Si Tempat Curhat Necis dari Jatinangor

Si Tempat Curhat Necis dari Jatinangor

1048
0
79 Flares Twitter 0 Facebook 79 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 79 Flares ×

“Setiap orang di dunia ini, apapun pekerjaannya, memainkan peran penting dalam sejarah dunia. Dan biasanya orang itu sendiri tidak menyadarinya.” – Paul Coelho

ed32_profil 2Jatinangor siang itu terik, seperti biasa. Beberapa mahasiswa di kawasan Jatinangor terlihat berteduh di bawah pohon sambil berbincang. Begitu pula di sekitar lapangan parkir Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom), Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Terlihat beberapa orang duduk sambil berdiskusi di bawah pohon rindang.

Di antara semua yang sedang berbincang, ada sosok menarik. Dengan kemeja dibalut sweater motif kotak-kotak, celana jeans model terkini, dan sepatu kulit, sosoknya terlihat necis. Di pinggangnya terlampir tas pinggang kecil dengan beberapa lembar uang 2000-an mengintip dari resleting tas itu. Tak ketinggalan, kacamata coklat bertengger di matanya.

Ia terlihat serius berbicara dengan beberapa lawan bicaranya. Ternyata ia sedang memberikan nasihat kepada lawan bicaranya. “Ya saya kasih masukan, gimana menghadapi dosen. Saya juga suka kasih semangat, terutama buat mahasiswa yang mau di DO (drop out),” tuturnya.

Pria necis yang akrab di sapa Jack ini sudah lama menjadi tempat curhat beberapa mahasiswa Fikom. Sebenarnya ia tercatat sebagai tukang parkir di Fikom. “Ya merangkap jadi tempat curhat juga,” kata Jack seraya tertawa.

Gaya berpakaian Jack memang agak ‘nyentrik’ dibanding tukang parkir lain. “Saya kan gaulnya sama anak mahasiswa, ya sedikit banyak saya terinspirasi dari gaya berpakaian mereka,” jelasnya.

Sudah 21 tahun Jack bekerja sebagai tukang parkir di Fikom Unpad Jatinangor. Pria yang lahir pada 14 Mei 1976 tersebut mengaku, dari hasil kerjanya sebagai tukang parkir, ia sudah bisa menghidupi seorang istri dan keempat anaknya. Tak main-main, kini anaknya yang pertama duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sementara yang lain masih kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP), kelas 4 Sekolah Dasar (SD), dan kelas 2 SD.

“Kalau ditanya apa saya pernah merasa jenuh kerja jadi tukang parkir selama 20 tahun? Ya iya dong pasti,” kata Jack. Rasa jenuh yang ia rasakan semakin bertambah ketika melihat banyak mahasiswa yang sudah lulus dan menjadi orang sukses. Sementara, ia masih bekerja sebagai tukang parkir dari tahun ke tahun. “Tapi sebenarnya saya juga bahagia melihat mahasiswa yang sukses. Siapa yang tidak bangga melihat anak-anaknya sukses?” ujar Jack.

Namun, Jack menuturkan, rasa jenuh itu terobati ketika bertemu dengan banyak mahasiswa baru. “Rasanya seperti punya teman baru, lingkungan baru lagi,” ungkap Jack.

Selain itu, terkadang ada beberapa alumni yang  masih mengingat dirinya, salah satunya Boy, alumni Fikom angkatan 2000. “Jack itu mah sobat pisan. Baik dia mah (Jack itu sahabat saya. Orangnya baik),” kata Boy.

Menjalin hubungan yang dekat dengan mahasiswa menjadi modal utama Jack bisa bertahan menjadi tukang parkir di Fikom. “Saya berusaha mendapatkan kepercayaan dari mahasiswa. Untuk mendapat kepercayaan, modalnya ya kejujuran,” cerita Jack.

Dekat dengan mahasiswa, diakui Jack mempermudah pekerjaannya sebagai tukang parkir. Bayangkan, setiap hari setidaknya sekitar 100 mobil lalu–lalang di lapangan parkir Fikom. Belum lagi dengan motor yang jumlahnya mencapai lebih dari 200 buah. Jack bertugas memastikan tak ada kendaraan yang hilang.

Padahal, sistem parkir tidak menggunakan kartu parkir. Apalagi dengan banyaknya mahasiswa yang memiliki kebiasaan saling meminjam kendaraan, pencurian kendaraan menjadi semakin rentan. “Di sinilah kedekatan itu perlu. Saya jadi tahu, siapa yang suka minjem kendaraan siapa. Jadi alhamdulilah sampai sekarang belum pernah hilang. Ya, jangan sampailah,” jelas Jack.

Jangan dikira menjadi tukang parkir itu mudah. Jack sendiri harus berjaga di lapangan parkir sejak pukul 7 pagi. “Tak jarang, saya baru pulang jam 7 pagi esok harinya, terutama ketika ada kegiatan mahasiswa seperti acara atau rapat,” kata Jack.

Penghasilannya juga tak menentu. Penghasilan itu juga masih harus dibagi dengan pengurus dari pihak fakultas. “Pembagiannya 60:40. 60 untuk saya dan 40 untuk pihak fakultas,” jelasnya.

Meski penghasilannya tak menentu, Jack tak pupus harapan. “Rejeki itu Tuhan yang mengatur,” ujarnya bijak. Jack bercerita, menurut perhitungannya, total kebutuhan ia dan keluarganya tiap bulan mencapai sekitar Rp 2,6 juta. Sedangkan, penghasilannya hanya Rp 1,5 juta. “Saya sendiri heran, kok saya dan keluarga saya masih bisa bertahan hidup sampai sekarang. Padahal pengeluaran saya lebih besar dari pendapatan,” cerita Jack sambil tertawa.

Di sinilah bergunanya hubungan baik yang ia bangun dengan mahasiswa. Tak jarang, Jack diajak bekerja oleh alumni-alumni Fikom. “Saya sering diminta ngurus bengkel dan vila. Ya kalau kerja kasar mah saya bisa. Jadi lumayan nambah-nambah kebutuhan rumah,” tutur Jack.

Jack mengakui, tukang parkir bukanlah cita-citanya. “Dulu saya bercita-cita menjadi dokter dan guru. Cita-cita idaman semua anak hahaha,” tutur Jack bersemangat. Namun kini, ia berhasil menggapai cita-citanya menjadi guru. Setiap malam, Jack memberikan pengajaran Al-quran bagi anak-anak SMP yang tak mampu di daerah sekitar rumahnya di Rancaekek, Bandung. “Jadi pulang kerja dari sini (Fikom), saya mengajar,” jelasnya.

Selain mengajar Al-quran, Jack juga membagikan wawasan yang ia peroleh dari mahasiswa-mahasiswa Fikom. Saya bersyukur bisa dapat banyak wawasan dari obrolan saya dengan mahasiswa. Nah ilmu itu saya bagikan lagi ke anak-anak,” katanya.

Mulai dari menjadi tukang parkir, tempat curhat, dan guru dijalani Jack dengan ikhlas. Jack memandang semua pekerjaan yang ia lakukan sebagai bentuk pelayanan. “Ya saya melayani sesuai kemampuan saya. Kalau saya mampu dan menurut saya itu berguna bagi banyak orang, ya akan saya lakukan,” ujarnya.

Menurutnya, yang terpenting dalam segala hal harus selalu bersyukur. Jack menuturkan, kadang ada orang yang berkelimpahan, tapi tak pernah bersyukur, sehingga tak merasa cukup. Untuk itu, Jack selalu mengingatkan dirinya dan keluarganya untuk selalu bersyukur. Selain itu, Jack juga mengajarkan agar tak terlalu memaksakan sesuatu. “Prinsip saya, jangan terlalu memaksakan mengejar kesempurnaan kalau kesederhanaan masih dapat membahagiakan kita,” kata Jack dengan nada bijak.***