Paul Si Penggerek Mental dari GMKI

Paul Si Penggerek Mental dari GMKI

994
0
315 Flares Twitter 0 Facebook 315 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 315 Flares ×

Pemuda adalah generas penerus, yang akan melanjutkan kemerdekaan Indonesia. Kita masih melihat hal-hal yang mencerminkan mental dan sikap terjajah ada dalam diri pemuda kita. Ini merupakan pekerjaan rumah yang menjadi tugas kita bersama.

Ada orang-orang juga komunitas yang memiliki kepedulian dan getol mendorong agar para pemuda-pemudi kita bermental merdeka. Kita perlu belajar dan mendukung apa yang mereka perjuangkan.

Salah satunya, Paulus Lubis yang biasa dipanggil Paul, dengan tekun mendorong kebangkitan mental generasi muda Indonesia. Apa saja tantangan dan kejadian yang Paul dan rekan-rekannya alami, simak wawancara FOKAL dengannya.

FOKAL: Sebagai seorang yang berkecimpung di pergerakan kaum muda, apa Paulus melihat mentalitas terjajah di kalangan pemuda kita?

Paul: Masih. Ini adalah bahan diskusi yang tak berkesudahan, menjadi akar dari setiap permasalahan yang sering kita bahas dalam diskusi-diskusi di organisasi kemahasiswaan. Permasalahan di Indonesia kebanyakan berasal dari mental inlander yang masih dianut oleh sebagian orang Indonesia.

Sangat mudah menemui hal ini, di jalan raya, hitung berapa banyak yang taat berlalu lintas. Tak banyak jika tidak mau dikatakan minim. Melawan arus, menerobos lampu merah, hal yang biasa kita temui di jalan di Indonesia. Sebagus apapun peraturan, sehebat apapun mereka yang menjadi pengawas dilaksanakannya peraturan tersebut, kalau mental yang diatur tak baik, sulit peraturan tersebut dijalankan. Ini tugas kita bersama mewujudkan pembaruan karakter bangsa.     

FOKAL: Dalam contoh apa mentalitas itu paling terlihat?35_profil 2

Paul: Disamping hal di atas, contoh lainnya adalah cara kita memandang kecantikan masih perlu diperbaiki. Di Indonesia perempuan cantik itu adalah perempuan yang berkulit putih, hidung mancung, dan lain-lain. Sementara idealnya perempuan Indonesia itu cantik dengan caranya, cantik dengan kulit sawo matangnya, dan segala unsur “keindonesiaan” yang melekat padanya. Ini adalah contoh paling nyata, bagaimana sebagian orang Indonesia masih terpengaruh oleh mental inlander.

Hal lain adalah, cara memandang orang asing. Faktanya kita sering lebih mengapresiasi pekerjaan orang asing di banding pekerjaan anak negeri padahal boleh dibilang kualitasnya tidaklah jauh berbeda.

Di televise, pesohor negeri ini kerap mencampur Bahasa Indonesia dengan bahasa asing agar terlihat ‘keren’. Itu mental jajahan!

Dalam menggunakan kebutuhan sehari-hari, kita kerap lebih menggunakan produk asing dibanding produk dalam negeri. Sebagian orang Indonesia lebih bangga menggunakan produk luar dibanding produk dalam negeri.

FOKAL: Menurut Paulus, hal-hal apa yang membuat mentalitas seperti itu tetap tumbuh subur?

Paul: Saya melihat bangsa Indonesia tengah berproses dan akan terus berproses semakin baik. Sejak kemerdekaan banyak pencapaian-pencapaian yang kita raih. Masih ada yang kurang, pasti. Namun pertanyaannya sejauh mana kita berfokus pada penambalan kekurangan-kekurangan tersebut.

Sebagai negara bekas jajahan, embrio mental jajahan ditanamkan selama lebih dari 360 tahun. Untuk mengikisnya habis tentu membutuhkan proses. Prinsipnya lebih cepat lebih baik, semakin cepat mental jajahan tersebut enyah dari negeri ini, semakin cepat negeri ini lepas landas bersaing dengan negara-negara lainnya.

Tidak ada ‘perlawanan’ yang serius terhadap pengaruh mental tersebut, menjadi salah satu faktor penghambat sulitnya mental jenis ini dibasmi. Hal ini bisa dimulai dari lingkup pendidikan paling dasar, pendidikan karakter dan mental hanya sisipan kecil. Sementara idealnya, hal inilah yang penting, untuk membangun manusia Indonesia yang bermental merdeka dengan segala isinya.

FOKAL: Berkaca dari pengalaman pribadi, bagaimana kita seharusnya mengikis sikap seperti itu dalam diri kita dan lingkungan sekitar kita?

