Pendidikan Yang Melahirkan Pelayan

Pendidikan Yang Melahirkan Pelayan

790
0
2 Flares Twitter 0 Facebook 2 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 2 Flares ×

Sejak kecil kita sudah dididik, baik oleh orang tua, guru di sekolah, dan juga tanpa sadar lingkungan turut andil dalam mendidik kita. Sebenarnya apa nilai utama dari mendidik? Yakni upaya untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa.

Lewat mendidik diharapkan dapat dihasilkan anak-anak bangsa yang memiliki karakter serta kepribadian yang baik. Sayangnya, pendidikan di Indonesia sekarang ini lebih mengarah kepada komersialisasi, yang berpotensi menimbulkan krisis moral terhadap anak bangsa.

Anak-anak dituntut untuk bersekolah dengan baik sehingga kelak bisa mendapat pekerjaan yang layak. Penanaman nilai serta pembentukan karakter dan kepribadian pun kian terbengkalai, karena yang ditekankan adalah agar siswa kelak dapat pekerjaan yang bagus. Proses tidak lagi mendapat ruang yang banyak dalam pendidikan, tapi hasil menjadi hal yang urgent.

Lulus ujian dan mendapatkan ijazah serta tempat bekerja yang baik menjadi tujuan utama. Berbagai cara dilakukan agar harapan itu bisa terwujud, baik dengan cara yang seharusnya maupun cara-cara yang tidak pantas. Dengan sistem pendidikan seperti ini, pendidikan tidak lagi mencetak siswa yang berkarakter, melainkan hanya ahli bekerja.

Finlandia adalah negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia berdasarkan urutan gabungan data hasil tes internasional, seperti tingkat kelulusan antara tahun 2006 sampai 2010 (laporan bbc). Pendidikan di  Indonesia sangat berbeda dengan pendidikan di Finlandia

Jangan dibayangkan anak-anak Finlandia adalah anak-anak yang kutu buku, yang sehari bisa 15 jam belajar, yang tiap hari di sekolah diadakan ulangan dan diberikan pekerjaan rumah yang banyak oleh para guru. Justru yang terjadi adalah sebaliknya,

Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan evaluasi itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak ujian membuat pengajar cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata-mata lolos dari ujian dan berpaku pada hasil, bukan pada prosesnya.

“Intelligence plus character that is the goal of true education”, kutipan milik Martin Luther King Jr ini rasanya pantas untuk menggambarkan sistem pendidikan Finlandia. Siswa-siswi di Finlandia dididik untuk memiliki karakter yang kuat yang tidak menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya. Karakter seperti ini sudah dibentuk sejak dari awal mulai sekolah.

Jika kita lihat di zaman sekarang, banyak pribadi yang semakin kehilangan karakter mereka. Banyak orang pintar yang salah dalam menggunakan kepintarannya. Banyak petinggi di negeri ini yang seakan-akan lupa asal mereka, seperti ungkapan kacang lupa kulit. Selain itu, banyak yang menghalalkan segala cara untuk mencapai puncak kekuasaan, mungkin seperti yang dulu mereka lakukan untuk mencapai hasil ujian yang baik.

Tak sedikit juga yang ketika bergelimang harta dan jabatan yang tinggi merubah karakternya. Amat sedikit kita bisa temukan pemimpin yang melayani, pemimpin yang mendahulukan kepentingan rakyat dibanding kepentingan pribadi.

Karakter seorang pemimpin yang melayani harusnya dapat ditanamkan sejak masih kecil bukan justru malah ditanamkan karakter pemimpin yang menghalalkan segala cara.

Bagaimana dengan karakter kita masing-masing? Apakah karakter pemimpin yang melayani sudah ada dalam diri kita?

Sumber:
http://suaraguru.wordpress.com/2013/07/04/pendidikan-yang-tak-mendidik/
http://hendisuhendi2012.wordpress.com/2013/02/08/mengapa-finlandia-memiliki-sistem-pendidikan-terbaik-di-dunia/
http://40302241.siap-sekolah.com/2013/08/08/ayo-belajar-mengenal-sistem-pendidikan-negara-finlandia-yang-unik/