Tegakkan Hukum Tanpa “Terima Kasih”

Tegakkan Hukum Tanpa “Terima Kasih”

742
0
9 Flares Twitter 0 Facebook 9 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 9 Flares ×

“Ketika kita mengubah “bekerja” menjadi “melayani”, maka pekerjaan kita berubah menjadi hadiah bagi orang lain.” – Oprah Winfrey

Persoalan terbesar Indonesia saat ini adalah krisis sosok pemimpin. Kekurangannya bukan hanya dari segi kualitas, tapi juga dari segi kuantitas. Krisis ini akhirnya berdampak pada penegakkan hukum yang dihadapi sekarang.

Pejabat legislatif, hakim, polisi, hingga pejabat administrasi dapat dikatakan sebagai para “pemimpin” dalam bidang hukum yang memiliki kewenangan untuk membentuk dan melaksanakan hukum pada masyarakat. Hanya saja, tidak semua dari mereka menyadari bagaimana seharusnya melaksanakan perannya.

Kita dapat berkaca dari hal sederhana yang paling umum terjadi seperti pengurusan administrasi yang justru menuntut uang tambahan dari masyarakat. Pejabat administrasi bahkan seringkali sengaja menambah kerumitan birokrasi demi mendapat “uang terima kasih” lebih banyak.

Tidak dapat disangkal tindakan mereka yang seolah menguras masyarakat memang disebabkan berbagai macam faktor. Misalnya saja, gaji yang tidak mencukupi, faktor ketamakan pribadi, maupun faktor lingkungan kerja yang memang sudah terbiasa melihat praktik ini. Namun yang pasti, faktor utama yang menyebabkan adalah karena tidak adanya kemampuan “memimpin diri sendiri” dalam diri penegak hukum.

Andri Wongso, memaparkan tentang sosok pemimpin melalui kisah seorang pahlawan Mongolia. Ia mengatakan bahwa seorang pemimpin besar tidak tamak terhadap harta, memegang teguh kepercayaan dan komitmen, serta memiliki visi. Ketiga hal ini sesungguhnya berhubungan dengan semangat melayani yang diharapkan ada dalam diri penegak hukum.

Masih terjadinya praktik suap-menyuap sudah cukup mencerminkan bahwa semangat melayani dalam diri penegak hukum masih kurang. Kemauan bekerja semata-mata dimotivasi hanya untuk mengumpulkan uang, sehingga melupakan tujuan utama yakni untuk melayani masyarakat.

Namun demikian, sebagai masyarakat sepatutnya juga berkaca. Sering kali, pengaruh masyarakat sendiri yang membentuk para penegak hukum untuk tidak memiliki mental melayani. Beberapa masyarakat enggan bekerja sama mengikuti prosedur administrasi sesuai aturan. Mereka lebih memilih bersikap bersikap “semaunya” daripada direpotkan dengan berbagai aturan yang bertujuan untuk menertibkan. Hal ini pada ujungnya membuat masyarakat memutuskan lebih memilih untuk “menyogok” agar bisa didahulukan.

Meskipun banyak pejabat administrasi yang belum memiliki semangat melayani, namun bukan berarti yang memiliki semangat melayani tidak ada sama sekali. Walaupun jarang, kita masih bisa menemukan beberapa polantas yang dengan setia menertibkan jalan tanpa “sogokan” atau hakim yang memutus perkara tanpa suap. Namun, hal ini belum cukup membawa perbaikan apabila tidak ada dukungan atau kerjasama dari masyarakat.

Untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik, dibutuhkan suatu kerjasama antara penegak hukum dan masyarakat. Sosok pemimpin berkualitas dibutuhkan untuk dapat membangun kerjasama tersebut. Namun bukan berarti perubahan Indonesia hanyalah pekerjaan pemimpin seorang. Terkadang rakyat sepihak menagih perubahan kepada para pimpinan, namun melupakan kualitas dirinya.

Seorang pemimpin dibentuk, bukan dilahirkan. Karena pemimpin berbicara mengenai karakter dan karakter dibentuk melalui proses dalam suatu lingkungan. Sehingga setiap orang atau setiap masyarakat dapat menjadi pemimpin. Hanya orang yang dapat memimpin dirinya sendiri yang dapat memimpin orang lain.

Negara ini bukannya sama sekali tidak memiliki sosok pemimpin berkualitas. Namun dalam hal kuantitas, jumlahnya masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan berbagai permasalahan yang harus diselesaikan dan berbagai perubahan yang dituntut di Indonesia.

Munculnya pemimpin-pemimpin baru seperti Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, Dahlan Iskan, Rieke Diah Pitaloka, dan yang lainnya kiranya dapat menjadi teladan bagi kita untuk melahirkan pemimpin-pemimpin baru.

SHARE
Previous articleJokowi-Ahok Bukan Penggebrak
Next articlePemimpin yang Melayani
Sandy Aletta
Sandy Aletta Sinaga atau akrab disapa Sandy, merupakan mahasiswi asal provinsi Lampung yang sedang menempuh pendidikan Ilmu Hukum di Fakutlas Hukum Unpad. Anak pertama dari empat bersaudara ini mengaku menyukai membaca, jalan-jalan, dan berenang. Menurutnya, ia melakukan sesuatu berdasarkan passion. “In trust of God, everything is possible,” menjadi quote yang selalu menginspirasi dirinya.