Haruskah Dropout dari Sekolah?

Haruskah Dropout dari Sekolah?

1024
0
341 Flares Twitter 0 Facebook 341 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 341 Flares ×

Sudah bukan rahasia lagi kalau manusia sangat membutuhkan kesuksesan. Tidak heran, banyak seminar-seminar motivasi yang diadakan untuk memberikan tips-tips menuju kesuksesan. Tidak jarang, tokoh-tokoh emperor IT seperti Steve Jobs, Bill Gates dan Mark Zuckerberg jadi contoh karena mereka dropout dari pendidikan formal mereka.

Tapi apakah sesuai untuk dropout dari sekolah/kampus karena ada contoh-contoh tadi? Saya kurang sreg dengan pernyataan seperti ini, karena perbedaan bakat alam, sistem pendidikan, dan perbedaan usaha.

Pertama, kita harus melihat latar belakang orang-orang tadi. Bill Gates dulunya mengenyam pendidikan di Harvard, Mark Zuckerberg juga dari Harvard, dan Steve Jobs dari Reed College. Tentu bukan universitas sembarangan, karena universitas-universitas tersebut merupakan universitas top di USA.

Untuk masuk ke kampus-kampus tersebut, tentu melalui seleksi yang tidak mudah. Harvard bahkan harus menggunakan Graduate Record Examinations (GRE), versi internasional dari Tes Potensi Akademik (TPA). Untuk yang pernah mengikuti TPA pasti tahu kalau tes itu cukup sulit, setidaknya untuk saya. Kalau bisa diterima di Harvard, berarti memang Anda adalah SDM yang top!

Kedua, soal sistem pendidikan, di Indonesia sempat terjadi kasus ‘ribut’ soal 4×6. Semua heboh dan ngotot soal 4×6, rasa-rasanya semua jadi pakar matematika. Kita, orang Indonesia, dibentuk dalam sistem pendidikan yang buruk. Beda dengan Bill Gates cs yang sistem pendidikanya sudah mapan dan membentuk nalar anak didiknya dengan baik. Memutuskan dropout dengan modal pendidikan dari sistem yang bobrok bukan pilihan yang bijak menurut saya.

Terakhir, masalah usaha. Sah-sah saja sih kalau mau dropout dari sekolah/perkuliahan. Tapi ingat, dunia di luar sana itu keras. Anda harus berusaha lebih keras dari mereka yang menempuh pendidikan formal. Zuckerberg memulai membangun Facebook dengan modal kemampuan pemrograman yang sudah ia pelajari dari bangku SMP. Bill Gates mulia mengoprek komputer di usia 13. Mereka tidak menjadi seorang dropout dengan modal kosong dan hanya mencontoh orang lain.

Lalu, kalau dihitung dari jumlah keseluruhan orang yang dropout dari pendidikan formal, berapa persentasenya yang sampai pada titik seperti Bill Gates cs? 

Saya tidak punya data tentang itu. Saya tidak menyalahkan Zuckerberg cs karena mereka sukses dengan cara dan passion mereka sendiri. Mereka jadi contoh yang baik tentang bagaimana passion dan usaha keras mereka membawa mereka menjadi inspirasi bagi orang lain. Kalau mau dropout, silahkan saja, tapi semua konsekuensinya tidak mudah.

Pada akhirnya saya paham, bahwa setiap orang memiliki ujian yang berbeda-beda dengan jawaban yang berbeda pula tentunya. Anda bukan Steve Jobs, Mark Zuckerberg atau Bill Gates. Anda adalah Anda, dengan segala kekurangan dan kelebihan Anda, dengan jawaban yang berbeda dengan orang lain untuk setiap kerumitan yang Anda alami.

SHARE
Previous articlePangeran Kecil
Next articlePagelaran UKSU-ITB 2015 “Horas Parahyangan”
Patrick Teltoni
Alumnus Teknik Elektro Universitas Kristen Petra, kelahiran Kupang 6 Februari 1989. Mengambil peminatan telematika, sekarang fokus di keamanan informasi sejak pendidikan magister. Sempat menjadi web developer kini menjadi freelance web developer dan R&D. Menyelesaikan pendidikan magister dari Teknik Informatika di Institut Teknologi Bandung sambil menjadi web developer lepas.