Golput Bukan Gerakan Pembaharuan

Golput Bukan Gerakan Pembaharuan

1240
0
15 Flares Twitter 0 Facebook 15 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 15 Flares ×

Pemilihan umum (pemilu) adalah konsekuensi logis dari demokrasi—sistem pemerintahan yang menjunjung kedaulatan rakyat. Dalam pemilu, rakyat memberikan mandat kepada orang dan partai yang dinilai memiliki visi terbaik untuk menjalankan pemerintahan. Namun, karena kedaulatan ada di tangan rakyat, maka ada saja yang memakai kedaulatannya untuk tidak menyumbang suara dalam pemilu. Mereka secara kolektif disebut golongan putih (golput).

Golput mulanya adalah sebuah gerakan moral yang dicetuskan pada 3 Juni 1971 di Balai Budaya Jakarta, sebulan sebelum pemilu pertama di era Orde Baru. Gerakan ini oleh dipelopori Angkatan 66 diantaranya Arief Budiman, Julius Usman, dan Imam Waluyo.[i] Golongan ini mengajak masyarakat untuk mencoblos bagian putih dari kertas suara pemilu. Dari situlah mulanya lahir golongan putih di Indonesia.

Di Indonesia, mengambil sikap golput memang tidak memiliki konsekuensi hukum. Golput merupakan hak konstitusional, hak memilih untuk tidak memilih, yang dilindungi oleh UUD 1945 Pasal 28E Ayat 2, dimana “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya”.

Namun, banyaknya warga golput pada saat ini sungguh memprihatinkan. Lihat saja perkembangan data pemilih golput di Indonesia. Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) mencatat, dari 26 Pemilu kepala daerah tingkat provinsi yang berlangsung sejak 2005 hingga 2008, 13 pemilu gubernur ‘dimenangi’ golput.[ii] Artinya, jumlah dukungan suara bagi gubernur pemenang Pilkada kalah dibanding jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilih.

KPU juga mencatatkan golput sebesar 29% pada pemilu legislatif 2009.[iii] Jumlah golput pada pemilu presiden juga meningkat sejak pemilu tahun 1955, sebesar 12,34% dari seluruh pemilih sah, sampai pemilu tahun 2009, yakni sebesar 40%.[iv]

Nada pesimis juga disuarakan oleh Andrinof Chaniago, pengamat politik dari Universitas Indonesia. Ia memprediksi lebih dari 40% jumlah warga negara yang nantinya tidak akan menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu 2014. Tentunya, banyaknya golput ini bisa menyebabkan kegagalan bangsa dalam menyelenggarakan pemerintahan.

Sikap golput ini bisa berada antara sikap kritis atau apatis. Entah kritis entah apatis, golput bukan pilihan bijak. Partisipasi dalam pemilu merupakan salah satu saran dalam menuju pembangunan, termasuk pembangunan pemerintahan. Agar sistem pemerintahan dapat berjalan secara efektif, suara kita diperlukan.

Partisipasi kita menjadi indikator utama bagi tingkat keberhasilan penyelenggaraan pemilu selain terpilihnya pemimpin negara dan wakil rakyat. Sikap Golput yang tidak partisipatif dalam menggunakan hak pilihnya dalam pemungutan suara, tentu menjadi indikator kegagalan pemilu yang demokratis.

Sikap kritis yang kemudian menjadi apatis (bagi beberapa masyarakat) tentu meresahkan semangat pembaharuan negeri. Sikap golput ini bisa jadi berawal dari sikap kritis dan kecewa terhadap pemerintahan yang buruk, kinerja calon-calon yang dipilih sangat buruk.

Masyarakat bisa menjadi jengah, bosan dan apatis terhadap pesta demokrasi yang dianggap hanya menguntungkan pejabat dan elite politik semata. Kekritisan ini kini menjadi sikap yang apatis. Beberapa masyarakat tidak lagi mau berpartisipasi bukan karena kritis, tetapi hanya ikut-ikutan ataupun malas untuk memberikan suaranya (bukan karena tidak terdaftar di daftar pemilu).

Sungguh mengecewakan jika nantinya pemilu dimenangi oleh golput. Artinya, jumlah dukungan suara bagi pemenang pemilu kalah dibanding jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilih. Preseden kemenangan golput dalam pemilu tentu menjadi beban bagi kita. Kendati  jumlahnya melampaui suara pemenang, golput tidaklah membatalkan hasil pemilu. Tapi secara substantif, tingginya dan bahkan kemenangan golput menunjukkan kurangnya legitimasi dan kepercayaan rakyat terhadap pemilu dan pemenang.

Suara kita sangat dibutuhkan dalam pemilu. Jika kita tidak bersuara, bisa saja pemimpin yang tidak amanah yang akan mengambil ‘kuasa’ selama 5 tahun mendatang. Oleh karena itu, semangat kekritisan mula-mula golongan golput itu kita arahkan dalam memilih calon pemimpin kita. Mari kita secara kritis membedah dan mengupas tuntas visi-misi yang akan diusung para calon pemimpin kita.

Berbeda dengan pendapat Andrinof Chaniago, survei dari Polling Center menyatakan, mayoritas masyarakat Indonesia tidak akan memilih golput pada Pemilu 2014.[v] Hasil temuan pada Desember 2013 ini setidaknya memberi harapan bagi terlaksananya proses demokrasi yang lebih berkualitas tahun ini. Bahwa mayoritas masyarakat sadar untuk memberikan suaranya.

Suara kita sangat dibutuhkan oleh bangsa ini. Dalam pemilu, suara kita akan turut menentukan masa depan daerah kita. Kita sebagai warga Negara Indonesia bertanggung jawab untuk mengusahakan kesejahteraan bangsa kita. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan terlibat dalam pemilu.

Mari kita ambil bagian dari pesta demokrasi bangsa kita. Semua masyakat harus bersikap kritis dan tidak masa bodoh terhadap masa depan bangsa ini untuk menuju pembaharuan negara berdaulat dan bermartabat.

Salam Pembaharuan!

Sumber:


[i]Sedikit tentang sejarahnya bisa di lihat pada situ suaramerdeka.com. <http://www.suaramerdeka.com/harian/0309/05/nas26.html>.

[ii] Golput Di Pemilukada, Sikap Kritis Atau Apatis?” dalam situs KaltimPost.com. <http://kaltimpost.co.id/berita/detail/29009/golput-apatis-atau-kritis.html>

[iii] 9 Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilu dalam situs mediacenter.kpu.go.id. <http://mediacenter.kpu.go.id/berita/1202-9-faktor-yang-mempengaruhi-tingkat-partisipasi-masyarakat-dalam-pemilu.html>

[iv] Perkembangan angka golongan putih ini dapat dilihan dalam situs wikipedia.org <http://id.wikipedia.org/wiki/Golongan_putih>.

[v] Survei: Mayoritas Publik Tolak Golput di Pemilu 2014 dalam situs VivaNews.com. <http://politik.news.viva.co.id/news/read/467488-survei–mayoritas-publik-tolak-golput-di-pemilu-2014>

SHARE
Previous articleMencegah Potensi Kecurangan Pemilu
Next articleTolak Uang dan Calegnya
Efraim Sitinjak
Seorang pria berkebangsaan Indonesia. Lahir di kota kecil di Sumatera Utara, Sidikalang. Pendidikan terakhir S1 jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota dari ITB. Suka membaca, menulis, menonton dan fotografi serta berdiskusi.