Merajut Pertemanan dari Berbagai Penjuru Dunia

Merajut Pertemanan dari Berbagai Penjuru Dunia

790
0
20 Flares Twitter 0 Facebook 20 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 20 Flares ×

Maret 2014, saya mengucap syukur dan terharu ketika berhasil diterima untuk melanjutkan studi magister di luar negeri. Impian mendalami ilmu energi alternatif dan terbarukan selangkah lebih dekat. Kelak, melalui ilmu ini, saya ingin menjadi peneliti berkaliber dunia dan penggerak terciptanya sumber energi alternatif terbarukan, yang dapat dijangkau dan murah.

Agustus 2014, saya bertolak ke Swedia dan meninggalkan tanah air demi cita-cita saya. Tentunya, ketakutan memenuhi benak karena harus jauh dari hingar bingar keramaian di Indonesia. Apakah saya bisa menghadapi tantangan perkuliahan?  Bagaimana dengan perbedaan bahasa dan budaya? Kendala terbesar tentunya adalah absennya keluarga dan teman, yang biasanya menjadi tempat mengadu dan berkeluh kesah.

Perlahan kendala itu teratasi karena akomodasi communal living. Saya tinggal dalam apartemen besar bersama tujuh orang lainnya. Mereka, yang  berasal dari berbagai etnis dan budaya, adalah teman-teman pertama saya di tempat yang baru ini. Ada dua orang teman berasal dari German, satu dari Perancis, satu dari Spanyol, satu dari Bulgaria, dan puji syukur hadir juga teman se-Tanah Air.

Apartemen itu menjadi tempat saya berinteraksi, melalui pertukaran ide dan budaya masing-masing. Misalnya saja, seorang kawan dari Perancis awalnya sungguh pendiam dan tertutup. Namun setelah beberapa minggu, dia menjadi begitu terbuka dan sering melontarkan ide-ide seputar gaya masakan Perancis, sekaligus mengajarkan banyak hal tentang culinary.

Sementara itu, bersama kawan-kawan dari Spanyol dan Bulgaria, kami bertukar pandangan mengenai kondisi pemerintahan dan masyarakat Eropa saat ini. Mulai dari krisis ekonomi, politik yang kotor, wanita dan dunia malam, hingga minuman alhokol dan narkoba yang biasa dikonsumsi.

Sedangkan, rekan-rekan dari Jerman memberikan wawasan terkait kualitas pendidikan beserta dengan fasilitas penunjang di negara mereka yang maju dan modern dibandingkan Indonesia.

Tak hanya dari negara-negara Eropa, saya pun menjalin pertemanan dengan kawan-kawan dari Afrika seperti Kenya, Ethiopia, Uganda, Tanzania, Tunisia, dan Morocco, untuk bertukar pikiran seputar dunia perkuliahan, pendidikan, pengembangan karakter kepimpinan. Miripnya kondisi masyarakat antara Indonesia dan Afrika, membuat kami seperti terhubung satu dengan yang lain meskipun kami berasal dari dua benua berbeda.

Pertalian lain saya rajut dengan mereka yang berasal dari benua Amerika seperti Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, Colombia, Brazil, Peru, Chile, Paraguay, dan Argentina. Tak luput juga rekan-rekan sesama benua Asia seperti Turki, Iran, Irak, Pakistan, India, Bangladesh, China, Japan, Korea Selatan, Thailand, Philipina, Singapura, dan Malaysia.

Pertemanan paling berkesan bisa dibilang dari tuan rumah Swedia. Melalui mereka, saya belajar banyak budaya yang sungguh baru bagi saya. Contohnya, personal space yang cukup mencolok. Mereka lebih memilih untuk berdiri dibanding duduk sebangku dengan orang yang tak dikenal. Kepada orang asing dan baru, mereka jauh lebih pendiam dan tertutup, sebuah hal yang membuat saya kikuk, karena saya terbiasa melempar senyuman dan sapaan kepada siapapun yang saya temui dijalan.

Hal lain yang saya pelajari dari teman Swedia saya adalah dia seperti ‘lupa’ terhadap yang terjadi sebelumnya. Suatu waktu, saya pernah mengobrol sembari berjalan bersama menuju tempat study visit yang kurang lebih berlangsung satu jam. Kami berbincang tentang banyak hal, mulai dari perkuliahan, kesejahteraan masyarakat, pengolahan sampah yang begitu baik dan modern, tingkat kriminalitas yang rendah, hingga obrolan seputar imigran dari Timur Tengah yang tinggal di Swedia.

Namun, beberapa hari setelahnya ketika kami berpapasan di gedung Student Union, dia seperti tidak mengenali saya. Jangankan menyapa atau membalas senyuman saya waktu itu, dia hanya cuek melewati saya berlalu dihadapannya seperti orang yang tidak dikenali.

Beberapa kawan berkata bahwa hal seperti itu wajar. Mereka, orang Swedia, cenderung tertutup dan pendiam. Sampai suatu ketika mereka betul-betul merasa nyaman didekat kita, maka saat itulah mereka menjadi sangat welcome dan berusaha erat menjaga tali persahabatan. Buat saya itu adalah sebuah shock culture. Namun, seiring berjalannya waktu, saya dapat berteman baik dengan dia dan teman-teman Swedia lainnya. Saya dapati mereka ternyata orang yang sangat ramah.

SHARE
Previous articleDuta Indonesia di Negeri Orang
Next articlePergi untuk Kembali
Yuda Colombus
Yuda C. Colombus Lahir di Jakarta, 12 Desember 1991 Saat ini sedang menempuh studi magister, jurusan Innovative and Sustainable Chemical Engineering di Chalmers University of Technology, Sweden. Kegiatan lainnya, hiking, backpacking keliling Eropa, belajar bahasa. Motto, "Selalu berpikir positif dan bersyukur"