Susahnya Mengangkat Tangan

Susahnya Mengangkat Tangan

817
0
16 Flares Twitter 0 Facebook 16 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 16 Flares ×

Rambutnya lurus menjurai panjang hingga kepinggang, tawanya membuat matanya mendadak menghilang–menjadi segaris, akan tetapi tawa itu bisa dengan mudah berganti menjadi kesedihan. Kegalauannya dan curhatnya justru tidak membuat orang simpatik padanya. Ia justru mendapatkan kekerasan verbal dan fisik dari teman-temannya di usia yang sangat belia.

‘Bullying’. Kata yang jarang ditemukan di Indonesia. Ataukah mungkin orang tua, lembaga pendidikan, dan pemerintah yang justru menutup mata akan hal ini? Secara tidak disadari sebenarnya beberapa dari kita ada yang pernah mengalami hal ini di zamannya, saat sekolah dulu. Dampaknyapun secara tidak sengaja mempengaruhi masa depan kita.

Menurut penelitian dari  King’s College, London, mereka yang pernah mengalaminya bisa merasakan dampaknya baik secara psikis dan mental lebih dari 40 tahun.

Coba kita menilik cara penerimaan siswa atau mahasiswa baru di Indonesia. Suatu kali ada tulisan kritis tentang masa orientasi siswa (MOS) yang sampai saat ini masih terus menggelitik. Tulisan tersebut ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali, Guru Besar FE Universitas Indonesia. Isinya sungguh membuka mata bagi kita yang membacanya. Mungkin awalnya kita merasa, “Ehmm.. Tidak ada masalah tuh.” Atau, “Itu kan wajar, supaya kita bisa lebih tegar menghadapi cobaan dan tidak lemah.”

Dalam tulisan itu diceritakan perbedaan pendidikan di Indonesia dan di luar negeri, terutama negara maju. Di Indonesia, masa orientasi siswa diwarnai ‘penggojlokan’ dan tak ayal bahkan memakan korban jiwa! Apakah itu potret dunia pendidikan yang baik? Tentunya perlu dikaji lebih lagi. Ya, simple-nya dalam pendidikan Indonesia itu banyak sekali tekanan-tekanan yang harus dilewati anak didik untuk mencapai prestasi.

Bagi kita yang pernah mengalaminya dan merasa baik-baik saja dengan sistem ini mungkin justru akan mendukung karena dinilai bisa menghasilkan generasi yang tangguh dan mau berkompetisi. Tapi mari kita lihat kenyataannya.

Froebel (Roopnaire, J.L & Johnson, J.E., 1993) mengungkapkan bahwa masa anak merupakan suatu fase yang sangat penting dan berharga, dan merupakan masa pembentukan dalam periode kehidupan manusia. Oleh karenanya masa anak sering dipandang sebagai masa emas (golden age) bagi penyelenggaraan pendidikan. Oleh karena itu lembaga pendidikan berperan penting dalam pertumbuhan psikologi anak juga.

Anak yang saat di sekolah sudah mengalami berbagai tekanan dan minim reward, akan mengalami degradasi kepercayaan diri. Salah satu contoh salah kaprah dari masa orientasi siswa yang ada di Indonesia. Baru saja anak mau memasuki dunia sekolah atau kuliah saja, mereka sudah diperhadapkan dengan penindasan dan penjajahan dari kakak kelasnya. Lucunya, sekolah atau kampus cenderung membiarkan hal itu terjadi.

Padahal seharusnya masa orientasi siswa itu adalah ajang dimana kampus atau sekolah bisa dikenalkan secara mendalam. Apa fasilitasnya, bagaimana kondisi belajarnya, suasana kelas maupun  teman-temannya, dan masih banyak lagi. Bukan menjadi ajang balas dendam. Uniknya lagi berlanjut ke masa belajar dan ujian. Tak ayal kata-kata membandingkan dan merendahkan tidak sengaja keluar dari pendidik.

“Yah, masa begitu saja tidak bisa. Kamu belajar dirumah tidak?”  atau  “Ah, kamu tidak baca bukunya ya? Kamu saja yang malas nih.”

Kalimat seperti itu tidak seharusnya keluar dari mulut pendidik. Justru motivasi yang dibutuhkan anak untuk bisa berprestasi dan percaya diri. Itu mengapa banyak anak di negara maju yang memiliki inisiatif tinggi. Mereka tidak sungkan untuk mengangkat tangan mereka. Entah untuk bertanya, entah untuk menjawab. Entah jawaban yang baik dan benar, entah hanya sekedar mengomentari. Tapi setidaknya mereka sudah berani mencoba.

Motivasi dan reward menghasilkan pribadi yang mau maju dan mampu berkompetisi, bukan pribadi yang memiliki mental dijajah. Dijajah senior, dijajah teman sendiri. Takut mengeluarkan pendapat karena takut apa yang diutarakan tidak sesuai atau menjadi bahan olokan. Baru masuk sekolah (tahap MOS) sudah dikerjai dan ditindas, bagaimana mau maju kedepannya kalau tidak memiliki mental kuat.

Mari kita berkaca pada negara maju. Mengapa mereka banyak menghasilkan orang-orang yang berkompeten dan maju? Karena pendidikan disana memotivasi anak untuk berkembang. Disana pulalah pemerintah maupun lingkungan begitu peduli dengan masalah bullying, walaupun sampai sekarangpun masalah tersebut belum tuntas selesai. Akan tetapi ada penanganan serius dari pihak lembaga pendidikan mengenai hal itu. Bukan menutup mata.

Sebenarnya ada berbagai macam cara yang bisa dipakai orang tua untuk memotivasi anak agar berprestasi dan memiliki inisiatif. Dalam buku Ayah Eddy Menjawab, dipaparkan 5 caranya. Pertama, dimulai dari mengakui prestasi-prestasi kecil yang dilakukan anak. Seringkali orang tua menganggap remeh prestasi kecil anak, padahal bermula dari prestasi kecil seperti mau memakai sepatu sendiri misalnya, bisa menghasilkan prestasi dan inisiatif.

Kedua, saat anak tidak berprestasi, jangan bandingkan ia dengan prestasi anak lain. Ketiga, jangan mengklaim prestasi anak sebagai hasil dari kerja keras orag tua. Misalnya, ”Wah.. anaknya siapa dulu donk, anak mama.” Keempat, jika anak sedang tidak berprestasi, orang tua sebaiknya bukan memberikan nasihat melainkan bertanya dan mendengarkan jawabannya. Hindari kata-kata merendahkan si anak ketika orang tua mendengarkan jawabannya.

Yang terakhir, jika anak sudah termotivasi, orang tua sebaiknya tidak perlu lagi memotivasi anak agar mereka tidak merasa terbebani.

Nah, kapan ya pendidikan di Indonesia penuh motivasi dan saling mendukung hingga tercapai bangsa yang cerdas dan berinisiatif? Semua bisa dimulai dari kita.

Sumber:
http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/04/140418_pendidikan_bullying.shtml
http://ayahkita.com/
SHARE
Previous articleMenerobos Zona Nyaman
Next articleBebas dari Mental Jajahan
Contasia Christie
Contasia Christie Ayuningsih cewek kelahiran Jakarta 19 Juni 1989. Saat ini bekerja di Jakarta.