luar negeri, terus siapa yang kuliah di dalam negeri.

Yang saya lihat bukan belajarnya, memang kuliah di luar negeri akan bertemu profesor hebat, fasilitas lengkap, tapi terlalu kecil kalau kita menilai rencana Tuhan itu hanya sebatas mendapat gelar.

Keluar negeri itu Tuhan punya rencana jauh lebih besar ketimbang kita belajar dari ilmu kita, bahkan ada mungkin yang hanya untuk dapat gelar agar bisa naik jabatan, itu terlalu naïf. Lebih dari cari gelar, dia harus cari keilmuan dengan belajar. Lebih dari cari keilmuan, dia harus belajar pengalaman hidup.

Seandainya hidup dapat diulang, saya akan memperbanyak belajar pengalaman hidup. Untuk teman-teman yang berkuliah di luar, apabila dia kembali ke Indonesia, dia mendapatkan manfaat tidak hanya dari investasi dalam gelar dan keilmuan, tapi juga pengalaman hidup.

Dibandingkan dulu, keilmuan sekarang bisa mudah didapatkan di Indonesia. Fasilitas internet membuat kita bisa mendapatkan jurnal dan kuliah online walau kita di Indonesia. Ya, memang untuk lebih dalam tentu harus belajar dari pakarnya langsung. Tapi untuk belajar otodidak, teknologi sudah membantu kita. Jadi gap memang semakin mengecil. Namun yang tidak bisa digantikan adalah keberadaan kita waktu nyemplung disana. Kita selama disana hidup dalam kultur yang mayoritas, bagaimana kita mempertahankan jati diri kita.

Gelar bisa diperoleh, keilmuan bisa dimengerti, tapi lebih dari itu, pengalaman hidup harus dapat dipelajari. Kita belajar bertanggungjawab, tidak hanya baca buku dan belajar, sehingga saat berkarya di Indonesia, kita akan mendapatkan tanggung jawab lebih besar, tidak hanya terkait keilmuan kita.

Kuliah di luar negeri bukan segala-galanya. Tidak untuk disombongkan. Banyak potensi dan kesempatan di luar negeri. Jadi pahami motivasi diri. Kalau memang belum punya motivasi diri, namun mendapat kesempatan berkuliah di luar negeri, jalani saja dulu peluang itu. Tapi buka pikiran dan hati untuk menemukan jawaban apa motivasi dan tujuan kita berkuliah di luar negeri.

Kalau sudah menemukan tujuan hidup, dipikirkan sebaik mungkin apakah cara memenuhinya dengan berkuliah di luar negeri, sehingga kuliah di luar negeri akan dioptimalkan untuk mencapai tujuan hidupnya.

Kalau sudah berkeluarga, prioritaskan keluarga kita, karena keluarga yang utama. Jangan karena mau kuliah ke luar negeri, mengorbankan keluarga, meninggalkan istri atau calon istri.

Selama proses pengajuan beasiswa kuliah, terus uji motivasi diri, apa tujuan kita berkuliah di luar negeri. Kalau memang tujuan dan motivasi kita baik, pasti akan terbuka jalan.

Jadi pesan terakhir saya, temukan tujuan dan motivasi anda berkuliah di luar negeri, karena kuliah di luar negeri bukan hanya sebatas gelar dan ilmu saja, tapi juga pembelajaran kehidupan, sehingga pengalaman kita selama di luar negeri dapat kita gunakan untuk karya kita setelah lulus dan kembali ke Indonesia.

Biodata:
Nama Lengkap: Muslinang Moestopo
Tempat, Tanggal Lahir: Bandung, 18 Agustus 1962
Nama Istri: Endang Sulistyorini
Nama Anak: Wimanda Muslinang Moestopo, Widianto Putra Moestopo
Pendidikan:
1.     Sarjana Teknik Sipil, ITB
2.     Master of Science in Engineering Mechanics, Univ of Wisconsin-Madison, USA
3.     Doctor of Philosophy, Univ of Wisconsin-Madison, USA

Karir dan Aktivitas lainnya saat ini:
Dosen dan Peneliti, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, ITB
Kepala Laboratorium Struktur Bangunan, Pusat Rekayasa Industri, ITB
Kepala Unit Implementasi Proyek Pengembangan ITB
Ketua II Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia