Peran Pendidikan dalam Pengenalan Konsep Diri

Peran Pendidikan dalam Pengenalan Konsep Diri

907
0
4 Flares Twitter 0 Facebook 4 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 4 Flares ×

Sebelumnya saya telah menjelaskan tentang konsep pendidikan, maka tulisan kali ini akan membahas tentang peran pendidikan dalam pengenalan konsep diri. Menurut Burns (1993:vi), konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Secara sederhana saya mencoba mendefinisikan bahwa konsep diri erat hubungannya bagaimana seseorang menilai dan memahami karakter atau watak dirinya sendiri.

Seringkali kita menganggap pendidikan hanya sebagai landasan untuk mendapatkan pekerjaan dan kemudian mendapatkan duit yang banyak demi mencapai kekayaan yang berlimpah. Sangat manusiawi bukan? Apalagi mengingat kebutuhan manusia sekarang yang semakin kompleks dan cenderung menganut gaya hidup konsumerisme.

Tetapi, yang harus dipahami, pendidikan merupakan sebuah proses yang kita harus lalui untuk mengenali siapa diri kita sebenarnya. Ini adalah langkah awal yang harus dicermati dengan baik karena banyak dari kita yang mungkin salah langkah karena belum mampu memahami esensi dari pendidikan itu sendiri. Sekedar mengingatkan kembali bahwa pendidikan yang saya maksud di sini tidak merujuk ke salah satu bentuk pendidikan.

Saya percaya bahwa manusia diciptakan dengan segala keunikan, termasuk kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, dan unik berarti tidak ada yang sama bahkan pasangan kembar sekalipun. Mungkin Anda pernah mendengar nama Albert Einstein, James Watt, Alexander Graham Bell, Beethoven? Saya yakin nama-nama tersebut sangat familiar karena keunikan dan kemampuan dalam menghasilkan karya yang bermanfaat bagi kehidupan manusia sampai sekarang.

Mereka adalah orang yang memiliki talenta/potensi, mampu mengembangkan talenta mereka dengan maksimal serta menyadari bahwa bekerja tidak hanya untuk mengumpulkan harta yang berlimpah. Dan, yang pasti, mereka adalah orang-orang yang terdidik karena mereka mampu berubah; dari yang tidak bisa menjadi bisa, dan mengenali kekuatan dan kelemahan dalam diri mereka.

Mari kita flashback sejenak, mungkin beberapa dari kita ada yang menyukai mata pelajaran tertentu, seperti matematika, bahasa, ilmu pengetahuan alam (IPA) atau ilmu pengetahuan sosial (IPS). Ada juga yang mendapatkan kursus tambahan di luar jam sekolah, seperti les piano, vokal, renang, dan lain-lain. Kita sadari atau tidak bahwa usaha ini dilakukan sebagai  alat bantu bagi kita untuk bukan hanya menemukan potensi diri kita, tetapi juga mengembangkannya sebagai wujud bahwa kita sedang dalam proses memahami siapa diri kita sebenarnya.

Poin mendasar dan krusial dalam konsep pengenalan diri adalah Anda dan saya belajar untuk mengenal kekuatan dan kelemahan kita.

Kekuatan tersebut bisa dimulai dan ditemukan ketika kita melakukan sesuatu yang kita senangi, dilatih secara terus-menerus dengan penuh disiplin dan pengorbanan. Contoh yang paling sederhana, atlet basket NBA yang sudah pension, Michael Jordan. Seorang legenda pada zamannya dimana penampilannya bersama klub sangat dinanti bagi pecinta bola basket.

Saya pernah menonton video latihan atlet tersebut, dan dalam latihan tersebut dia memberikan waktu yang cukup signifikan dan bobot latihan yang sangat berat untuk meningkatkan kemampuannya sebagai seorang atlet profesional.

Apabila Anda dan saya ingin menjadi “ahli” di bidang tertentu, maka mau tidak mau, kita harus mulai mengenal siapa diri kita sebenarnya. Dalam buku yang berjudul Outliers (Malcolm Galdwell, 2009) yang bercerita tentang kesuksesan, saya menangkap sebuah pesan bahwa seseorang yang memiliki potensi jenius tidak akan menjadi jenius apabila dia tidak melatih dirinya secara terus-menerus.

Apabila Anda punya kesempatan untuk mengecap pendidikan formal, maka manfaatkanlah kesempatan tersebut sebaik dan semaksimal mungkin. Karena kesempatan tersebut akan menolong untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan. Sehingga menjadi kekuatan Anda.

Apapun profesi yang pada akhirnya menjadi pekerjaan kita, saya berharap pekerjaan tersebut adalah hasil dari sebuah proses karena kita mampu memahami diri kita sebaik mungkin melalui pendidikan.

SHARE
Previous articlePendidikan Kaum Tertindas: Menyelami Pembebasan yang Hakiki
Next articlePendidikan Yang Memerdekakan
Albert Tommy
Saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta ternama di Jakarta. Bidang yang diminati: Marketing, Human Resources, Organization Development. Quote favorit, “Don’t work for a person. Do work for yourself and for God for the value you should fight for.” – Kornel M. Sihombing