Mengenal Social Smoker

Mengenal Social Smoker

4502
0
7 Flares Twitter 0 Facebook 7 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 7 Flares ×

Social smoker. Pernahkah Anda mendengar istilah tersebut? Social smoker adalah istilah untuk menggambarkan seseorang yang merokok hanya saat berada di lingkungan sosial atau situasi tertentu dengan maksud untuk berbaur. Ini berbeda dengan perokok yang memang merokok hampir setiap hari.

Saya teringat satu episode di film seri Amerika, Friends, yang cukup dapat menggambarkan perbedaan social smoker dan perokok. Karakter Rachel di serial tersebut memulai pekerjaan baru, dan mendapati bahwa ia tidak pernah diberi kesempatan memberi pendapat dalam pengambilan keputusan, karena atasannya ternyata lebih sering mengambil keputusan saat berdiskusi dengan rekan kerja Rachel sambil merokok bersama di smoking room.

Karena ingin dapat menunjukkan kemampuannya di depan bosnya, Rachel akhirnya bergabung ke smoking room saat bosnya dan rekan kerjanya berada di sana, dan merokok. Sementara itu, di episode yang sama, karakter lain bernama Chandler yang sudah lama berhenti merokok, merasakan keinginan yang kuat untuk kembali mengisap batang rokok setelah mencium bau rokok di tubuh Rachel sepulang Rachel bekerja. Rachel sendiri merasakan bahwa merokok itu menjijikkan, namun tidak punya pilihan lain demi pekerjaannya.

Rachel merupakan contoh social smoker, sedangkan Chandler adalah perokok. Seorang social smoker tidak hanya ditemui di lingkungan kantor, tetapi juga di lingkungan pergaulan, misalnya saat hang out di cafe atau saat berada di pesta. Anda termasuk golongan mana? Apakah Anda seorang social smoker? Perokok? Atau sekadar kenal dengan seseorang yang termasuk salah satu dari keduanya?

Saat ini, keberadaan social smoker cukup menarik perhatian, karena berdasarkan survey, meskipun jumlah perokok reguler menurun, jumlah social smoker malah meningkat (CNN.com). Hal ini disayangkan, sebab alasan seseorang menjadi social smoker sebenarnya dapat dihadapi tanpa harus mengisap rokok.

Jika kita perhatikan, keduanya merokok untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda. Rachel memiliki kebutuhan untuk diterima, diperhatikan, dan diakui. Chandler memiliki kebutuhan untuk menikmati rasa rokok.

Kebutuhan orang-orang seperti Rachel tidak seharusnya dijawab dengan rokok, tetapi dengan penerimaan, perhatian, dan pengakuan akan keberadaan mereka, sesuai kondisi yang mendorong mereka untuk tidak merokok.

Mari lihat apa yang dapat Anda lakukan terkait hal ini, sesuai dengan posisi Anda saat ini. Apabila Anda seorang perokok dan sering berinteraksi dengan social smoker, mungkin Anda dapat mengevaluasi bagaimana interaksi Anda dengan social smoker tersebut. Apakah Anda cenderung hanya available saat merokok?

Jika Anda bukan seorang perokok, namun mengenal seseorang yang merupakan social smoker, Anda dapat mengingatkannya untuk tidak harus merokok jika ia sudah tahu risikonya. Social smoker biasanya sadar dan tahu bahwa rokok tidak baik bagi kesehatan mereka, namun mereka merasa tidak ada pilihan lain untuk dapat bersosialisasi. Selain mengingatkan, tentunya baik untuk memberikan masukan tentang hal apa yang dapat ia lakukan untuk tetap bersosialisasi tanpa harus merokok.

Yang tak kalah pentingnya adalah bagi Anda yang merupakan social smoker sendiri. Ada banyak cara lain untuk menunjukkan siapa diri Anda selain dengan berpura-pura terbiasa merokok. Yang terutama adalah dengan terlebih dahulu meyakini nilai diri Anda, bahwa Anda seorang yang berkompeten, gaul, dan teman mengobrol yang menyenangkan. Jika Anda sendiri tidak yakin, bagaimana mungkin Anda bisa meyakinkan orang lain?

SHARE
Previous articleMelihat Realitas di Timur Indonesia, Papua
Next articleBahaya Jajan Sembarangan
Ernestasia Rahel Siahaan
Saat ini bekerja sebagai PhD Candidate di bidang Multimedia Quality of Experience, di TU Delft, Belanda. Quote favorit: "The foundation of every state is the education of its youth." - Diogenes Laertius