Tekad Seratus Persen atau Tidak Sama Sekali!

Tekad Seratus Persen atau Tidak Sama Sekali!

1428
0
2 Flares Twitter 0 Facebook 2 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 2 Flares ×

Jalan-jalan ke luar negeri? Siapa yang tidak mau. Tentu saja semua sepakat untuk mengangkat tangan jika ada pertanyaan “Siapa yang ingin keliling Eropa dengan biaya super murah?” Mungkin saya akan jadi orang pertama yang akan mengangkat tangan.

Berkeliling dan menghabiskan waktu untuk merekam semua pesona dunia luar dengan mata sendiri adalah keinginan hampir sebagian besar orang. Membayangkannya saja sudah membuat hati kita berbunga-bunga. Hal ini mungkin saja menjadi kenyataan jika kita memiliki sedikit saja keberanian untuk percaya bahwa tekad yang bulat akan melahirkan buah yang manis.

Untuk sosok wanita yang satu ini, backpacker atau yang sering diartikan sebagai jalan-jalan antar kota di dalam negeri atau ke kota di negara lain dengan biaya yang ditekan seirit mungkin adalah cinta yang tak pernah lekang sejak dia mulai terbiasa menjelajahi daerah-daerah eksotis di negara ini.

Kecintaan berpetualang inilah yang kemudian membawa dia menjadi Brand Ambassador Couch Surfing Indonesia (CSI), salah satu komunitas backpacker terbesar di dunia dan telah menghabiskan sebagian hidupnya untuk menjelajahi lebih dari 30 negara di dunia.

Pertama kali saya membaca kisah hidupnya, saya menaruhkan kekaguman kepada sosok ibu dua orang anak ini, khususnya ketika membaca kisah mengharu-birunya semenjak dia hamil di luar nikah setelah ia kembali mengambil kuliah jurusan Komunikasi Massa.

Kehidupannya kemudian luntang-lantung dari satu emperan ke emperan lain bersama sang pacar yang kemudian menikahinya setelah ia keluar dari rumah. Dia dan suami bahkan pernah menjadi pengamen dan berjualan es batu untuk menyambung hidup, sampai akhirnya nasib malang kembali menjumpainya di persimpangan jalan. Sang suami pun pergi meninggalkan dia dan buah hati mereka.

Yang menarik dari kisah wanita ini adalah kebangkitan setelah kejatuhannya di masa lalu. Semangat sekeras baja yang sepertinya menurun dari kakek dan ayahnya yang seorang pelaut memang patut diacungi jempol.

Walaupun memiliki kendala biaya untuk mencapai pulau-pulau eksotis lainnya di luar negeri, ia tak lantas menerima nasib begitu saja. Ia kemudian berusaha mencari komunitas backpacker kelas dunia yang dapat membantunya. Tahun 2005, ia mengenal komunitas dunia Hospitality Club (HC) yang menyediakan sebuah sistem jalan-jalan keliling dunia gratis dengan menginap di rumah para anggota sesama backpackers.

Tanpa pikir panjang, tahun 2006 ia mulai mengundang anggota HC untuk menginap di rumahnya secara gratis. Dan setiap bulan sejak undangannya tersebut, ia selalu kedatangan tamu anggota HC. Hal ini sekaligus memberikan peluang besar bagi Nancy untuk memperkenalkan ragam budaya dan keunikan bangsa Indonesia kepada para tamu yang menginap di rumahnya. Beberapa dari mereka bahkan minta dibawakan masakan, pakaian serta kerajinan tangan dari Indonesia jika suatu saat nanti ia mengadakan kunjungan balasan.

Hampir kebanyakan tamu yang menginap di rumahnya selalu mengajak ia untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Mereka bahkan rela patungan untuk membeli separuh harga tiket hanya untuk memberi keberanian padanya untuk mengabaikan kendala biaya. Passion-nya untuk berpergian pun semakin kuat. Akhirnya tahun 2007, ia memutuskan untuk mengawali petualangannya di Eropa.

Menjadi backpacker tidak selalu dipenuhi dengan pengalaman indah semata. Ia juga pernah punya pengalaman pahit saat nyaris diperkosa dan tersesat di Italia. Untungnya, ia ditolong oleh dua orang mafia. Lantas, akhirnya pengalaman inilah yang menggugahnya mendirikan komunitas Couch Surfing Indonesia untuk melunasi janjinya pada mereka.

Namanya kemudian dikukuhkan menjadi city ambassador (duta besar kota) khusus untuk wilayah Jakarta. Setahun kemudian, dia dipercaya menjadi country ambassador (duta besar untuk seluruh Indonesia). Sementara, sejak 2010, anggota couch surfing di Indonesia sudah mencapai 10 ribu orang dengan akun aktif 6.700 (sumber: http://www.jpnn.com).

Dialah Nancy Margaretha, salah satu wanita Indonesia yang menginspirasi saya. Dia berani mengikuti passion-nya di saat banyak orang memiliki pemikiran bahwa perempuan dengan keterbatasan biaya seperti dia seharusnya mencari suami yang bisa menafkahi dia dan anak-anaknya, lalu diam dan hanya mengurusi masalah dapur dan kamar tidur.

Berkaca dari kisah Nancy, saya kembali terkenang pada sosok wanita di masa lampau yang menjadi tonggak kebangkitan wanita Indonesia untuk mencapai kemajuannya, R.A Kartini. Meski tidak dengan plot cerita yang sama dengan Kartini, Nancy telah membuktikan bahwa wanita mampu melakukan pekerjaan pria tanpa mengurangi sedikitpun tugasnya sebagai wanita—tegar, kuat, tetapi tidak kehilangan sifat femininnya sebagai wanita.

Lebih luasnya, Nancy telah memberikan contoh tidak harafiah pada generasi kita bahwa setiap manusia diberikan kesempatan untuk mewujudkan impiannya, sebesar apapun itu. Elemen lain yang harus ditambahkan adalah tekad yang kuat dan harapan yang tidak terbatas pada kemajuan. 100% atau tidak sama sekali!

SHARE
Previous articleKekerasan Simbolik pada Wanita
Next articlePendidikan Kaum Tertindas: Menyelami Pembebasan yang Hakiki
Priska Apriani
Lulusan Sistem Informasi salah satu institusi swasta Bandung ini getol memburu berita-berita hangat mengenai pemerintahan dan isu-isu yang beredar di tanah air. Menyukai jurnalistik semenjak SD dan pernah menjadi wartawan lepas di salah satu surat kabar lokal di Bangka Belitung ketika duduk di bangku SMA. Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengabdi sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Bandung