Tolak Uang dan Calegnya

Tolak Uang dan Calegnya

608
0
20 Flares Twitter 0 Facebook 20 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 20 Flares ×

Tidak terasa sebentar lagi, seluruh Warga Negara Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi. Kita akan sama-sama memilih caleg, capres dan cawapres. Para calon-calon tersebut sudah bersiap-siap dari sekarang untuk menarik simpati warga masyarakat. Berbagai cara dilakukan, bahkan tak jarang dengan melakukan “transaksi politik”.

Dalam tulisan “Ini Alasan Masyarakat Memilih Caleg dan Capres”, yang dimuat di sindonews.com, 6 September 2013 lalu, pengamat sosial, Heru Budianto, mengungkapkan alasan dilakukannya transaksi politik, yakni untuk meraih simpati publik dengan memberikan berbagai hadiah, berupa amplop dan sembako.

Alasan kedua adalah adanya gejala semacam “balas dendam politik” antara pemilih dengan calon yang dipilih. Pemikiran yang timbul karena para pemilih merasa mereka tidak akan diingat lagi kalau para calon tersebut terpilih maka menimbulkan perilaku ada barang atau ada uang maka kami pilih. Terakhir, adanya persepsi dari para calon yang bertarung, jika memberikan bantuan uang atau sembako pasti akan dipilih.

Menurut saya pribadi alasan para calon tersebut membagi-bagikan uang atau barang tidak lain karena mereka ingin dikenal dan ingin menarik simpati dari masyarakat. Untuk para calon legislatif, dengan jumlah partai yang banyak mengakibatkan jumlah pesaing yang banyak. Maka untuk dapat diingat dan dikenal masyarakat luas para caleg tersebut harus melakukan sesuatu dan dipilihlah cara seperti itu.

Sebagai warga negara yang baik, kita harus menggunakan hak pilih kita nanti. Jangan sampai kita tidak peduli dan memilih “golput”. Sebelum menggunakan hak pilih, sebaiknya kita lebih dulu menyelidiki satu per satu calon yang ada. Jangan sampai kita memilih hanya karena “Ohh.. pilih caleg itu aja.. soalnya caleg itu sering ada di tv..” atau “Ohh.. caleg yang itu aja.. orangnya royal dan suka bagi-bagi sembako..”

Nasib Indonesia 5 tahun ke depan ada di tangan kita. Jangan sampai nanti kita hanya mengeluh karena para pemimpin tidak membawa kemajuan kepada negara padahal kita turut andil memilih mereka.

Mungkin kita merasa tak punya waktu untuk menyelidiki satu persatu calon. Kita bisa memanfaatkan waktu terjebak macet di jalanan atau saat menunggu angkutan umum, dengan searching informasi. Memang, informasi yang kita dapatkan tidak bisa 100% kita terima. Kita harus menyaring apakah itu berita sebenarnya atau hanya polesan media. Kemudian yang terpenting, jangan sampai kita menggadaikan hak pilih kita demi uang semata.

Mungkin kita bertanya-tanya harus memilih pemimpin yang seperti apa? Toh tidak ada calon yang sempurna.. Pasti akan ada kekurangannya.

Bagi saya pemimpin itu harus memenuhi beberapa syarat: pertama, pemimpin itu harus taat beribadah dan menjadikan agama dan ketetapan agamanya sebagai dasar menjalani kehidupan. Karena di semua agama dilarang untuk melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme.

Kedua, calon pemimpin tersebut harus mempunyai sikap tegas dan konsisten. Kembali lagi, kita harus mencari tahu apa yang dilakukan calon pemimpin tersebut beberapa tahun belakangan ini. Jangan mencari tahu hanya setahun terakhir karena bisa saja setahun terakhir sudah dipenuhi dengan polesan.

Ketiga, bagi saya pemimpin itu harus berani dan berpikir jauh ke depan. Berani ketika harus mendahulukan kepentingan rakyat diatas kepentingan diri sendiri dan kepentingan partai. Tapi tidak hanya berani, pemimpin juga harus berpikir jauh ke depan, setiap pilihan yang diambil dipikirkan segala risiko ke depannya.

Agaknya  sulit mencari yang memenuhi syarat-syarat tersebut. Tapi pasti ada calon yang mendekati syarat-syarat tersebut asal kita mau turut aktif mencari tahu setiap calon yang ada. Selamat mencari tahu dan selamat menjalankan kewajiban sebagai warga negara yang baik.