Latah Gadget

Latah Gadget

793
0
3 Flares Twitter 0 Facebook 3 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 3 Flares ×

Gadget tidak lagi menjadi mainan para ahli IT atau beberapa menyebutnya dengan isitilah bahasa Inggris, nerd. Zaman media sosial ini menbuat gadget menjadi perpanjangan dari siapa kita. Banyak dari kita, baik tua maupun muda, kaum professional maupun ibu rumah tangga memiliki ketergantungan dengan yang namanya gadget baru.

Ragam gadget pintar—seluler pintar, tablet, dan lainnya telah mewarnai hidup sehari-hari kita, bukan hanya untuk urusan yang sesuai kegunaannya, tetapi untuk urusan ramah temeh. Setiap produk baru akan selalu mendapat perhatian yang banyak, meski teknologi yang dikeluarkan tidak jauh melebihi produk sebelumnya.

Kondisi ini, menurut pengamat produk telekomunikasi Herry S.W disebabkan karena masyarakat Indonesia memiliki sifat latah terhadap gadget1. Sifat latah ini menurut Herry menjadi pendorong masyarakat berlomba untuk memiliki perangkat bergerak keluaran terbaru. Masyarakat tidak terlalu peduli apakah mereka akan memanfaatkan seluruh fiturnya atau tidak. Hal ini membuat penjualan gadget di Indonesia laris manis.

Kita mungkin akan sependapat pada Herry jika melihat angka statistik penjualan gadget di Indonesia. Riset Growth from Knowledge (GfK), pertumbuhan tablet di Indonesia sepanjang 2013 mencapai 141 persen. Adapun jumlah penjualannya mencapai 1,3 juta unit. Penjualan tablet di Indonesia juga tak kalah habit, berada di urutan teratas di antara negara Asia Tenggara.

Sadar atau tidak, latah—menurut istilah Herry—bisa menjadi sikap yang membuat kita lupa akan fungsi dari perangkat tersebut. Latah yang dimaksud adalah suatu keadaan dimana ketika sekelompok orang (dalam hal ini masyarakat Indonesia) cenderung meniru dan mengikuti apa yang sedang digandrungi oleh kelompok lain. Kebiasaan ikut-ikutan beli barang yang sedang tren jika diteruskan, bisa-bisa menjadi mendarah-daging bagi masyarakat Indonesia.

Jika kita telaah lebih jauh, prilaku latah ini mungkin disebabkan beberapa hal mulai dari gabungan teknologi, ekonomi dan sifat orang Indonesia. Penyebab pertama mungkin adalah lompatan teknologi. Kita terkesima terhadap tampilan maupun iklan dari suatu produk dan ingin memilikinya namun belum tentu membutuhkan barang tersebut. Kita membeli atau memiliki produk tersebut hanya karena teknologi yang ditawarkan menarik.

Hal ini juga didukung oleh kondisi perekonomian Indonesia. Lahirnya banyak golongan menengah serta stabilnya perekonomian membuat kita bisa memiliki cukup uang untuk membeli gadget dengan teknologi hebat. Telepon genggam yang semula dirasakan mewah dan harganya sangat mahal, kini bisa dibeli mulai dari ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah.

Penyebab berikutnya adalah masyarakat Indonesia yang senang silaturahmi dan bercengkrama. Fitur media sosial dan pesan singkat murah (dan bisa tergabung dalam grup) membuat masyarakat kita bisa bersilaturahmi tanpa harus tatap muka dan bisa dalam setiap waktu. Hal ini yang mungkin membuat seluler pintar paling banyak digunakan untuk mengirim pesan.

Menurut Lembaga Riset Nielsen, penggunaan seluler pintar oleh orang Indonesia didominasi aktivitas chatting (mengobrol) yakni 94 persen. Aktivitas berikutnya adalah browsing (71 persen), jejaring sosial (64 persen), blog dan forum (41 persen), toko aplikasi (32 perseb), video (27 persen), dan hiburan (25 persen)2.

Hal terakhir adalah kita sebagai manusia adalah makhluk sosial yang tidak mampu hidup sendiri dan sangat mudah dipengaruhi oleh tekanan kelompok atau sosial. Tekanan ini menyebabkan kita terbiasa untuk mengikuti tren karena tidak ingin merasa tertinggal dan kemudian dianggap berbeda oleh orang-orang di sekitar kita.

Teknologi sebetulnya tentang kebutuhan. Jika kita masih membeli karena faktor ‘yang penting punya’, tentu teknologi yang ditawarkan akan membuat kita kewalahan menggunakannya. Kita akan selalu kewalahan dengan banjirnya teknologi gadget baru. Jika kita tidak melihat kebutuhan, kita akan selalu merasa butuh teknologi terbaru.

Teknologi juga muncul untuk membantu kebutuhan kita secara mudah. Misalnya, dulu kita mengirim pesan singkat kepada satu orang untuk janjian dengan satu orang, sekarang cukup dengan sosial media kita dapat mengumpulkan 20 orang atau lebih dengan satu pesan di grup komunikasi.

Tentu gadget sekarang tidak hanya urusan telekomunikasi. Banyak ilmu serta hal kreatif lainnya yang dapat kita kembangkan. Jika gadget yang kita miliki sekarang hanya kita pakai untuk penggunaan yang dilansir laporan lembaga riset Nielsen tersebut, maka kita hanya hanya menggunakan sebagian kecil dari perkembangan tersebut dan melewatkan kebaikan teknologi.

Ada baiknya kita tidak sekadar latah teknologi, tetapi memastikan fungsi serta kelebihan dan kekurangan gadget tersebut. Diperlukan kedewasaan pemahaman untuk mengetahui suatu gadget terbaru langsung serta merta menjadi solusi kebutuhan teknologi kita. Bisa jadi gadget yang kita miliki sekarang mampu menjawab kebutuhan kita akan teknologi namun kita belum menggunakannya secara maksimal.

Kita tentu tidak ingin mengamini ketakutan Einsten bahwa teknologi akan melampaui interaksi manusia dan dunia akan memiliki generasi yang idiot. Oleh karena itu mari kita melihat kebutuhan gadget secara bijak. Jika belum butuh, tidak usah gengsi karena tidak punya gadget terbaru.

Sumber:

Satwika Movementi, “Tak Peduli Fitur, Konsumen Gadget Indonesia Latah” dalam situs Tempo.com <http://www.tempo.co/read/news/2013/10/11/108521145/Tak-Peduli-Fitur-Konsumen-Gadget-Indonesia-Latah>

2  Thomas Mola, “Survei Buktikan Orang Indonesia Paling Suka Ngobrol” dalam situs Kabar24.com <http://www.kabar24.com/info-digital/read/20130802/71/197511/survei-buktikan-orang-indonesia-paling-suka-ngobrol>

SHARE
Previous articlePaul Si Penggerek Mental dari GMKI
Next articleKritikku Harimauku
Efraim Sitinjak
Seorang pria berkebangsaan Indonesia. Lahir di kota kecil di Sumatera Utara, Sidikalang. Pendidikan terakhir S1 jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota dari ITB. Suka membaca, menulis, menonton dan fotografi serta berdiskusi.