Animal Farm

Animal Farm

609
0
35 Flares Twitter 0 Facebook 35 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 35 Flares ×

Tidak menarik buat saya untuk membahas buku ini dari sudut pandang umum. Ya, buku ini adalah sebuah alegori tentang revolusi Rusia di tahun 1917. Ya, buku ini adalah kritik George Orwell terhadap Stalin dan Stalinisme.

Jika kamu ingin tahu lebih lanjut tentang itu rasanya kamu tinggal mengetik, “George Orwel Animal Farm” sebagai kata kunci di mesin pencari favorit kamu atau di wikipedia. Saya lebih tertarik untuk mengulas tentang bentuk, simbolisasi dan kenapa, menurut saya, buku ini adalah sebuah karya klasik.

Animal Farm sangat jauh berbeda dengan novel 1984. Buku ini lebih mirip sebuah buku fabel yang dibacakan oleh seorang ayah kepada anaknya sebelum tidur sedangkan 1984 adalah novel yang dijadikan tugas resensi kepada, paling tidak, anak SMA. Buku ini dapat kamu baca dalam 1-2 malam dan cukup ringan.

Kenapa berbentuk fabel dan novelet adalah tetap misteri buat saya.

Apakah Orwell bermaksud membuat buku ini semudah mungkin dicerna? Ataukah ia bermaksud memadukan antara seni bercerita dan sebuah alegori? Jika memang itu maksudnya, maka saya merasa dia sangat berhasil dalam buku ini.

Tema sentral buku ini adalah hewan dan dinamika ‘politik’ mereka. Dan saya bertanya-tanya kenapa Orwell membuat simbolisasi kelas pekerja sebagai hewan sedangkan para kapitalis sebagai manusia? Apakah hanya karena manusia mengeksploitasi hewan?

Kenapa babi ia pilih sebagai simbol kelas pekerja yang intelek? Padahal kita tahu babi adalah hewan yang rakus. Apakah Orwell bermaksud menyindir bahwa para intelek yang memandang dirinya bisa memimpin rakyat itu sama seperti babi: rakus dan pada akhirnya menjijikan?

Rasanya kita rakyat Indonesia ini cukup familiar dengan sifat-sifat ini dan pada siapa itu melekat bukan? Banyak sekali simbol-simbol lain di buku ini, kelinci yang berkepala kosong atau permainan kata, dalam versi inggris, seperti ‘raven’ yang mirip dengan ‘reverend’. Buat saya, menerka-menerka hewan apa sebagai simbol apa dalam kehidupan nyata adalah nilai tambah buku ini.

Dua alasan di atas saja sudah cukup bagi saya untuk memandang buku ini sebagai karya klasik, yang bisa disejajarkan dengan “orang tua dan laut” karya Ernest Hemingway.

Namun jika menurut kamu dua alasan tidak cukup, maka pertimbangkanlah bahwa dengan membaca buku ini kamu bisa sedikit mengetahui sejarah revolusi rusia dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Seperti juga kamu dapat mengetahui sejarah pembentukan nasionalisme di indonesia dari tetralogi Pulau Buru (sebuah karya klasik buatan Pram).

Jika membuat mempelajari sejarah terasa menarik dan menyenangkan tidak dapat membuat sebuah buku disebut karya klasik, saya tidak tahu lagi apa yang bisa membuatnya menjadi sebuah karya klasik.