Suara Kita, Masa Depan Kita

Suara Kita, Masa Depan Kita

765
0
40 Flares Twitter 0 Facebook 40 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 40 Flares ×

Siang itu dalam perjalananku menuju Jatinangor, sengaja aku menghabiskan waktuku untuk memandangi jalan. Rute yang ditempuh transportasi umum Damri jurusan Dipati Ukur-Jatinangor memang melewati banyak jalan-jalan utama. Di antaranya jalan Diponegoro, Laswi, Soekarno Hatta, hingga jalan Raya Jatinangor.

Di sepanjang jalan, bertebaran foto-foto, spanduk-spanduk. Ukurannya beragam, mulai dari sebesar kertas A4 hingga selebar mobil Avanza. Tak kuhitung jumlahnya. Namun yang pasti, posisinya saling tumpang tindih satu sama lain. Merusak pemandangan kota.

Melihat spanduk-spanduk itu, pertanyaan yang muncul di kepalaku: siapa orang-orang tersebut? Memang di tiap spanduk dengan jelas terpampang nama mereka. Namun siapa sebenarnya mereka? Memangnya apa yang sudah mereka lakukan?

Lucu juga melihat fenomena jelang pemilu ini. Tiba-tiba semua orang menjadi eksis. Tiba-tiba semua orang haus untuk menjadi terkenal demi mendapatkan suara masyarakat. Lah, memangnya negara ini butuh pemimpin yang hanya sekedar terkenal? Jelas tidak, Bung!

Dari berbagai sisi, negara ini masih banyak butuh perbaikan. Lihat saja, pendidikan di tingkat perguruan tinggi kian mahal, hukum mudah dibeli, korupsi merajalela, hingga budaya dan moral beberapa anak bangsa yang mulai menyimpang. Bahkan masih banyak lagi masalah yang harus diselesaikan. Lalu, apakah hanya dengan modal ‘terkenal’ bisa menyelesaikan masalah-masalah tersebut?

Ada banyak modal yang harus dimiliki pemimpin untuk bisa mengatasi masalah-masalah itu. Setidaknya menurut saya, pemimpin yang dibutuhkan adalah yang memiliki visi dan misi yang jelas akan kepemimpinannya. Selain itu, yang sudah terbukti sepak terjangnya.

Pengalaman kepemimpinan yang dibutuhkan juga bukan hanya yang sekedar pernah sukses melakukan sesuatu. Yang akan dipimpin adalah sebuah negara dengan masyarakat dari berbagai macam suku, agama, umur, dan budaya. Dibutuhkan kepemimpinan yang bisa menggerakkan, memotivasi, dan mengarahkan semua komponen negara ke masa depan yang lebih baik.

Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah yang peduli dengan masyarakat. Kepemimpinan yang dibutuhkan yaitu yang melibatkan masyarakat dalam berbagai programnya. Kepemimpinan yang dibutuhkan yaitu yang menunjukkan komitmen dan kesetiaan yang kuat.

Mirisnya, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak yang belum memenuhi kriteria tersebut. Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah talkshow di sebuah stasiun televisi swasta Indonesia. Narasumbernya merupakan seorang calon legislatif yang bahkan belum lulus kuliah.

Ketika itu ia ditanya pengalaman apa yang ia miliki sebagai bekal untuk duduk di bangku legislatif nanti. Dengan enteng ia menjawab, justru menjadi wakil rakyat menjadi ajang pembelajaran dan praktik dari apa yang ia pelajari di bangku kuliah.

Astaga! Ini negara, bukan tempat coba-coba. Di tangannya nanti akan ada nasib negara ini. Keputusannya mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Apakah kita mau masa depan negara ini dipegang oleh orang yang tak memiliki pengalaman serta pengetahuan untuk membangun negara? Orang yang berniat mempraktikkan teknik coba-coba dalam membuat kebijakan?

Inilah yang menjadi bagian kita sebagai pemilih. Hak pilih kita itu mahal harganya. Buktinya, para calon legislatif rela menghabiskan ratusan juta hingga milyaran untuk mendapatkan dukungan suara dari kita. Maka, bijaklah menggunakan hak pilih kita.

Jangan jual hak pilih hanya karena orang itu terkenal. Jangan jual suara kita hanya karena ada ‘bonus’. Ingat, suara kita, masa depan kita.

Menggunakan dengan bijak hak pilih kita yaitu dengan memilih orang yang memang sesuai dengan visi dan misi kita. Misalnya, kita ingin pemimpin yang ahli dan mampu memberi jalan keluar bagi perekonomian kita. Ya pilihlah calon yang memiliki pengalaman dan pengetahuan memadai di bidang itu.

Kalau memang tak ada yang sesuai, ya rusak saja surat suaranya, tapi jangan menjadi golongan putih (golput). Mengapa? Karena ketika kita merusak surat suara, maka suara kita tidak dihitung. Namun ketika kita golput dan tidak datang ke tempat pemilihan, bisa jadi surat suara kita dipakai pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Pada akhirnya, surat suara kita digunakan untuk mendukung orang yang bahkan tidak kita ketahui.

Bagi para calon legislatif negeri ini, jika pun hendak meminta suara masyarakat, rasanya tak perlu ‘mengemis’ dengan cara tak halal atau mengobral janji. Tunjukkan saja tindakan nyata demi negara yang lebih baik dan libatkan masyarakat. Masyarakat pun bisa tahu mana pemimpin yang tulus dan tidak. Bukankah setiap orang bisa menilai dengan hati?

Jelang beberapa hari lagi menuju pesta demokrasi, redaksi mengucapkan: Selamat memasuki pesta demokrasi! Semoga kita semua menjadi bijak menggunakan hak pilih. Semoga para calon legislatif tak hanya sekedar obral janji. Semoga!***