Jokowi-Ahok Bukan Penggebrak

Jokowi-Ahok Bukan Penggebrak

1287
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

“…The great leader is seen as servant first…” – Robert K. Greenleaf

Selama berpuluh-puluh tahun, munculnya seorang pemimpin terus diperdebatkan. Sebagian setuju dengan pendapat bahwa pemimpin hanya dilahirkan tetapi sebagian lagi  mengatakan bahwa pemimpin bisa dibentuk oleh manusia.[1] Pengalaman membuktikan bahwa tidak mustahil pemimpin bisa dibentuk oleh manusia berdasarkan pengetahuan yang ada.

Greenleaf melalui tulisannya tentang servant leadership membuat revolusi baru dalam pemikiran kepemimpinan. Prinsip yang paling penting dinyatakan oleh Greenleaf (dalam Nixon, 2005)[2] adalah tentang servant leadership. Pemimpin pelayan adalah orang yang mula-mula menjadi pelayan. Hal ini dimulai dengan perasaan alami bahwa orang ingin melayani lebih dulu kemudian memilih untuk berkeinginan memimpin.

Berdasarkan tulisan Greenleaf, Spears (1996) menyimpulkan bahwa sedikitnya terdapat sepuluh ciri khas kepemimpinan pelayan yang paling dominan, yaitu:[3] Listening Receptively To What Others Have To Say, Acceptance and Empathy, Awareness and Perception, Ability To Exert A Healing Influence Upon Individual And Institutions, Stewardship and Empowered Manager, Building Community In The Workplace, Having Highly Develoved Power Of Persuasion, An Ability To Conceptualize And To Communicate Concepts,  Foresight And Intuition, dan Followership.

Konsep kepemimpinan melayani juga telah dikenal dalam kebudayaan Indonesia, seperti yang tertuang dalam kumpulan seloka “Astra Brata” yang berisikan ajaran-ajaran bagaimana seharusnya menjadi pemimpin yang baik. Prinsip-prinsip kepemimpinan juga tercermin dalam semboyan Ing Ngarso Song Tulodo (memberi teladan dari depan), Ing Madyo Mangun Karso (membangun semangat bila berada di tengah) dan Tut Wuri Handayani (memberi dorongan bila berada di belakang).[4]

Namun, sampai saat ini krisis kepemimpinan tetap terjadi  di negeri ini.  Frost (2003) menekankan bahwa akibat krisis kepemimpinan, banyak orang yang menderita.[5] Oleh karena itulah, kehadiran pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur baru Jakarta, Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama memberi angin segar bagi kota Jakarta dan Indonesia.

Jika ditelisik, Jokowi-Ahok memiliki program yang tidak berbeda jauh dengan gubernur sebelumnya. Selain itu, program kerja yang mereka tawarkan juga serupa dengan program kerja ketika menjadi pemimpin di Solo dan Belitung.

Jokowi-Ahok hanya meneruskan dan menata apa yang sudah ada sebelumnya. Mereka tidak memberikan gebrakan baru. Akan tetapi, perbedaan mencolok dari pasangan ini disebabkan model kepemimpinannya yang mencirikan pemimpin yang melayani atau servant leadership.

Jokowi merupakan pribadi sederhana, tenang tetapi berani. Setelah menjadi gubernur, beliau menghapuskan garis pemisah pemimpin dan yang dipimpin. Tanpa gengsi, beliau melakukan ‘blusukan’ guna menyerap aspirasi masyarakat.

Kemudian, Jokowi juga menginspeksi kantor-kantor pelayanan publik dan memperbaiki sistem pelayanan yang merepotkan masyarakat untuk menghindari pungutan liar yang sering terjadi.

Jokowi menunjukkan ciri pemimpin yang melayani dengan cara persuasif dalam penertiban PKL serta pemindahan kawasan kumuh di Jakarta. Jokowi sadar betul sebagai pemimpin harus mampu berempati dan bersimpati kepada rakyatnya tetapi tetap tegas menentang keinginan masyarakat yang bertentangan dengan aturan yang berlaku.

