Kritikku Harimauku

Kritikku Harimauku

780
0
271 Flares Twitter 0 Facebook 271 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 271 Flares ×

Mengkritik itu mudah. Hal ini terasa betul sepanjang dua bulan yang silam (Juni dan Juli 2014), ketika perhatian sebagian besar masyarakat tertuju pada momen pemilihan presiden dan piala dunia. Seketika orang-orang “paham betul” bagaimana cara berpolitik, dan bagaimana cara bermain bola. Rasanya tak perlu pendidikan atau pengalaman khusus untuk dapat menjadi komentator.

Seperti halnya mengeluh, mengkritik lebih mudah dilakukan karena memberikan kepuasan tersendiri pada ego kita sebagai manusia. Kritik menempatkan kita pada posisi yang superior, “lebih tahu” tentang hal yang kita kritisi. Lewat kritik kita, kita dapat menyorot pihak yang harus membenahi diri dan menyelesaikan masalah yang menjadi perhatian kita. Padahal sesungguhnya ketika kita mengkritik sesuatu, kita ikut mempunyai tanggung jawab yang besar atas hal yang kita komentari.

Penulis Oscar Wilde pernah berkata, “Kritik adalah satu-satunya bentuk otobiografi yang terpercaya.” Kritik kita sesungguhnya lebih banyak mencerminkan siapa dan bagaimana diri kita, daripada orang atau hal yang kita kritik. Karenanya, ketika kita memutuskan untuk mengkritik sesuatu, kita sedang mengambil tanggung jawab yang besar; pertama, tanggung jawab akan diri kita sendiri; dan selanjutnya akan apa yang kita kritisi.

Kritik kita mempertaruhkan kredibilitas kita. Sumber berita yang kita ambil sebagai dasar kritik kita, hal yang menjadi sorotan utama kita (apakah kita fokus terhadap “pribadi” atau “sikap/kinerja”?), bahasa yang kita gunakan untuk mengkritik; semua menunjukkan etos kita sendiri. Anda tentu pernah mengalami menjadi kagum terhadap seseorang setelah mendengar paparannya akan suatu masalah. Atau sebaliknya menjadi kehilangan respek terhadap seseorang akibat caranya mengomentari suatu hal.

Selanjutnya, ketika kita mengkritik, kita pun bertanggung jawab untuk membantu menyelesaikan masalah yang ada. Saat kita menyadari tanggung jawab ini, kritik kita akan berubah menjadi sebuah umpan balik; pintu untuk berdiskusi dan bekerja sama menuju kondisi yang lebih baik.

Jika kritik berfokus pada kesalahan, mengecilkan orang lain, dan menempatkan diri (kritikus) sebagai pengawas atau pengamat; maka umpan balik berfokus pada ruang untuk perbaikan, menyemangati orang lain, dan menempatkan diri sebagai rekan kerja yang berusaha bersama merah kondisi yang lebih baik.

Berbeda dengan kritik, umpan balik menuntut kita untuk secara konsisten memperhatikan dan memperjuangkan perbaikan atas kondisi yang kita komentari. Kita bertanggung jawab untuk tidak hanya mengeluarkan status/pernyataan di saat isu sedang panas saja, tetapi juga memberi saran, memantau, dan jika memungkinkan, melakukan aksi sampai terjadi perubahan ke arah yang lebih baik.

Sayangnya, contoh kebiasaan mengkritik yang tak bertanggung jawab masih banyak kita temui di antara tokoh masyarakat kita. Koar-koar yang keluar dari mulut mereka untuk mengkritik pemerintahan seringkali tidak diiringi peran aktif mereka dalam memperbaiki kondisi yang mereka kritisi.

Orang-orang ini tidak turun ke lapangan untuk menunjukkan bagaimana seharusnya jalannya sistem yang mereka kritisi. Mereka tak datang kepada masyarakat untuk menklarifikasi hal yang mereka komentari, dan bersama-sama mencari jalan keluar.

Kritik mereka akhirnya terlihat hanya didasari kepentingan pribadi atau golongan, dan bukan motivasi yang tulus ingin memperbaiki keadaan. Apalagi ketika kritik mereka baru ramai terdengar menjelang masa pemilihan saja.

Menyambut hari jadi Indonesia yang ke-69, dan dimulainya periode kerja presiden yang telah terpilih, rasanya tepat jika kita membenahi cara kita menunjukkan kepedulian kita terhadap kinerja pemerintah dan kehidupan bermasyarakat. Tak hanya menjadi kritikus yang omong besar tanpa tindakan, dan tak hanya menjadi kritikus musiman.

Sumber:
http://www.psychologytoday.com/blog/anger-in-the-age-entitlement/201404/whats-wrong-criticism
http://www.huffingtonpost.com/donna-labermeier/negative-impact-of-criticism-_b_3829346.html
SHARE
Previous articleLatah Gadget
Next articleTaat Kalau Diancam dan Diawasi
Ernestasia Rahel Siahaan
Saat ini bekerja sebagai PhD Candidate di bidang Multimedia Quality of Experience, di TU Delft, Belanda. Quote favorit: "The foundation of every state is the education of its youth." - Diogenes Laertius