Paul: Tidak mudah, namun harus dipaksa. Mental jajahan identik dengan karakter buruk, tabiat buruk, mental jongos (mental disuruh-suruh). Yang paling penting adalah kemauan diri sendiri.

Perlu juga bermental cuek, dalam artian, tat kala kita keluar dari cara hidup orang kebanyakan, yang bermental inlander, pasti ada cibiran, yang diperlukan adalah mental pemenang.

FOKAL: Sepanjang terlibat dalam gerakan kaum muda, apa yang Paulus telah lakukan bersama rekan-rekan untuk mengembangkan mentalitas yang merdeka di kalangan kaum muda kita?

Paul: Selama beraktifitas di GMKI, kami keras terhadap pengaruh asing  yang masuk ke sendi kehidupan Indonesia. Keterlibatan asing boleh, namun harus ketat diatur. Dalam perspektif yang lebih luas kita mau berdiri sejajar dengan mereka yang ‘asing’.

FOKAL: Sejauh mana organisasi kepemudaan bisa berperan dalam hal ini?

Paul: Segala sesuatu sangat mudah dilakukan jika memulai adalah dari anak muda. Pola pikir usang yang kita sadari merupakan bentuk penjajahan yang dianut oleh orang tua kita, akan sangat sulit dirubah, yang paling mungkin adalah kita yang masih muda, yang tingkat kesadaran akan keadaan ini sudah tinggi.

Setiap organisasi dapat membentuk mental kader yang diinginkan dengan mental dan karakter yang baik. Organisasi menjadi penting karena disana akan banyak interaksi antar anggota yang memungkinkan transfer pengetahuan terjadi, hal ini dapat menjadi sarana kita untuk  merubah posisi kita sebagai bangsa ‘terjajah’.

Saat ini organisasi anak muda di Indonesia harus kreatif dalam menjalankan aktifitasnya, pun demikian dalam upaya mengikis mental inlander. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan potensi masing-masing yang dimiliki organisasi.

Mulai dari pendidikan kader yang membentuk karakter anggota yang bermental pemenang, sampai kampanye kreatif, yang lagi hits adalah kampanye di media sosial. Hal ini bertujuan, pertama, menyadarkan si pemilik mental jajahan, selanjutnya setelah sadar langkah menghilangkan mental tersebut menjadi lebih mudah.

FOKAL: Saat kita mau memperbaiki mentalitas dalam skala pergerakan/organisasi, apa tantangannya?

Paul: Tantangan terbesar adalah dari “diri kita” sendiri, saudara sendiri. Sehebat apapun pengaruh dari luar, jika kita dibekali kemauan yang kuat untuk memastikan kita tak ingin dan tak sudi dijajah dengan pembentukan pola pikir hal tersebut, kita tak akan menjadi sekolompok manusia yang tengah dijajah.

Hal lain adalah, kita kadang tidak sadar bahwa kita tengah dijajah. Ini perlu menjadi perhatian.

FOKAL: Apa yang membuat Paulus tetap yakin dan bersemangat mengusahakan agar pemuda kita bisa menjadi manusia merdeka?

Paul: Bangsa ini akan terus bertransformasi menjadi bangsa yang kuat secara ekonomi, kuat secara poliitik dan karakter kebangsaannya. Bahkan saya sangat optimis menyongsong generasi emas Indonesia 2045, kita akan dapat menunjukkan bahwa Indonesia bukan bangsa kuli, bukan pula kulinya bangsa-bangsa lain sebagaimana Soekarno pernah menantang anak muda negeri ini untuk menunjukkan pada dunia, dengan kebersamaan kita bisa!

Negeri ini dibangun dengan optimisme, kala menjadi sebuah negara Indonesia  hanya ‘dibekali’ 5% dari penduduk negeri yang dapat membaca. Kalau bermental ‘tempe’ harusnya pemimpin malas untuk berbuat apa-apa. Namun optimisme pemimpin negeri kala itu berhasil menggerek angka itu menjadi tidak kurang  dari 95% sampai saat ini. Mental Indonesia saat ini harus serius dibangun guna mewujudkan generasi emas Indonesia 2045.

Biodata:
Nama: Paulus Lubis
Tempat/Tgl Lahir: Tobasa, 22 September 1989
Pendidikan Terakhir: Sarjana Hukum, Unpad
Jabatan Organisasi:
Ketua GMKI Cab. Bandung (2010 – 2011)
Ketua Bidang Komunikasi dan Hubungan Internasional GMKI Pusat (2012 – 2014)
Pekerjaan:
Lawyer, Hutabarat Halim dan Rekan (2012 – 2013)
Lawyer, Setiarto & Pangestu Law Firm (2014 – sekarang)
SHARE
Previous articleTak Bisa Berkata Tidak
Next articleLatah Gadget