Tak Bisa Berkata Tidak

Tak Bisa Berkata Tidak

712
0
2 Flares Twitter 0 Facebook 2 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 2 Flares ×

Dalam film Yes Man (2008) yang dibintangi oleh Jim Carrey, karakter Carl Allen yang adalah seorang penyendiri, mencoba hal baru yakni berkata ‘ya’ pada setiap permintaan yang diajukan padanya.  Pada awalnya hal tersebut membuat dunia Carl terlihat lancar dan semakin indah, sampai akhirnya seluruh perkataan ‘ya’ tersebut membuat kekacauan.

Pada akhirnya, Carl bisa menyelesaikan masalahnya dan menyadari bahwa berkata ‘ya’ hanyalah sebagai contoh bahwa banyak kesempatan yang bisa ia dapatkan dengan mengatakan ‘ya’, namun tidak semua kesempatan tersebut harus diambil.

Sebagai orang yang mudah merasa tidak enak hati, salah satu hal tersulit yang harus dilakukan adalah berkata tidak. Sederhana saja, di luar hal yang diminta, perasaan pribadi kadang-kadang lebih menjadi prioritas. Apalagi bangsa Indonesia dikenal memiliki tingkat interaksi sosial yang sangat intens, sehingga memiliki hubungan yang baik sangatlah penting.

Akibatnya, semua hal cenderung disetujui tanpa memikirkan konsekuensi dan waktu yang mungkin sebenarnya tidak cukup.

Berkata tidak atau menolak suatu permintaan bukanlah suatu hal yang mudah.  Namun, apabila berkata ‘ya’ terus kita lakukan, banyak konsekuensi buruk yang dapat terjadi.  Waktu yang tersita, hasil yang kurang optimal, bahkan gangguan bagi kesehatan pribadi pun dapat terjadi akibat tekanan yang terjadi karena beban fisik dan mental yang didapat.

Jika berkata tidak atau menolak permintaan terasa sulit dan membuat tidak enak hati, ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan untuk menolak permintaan tanpa merasa bersalah, seperti diutarakan dalam situs majalah Forbes:

Pertama, sebelum menjawab permintaan, pikirkan terlebih konsekuensi, waktu dan tenaga yang akan dialokasikan seandainya permintaan tersebut diiyakan.  Pikirkan juga optimasi hasil yang akan dicapai.

Kedua, apabila tidak dapat menyanggupi permintaan, tawarkan bantuan lain yang lebih ringan dan tidak mengganggu prioritas lainnya.

Ketiga, apabila terus didesak untuk menyanggupi, jelaskan dengan baik dan sopan alasan penolakan tersebut.

Di luar semuanya itu, menurut Cloud dan Townsend dalam bukunya Boundaries (Batas–batas), terus menerus menyenangkan hati orang lain dapat berakibat kurang baik dan malah menyebabkan hubungan yang kurang dekat, karena hanya sekadar “memoles” hubungan yang terlihat baik.

Selain itu, proses yang terus menerus dapat mengakibatkan kelelahan mental dan fisik yang tidak ringan. Hal tersebut diakibatkan oleh tidak adanya batas yang jelas antara tugas dan keinginan membantu dengan hanya ingin menyenangkan hati orang lain.

Oleh karena itu perlu kita ingat dengan baik bahwa menolong orang lain pada hakikatnya merupakan hal yang sangat manusiawi. Menyanggupi maupun menolak permintaan orang lain sama–sama penting dan tidak lebih baik satu sama lain, apabila didasari oleh motif yang benar dan tulus. Jangan sampai sesuatu yang awalnya baik menjadi bencana hanya karena kita berpikir kurang jauh ke depan.

SHARE
Previous articleBeda Sejak Dini
Next articlePaul Si Penggerek Mental dari GMKI
Lydia Utami
Lydia Utami Setyorini, lahir di Bandung 16 Maret 1991. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Kegiatan lainnya, belajar musik dan bahasa. Motto, “He who has not tasted bitter, knows not what sweet is.”