Bebas dari Mental Jajahan

Bebas dari Mental Jajahan

797
0
41 Flares Twitter 0 Facebook 41 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 41 Flares ×

Dalam pidatonya di salah satu sidang BPUPKI, Bung Karno mengungkapkan bahwa deklarasi kemerdekaan barulah berupa pintu gerbang. Banyak hal “lain-lain” yang harus diusahakan agar kita bisa mencapai kemerdekaan sejati. Hal lain-lain itu bisa mencakup aspek kesejahteraan, pendidikan, kedaulatan ekonomi dan segudang masalah lain yang bisa disebut. Namun satu yang beliau lumayan tekankan adalah menyangkut mentalitas.

Perlu seabrek daya upaya untuk mengubah dari terjajah ala inlander menjadi semangat insan yang merdeka. Untuk mentransformasi ketidakpercayaan diri bangsa jajahan, menjadi negara berdikari. Apa yang dikerjakan beliau di tahun-tahun pasca kemerdekaan, nampaknya memang diprioritaskan ke arah itu.

Namun kerja sang proklamator itu boleh dibilang belum berhasil sepenuhnya. Di tahun ke-69 kemerdekaan, kita masih berjumpa sejumlah pekerjaan rumah terkait mentalitas terjajah.

Tidak perlu terlalu muluk menyibak kondisi politik dan ekonomi makro. Dalam keseharian kita bisa dengan mudah memberi contoh mentalitas tak merdeka. Mulai dari sikap ngeles terhadap disiplin, kurangnya inisiatif untuk maju, kebiasaan hanya mengeluh tanpa berani memberi solusi, kegandrungan pada yang serba asingikut-ikutan tren, sampai ketakberanian menentukan pilihan dan mengambil risiko. Semua sikap itu membiasa di tengah masyarakat kita, seolah menjadi hal yang baik-baik saja.

Ini tentu bukan melulu soal salah negara penjajah. Mengembangkan mentalitas merdeka atau mentalitas terjajah, tak harus berhadapan dengan sosok penjajah secara langsung. Pada hakikatnya kemerdekaan, sebagai mana diungkapkan Mgr. Soegijapranata, adalah kemampuan kita mendidik diri sendiri. Bagaimana kita sadar dan bertanggung jawab atas peran yang kita emban. Tak ada artinya kita memiliki serangkaian kemerdekaan, sejumlah kebebasan, namun kita tak mampu mendidik diri dalam mensyukuri dan memanfaatkannya.

Refleksi Bapa uskup tadi tentunya relevan untuk didalami generasi muda kita. Generasi sekarang tak mengalami susahnya merebut kemerdekaan negara. Generasi ini juga hampir tak mengalami sulitnya memperjuangkan kemerdekaan berekspresi dan kebebasan berpendapat. Ya, kita tinggal menikmati. Namun justru disitulah celahnya.

Kita secara luaran tampak merdeka dan bebas, namun ternyata menumbuh-kembangkan mentalitas terjajah. Kita gagal mendidik diri dalam kemerdekaan yang sudah tersaji. Walhasil, kita pun gagal meraih kemerdekaan sejati.

Pada edisi 35 ini, para penulis FOKAL mencoba mengidentifikasi ciri mentalitas terjajah tadi di keseharian kita. Lewat telaah naratif-kritisnya, para penulis mencoba menyajikan potret sederhana akan suburnya sikap terjajah di kehidupan bangsa ini.

Semua ini tentu bukan untuk mencoreng sakralitas perayaan kemerdekaan yang kita jalani. Namun lebih menggugah kesadaran atas apa yang kita maknai sebagai ‘kemerdekaan’ dan bagaimana kita mengisinya juga dengan mentalitas yang merdeka.

Hal lebih jauh yang kami harapkan adalah munculnya keberanian-kritis untuk mulai membentuk mentalitas yang merdeka. Dimulai dari hal yang sangat lekat dengan keseharian kita.

SHARE
Previous articleSusahnya Mengangkat Tangan
Next articlePelatihan Penulisan Dasar & Opini (Angkatan ke-9)
Risdo Simangunsong
Saat ini bekerja sebagai penerjemah dan pengajar privat. Beberapa kali menjadi pemateri, trainer dan konsultan dalam diskusi, pelatihan dan evaluasi terkait pengembangan pendidikan dan pergerakan generasi muda.