Kepemimpinan Jokowi berbeda dengan wakilnya. Ahok memiliki gaya yang meledak-ledak dalam mengurusi birokrasi pemerintah daerah Provinsi DKI Jakarta. Gaya itu tidak terlepas dari sikapnya yang taat menjalankan konstitusi.

Ahok menggambarkan salah satu ciri pemimpin yang melayani, yaitu Kesadaran (Awareness and Perception) terhadap kondisi birokrasi Pemprov DKI Jakarta  yang korup.

Ahok menyadari sistem transparansi dalam anggaran perlu untuk diperbaiki. Untuk itu, Ahok mengumumkan transparansi anggaran APBD DKI Jakarta secara terbuka. Di periode awal kepemimpinannya, anggaran-anggaran Pemprov DKI Jakarta yang dari tahun ke tahun tidak tersentuh mulai dipangkas satu per satu. Bahkan, agar masyarakat dapat mengawasi kinerja para birokrat, setiap rapat kerja ditampilkan di media youtube dan website.

Pasangan Jokowi-Ahok merupakan tipe pemimpin yang melayani masyarakat. Dasar utama pekerjaan mereka diwarnai karakteristik sikap pemimpin yang melayani. Mereka berhasil menggunakan ‘telinga’ untuk keluhan masyarakat, menjadi ‘hati’ yang mampu berempati terhadap apa yang dirasakan masyarakat.

Tak hanya itu, ‘mulut’ mereka mampu mengajak orang bukan dengan ‘paksa’ tetapi ‘sukarela’, ‘mata’ mereka peka dengan kondisi yang sedang dan akan terjadi serta siap  menyelesaikan setiap masalah di masyarakat.

Jokowi-Ahok bukan penggebrak dengan program kerja baru dan megah namun menggerakkan kemajuan Jakarta Baru dengan sikap kepemimpinan yang melayani. Pasangan tersebut mengajarkan pentingnya kehadiran pemimpin yang melayani di negeri ini.

Generasi muda bertanggung jawab memulai sikap melayani dan mengembalikan karakter ‘melayani’ di negeri ini, seperti semboyan gotong-royong di masa lalu. Mari kita jejakkan servant leadership di Tanah Merah Putih!

Sumber:

[1] Rusman Hakim, Cermin Kepemimpinan Panduan dalam Menerapkan Nilai-Nilai Kepemimpinan bagi Profesional dan Wirausaha, Jakarta: PT.Elex Media Komputindo,2001,hlm.65-66

[2] Nixon, M.M., The servant leadership: Followership continuum from a social psychology cognitive perspective, 2005, diunduh dari http://www.regent.edu/acad/global/publications/sl_proceedings/ 2005/nixon_the_servant.pdf, hlm.3 [23/09/2013]

[3]Carol Smith, Servant Leadership : The Leadership Theory Of Robert K. Greenleaf. Diunduh  dari: http://www.carolsmith.us/downloads/640greenleaf.pdf  hlm.5-6 [23/09/2013]

[4]Darisandi,“Servant Leadership Memimpin dengan Hati Melayani” <http://darisandi.wordpress.com> [23/09/2013]

[5] Frost, P.J, Toxic emotion at work: How compassionate managers handle pain and conflict, Boston: Harvard Business School Press,2003,hlm.3

SHARE
Previous articleTeknologi Sebagai Enabler Pelayanan Masyarakat Yang Prima
Next articleTegakkan Hukum Tanpa “Terima Kasih”
Elgawaty Octaviani Samosir
Elgawaty Octaviani Samosir, saat ini bekerja di bagian hukum PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Lulusan Universitas Padjadjaran jurusan ilmu hukum, yang memiliki ketertarikan di bidang jurnalistik. Oleh sebab itu, bergabung di fokal.info sebagai kolumnis. Di samping itu, penulis memiliki hobi mendengar musik, menonton tv dan traveling.