Sedikit Tamak untuk Rasa Takut

Sedikit Tamak untuk Rasa Takut

797
0
3 Flares Twitter 0 Facebook 3 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 3 Flares ×

Setiap melakukan sesuatu, saya selalu mencari sesuatu yang bermanfaat bagi saya. Sesuatu yang unik, tidak biasa. Begitu pun di salah satu pelatihan jurnalistik yang saya ikuti. Di tengah peserta lain yang merupakan mahasiswa, terlihat seorang yang bukan merupakan mahasiswa. Benar saja. “Umur saya 72 tahun,” ujarnya ketika memperkenalkan diri.

Namanya Nina Yomiana. Ia bekerja sebagai seorang wartawan juga seniman. Belajar merupakan salah satu tujuan Nina mengikuti pelatihan jurnalistik kali itu. Selebihnya, ia juga sedang meliput untuk media massa cetak binaannya di Sumedang.

Badannya kurus, tapi masih terlihat bersemangat. Pada sesi istirahat, Nina bahkan masih sempat berpoles diri untuk menjaga penampilannya. Ketika ditanya, apakah dirinya tak takut berada di antara kaum muda? “Justru saya senang berada di tengah anak-anak muda,” katanya lugas.

Menarik. Sengaja saya tanyakan apakah ia takut atau tidak, karena saya menerka-nerka mengapa ia begitu terlihat percaya diri. Wajar jika orang seusianya merasa takut dengan umurnya. Wajar jika orang seusianya sudah tak mau lagi belajar karena merasa bukan saatnya lagi untuk belajar. Wajar jika ia takut tidak diterima sekitarnya karena umurnya yang tak lagi muda. Semua alasan tersebut bisa dikatakan wajar, tapi Nina memilih menjadi orang yang “tak wajar”.

Rasa takut memang wajar. Dengan dosis kecil, rasa takut bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan serta tindakan. Namun, dosis takut yang besar bisa berakibat fatal. Takut bisa menghambat seseorang untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Takut bisa menghalangi seseorang untuk melakukan sesuatu yang diinginkan atau berguna baginya.

Cara mengatasi rasa takut bermacam-macam. Robert T. Kiyosaki, pengusaha juga penulis buku Rich Dad Poor Dad, mengatakan untuk mengatasi rasa takut, seseorang harus menjadi sedikit tamak. Maksudnya bukan menjadi serakah. Menjadi sedikit tamak berarti lebih melihat pada tujuan yang ingin diperoleh.

Saya melihat pola ini berhasil dalam hidup saya. Mendapatkan sesuatu yang unik dan bermanfaat bagi saya menjadi motivasi saya mengikuti suatu kegiatan, salah satunya pelatihan jurnalistik. Jika saya melewatkan kesempatan mengikuti pelatihan jurnalistik, saya mungkin tak bertemu dengan Nina dan belajar banyak darinya. Lain lagi bagi Nina, belajar dan mendapatkan bahan liputan menjadi alasannya hadir di pelatihan jurnalistik. Namun kami memiliki kesamaan. Tujuan menjadi penyemangat kami melakukan sesuatu.

Jika cara tersebut kurang manjur, ‘resep’ ekstrim dari Bob Sadino pengusaha terkenal asal Indonesia, mungkin bisa dipraktikkan. “Jangan terlalu banyak mikir, berusaha saja,” ujarnya di salah satu iklan. Terserah Anda ingin melakukan yang mana, karena masih banyak jalan menuju Roma. Yang terpenting, duduk diam tak pernah mengubah keadaan, tindakanlah yang mengubahnya.***