Melangkah Keluar Ruang Batas

Melangkah Keluar Ruang Batas

989
0
28 Flares Twitter 0 Facebook 28 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 28 Flares ×

“For the most of history, Anonymous was a woman.” – Virginia Woolf

Petikan kalimat penulis asal Inggris di atas selalu menggoreskan kesan yang dalam pada diri saya. Jika saya renungkan, setiap kali membaca tulisan dengan penulis “Anonymous” atau “Anonim”, entah mengapa sosok yang terlintas di kepala saya selalu sosok pria.

Ucapan Woolf di atas benar-benar menggebrak pikiran saya. Kalimat Woolf tersebut mengingatkan akan keterbatasan yang dihadapi oleh para perempuan di masa lalu. Perempuan tidak dapat dengan leluasa mengungkapkan pendapatnya, terlebih lagi melakukan apa yang dia impikan atau inginkan.

Berbeda dengan saat ini, tak sulit menemukan tokoh perempuan yang kutipannya secara luas disebarkan dan digunakan di media. Bahkan tak sedikit yang secara berani menyatakan opini yang menentang opini publik, bahkan kebijakan-kebijakan yang berlaku di sekitar mereka.

Kebebasan untuk berpendapat tidak menjadi satu-satunya kenikmatan yang dirasakan kaum perempuan masa kini. Kebebasan untuk bermimpi dan menggapai cita-cita dengan sukses juga sudah menjadi bagian dari kehidupan kebanyakan kaum perempuan saat ini.

Sri Mulyani, Ayu Utami, Robin Lim, Oprah Winfrey, Hilary Clinton hanya sedikit dari banyak nama perempuan yang menginspirasi lewat pekerjaan dan karya masing-masing.

Melihat perempuan-perempuan sukses di sekitar kita saat ini, mudah rasanya untuk memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang lumrah, dan melupakan bagaimana sulitnya para perempuan di masa dulu memperoleh kesempatan untuk menjadi apa yang mereka cita-citakan. Perempuan biasanya dianggap tidak perlu bersekolah. Mereka yang mendapat kemewahan bersekolah pun biasanya tidak diharapkan untuk akhirnya memiliki karir.

Lewat proses yang panjang, batas-batas yang dahulu mengungkung para perempuan telah terbuka bagi banyak perempuan di masa kini. Tetapi apakah para perempuan sudah benar-benar menyadari kemudahan yang tersedia bagi mereka? Apa yang seharusnya dilakukan para perempuan dengan fasilitas yang mereka miliki saat ini?

Bagaimana pula dengan kaum perempuan yang masih terbentur dinding batas dalam perjalanan mereka keluar? Tekanan ekonomi, ekspektasi keluarga, dan keterbatasan-keterbatasan lainnya mungkin dialami oleh kaum perempuan secara pribadi di lingkungan masing-masing.

Keluar dari batas-batas yang mengungkung tidak harus diidentikkan dengan melakukan hal-hal besar dan menjadi orang yang mendunia. Esensi dari konsep meninggalkan ruang batas adalah memaksimalkan diri dengan tujuan memenuhi panggilan hidup yang dimiliki.

Kesempatan bersekolah, akses terhadap media, terbukanya peluang bergaul dengan banyak orang, semua dapat dimanfaatkan untuk memperbesar kapasitas diri dan akhirnya mendekatkan diri pada pencapaian cita-cita.

Keluar dari ruang batas diawali dari menolak pikiran yang mengasumsikan adanya sekat-sekat pembatas. Seringkali kita tidak menyadari bahwa batas-batas yang kita pikir ada hanya membutuhkan perubahan pola pikir untuk dirubuhkan. Kita sering terjebak dalam asumsi-asumsi, menyerah pada keadaan, dan akhirnya lalai mencari solusi kreatif yang memungkinkan kita melakukan hal-hal yang lebih besar dari yang kita bayangkan dapat kita lakukan.

Sebagai contoh yang dekat dengan keseharian kita, saya selalu kagum akan para wanita yang sukses membawa pengaruh baik dari rumah sendiri, melalui bisnis yang dimiliki maupun kegiatan positif lain. Mereka melawan pola pikir yang membatasi ruang gerak ibu rumah tangga, dan memaksimalkan fasilitas yang mereka miliki di rumah mereka untuk berkarya, memperoleh penghasilan, serta membantu orang lain.

Banyak contoh perempuan yang berhasil keluar batas-batas yang ada dalam pencapaian cita-cita mereka. Mereka tak hanya merubuhkan batas yang dibuat oleh khalayak umum. Tak jarang batas yang dihadapi ada di dalam dirinya sendiri. Perjuangan yang mereka lakukan pun seringkali tidak konvensional, membutuhkan keberanian dan kreativitas yang besar.

Kisah-kisah mereka akan menginspirasi kita, namun kita tentu tidak ingin hanya berhenti pada tahap terinspirasi. Ruang pembatas sudah terbuka sejak lama, namun keputusan melangkah keluar masih bergantung pada diri kita masing-masing.

SHARE
Previous articleBahaya Jajan Sembarangan
Next articleGadis Lupus: Mengajar adalah Obat
Ernestasia Rahel Siahaan
Saat ini bekerja sebagai PhD Candidate di bidang Multimedia Quality of Experience, di TU Delft, Belanda. Quote favorit: "The foundation of every state is the education of its youth." - Diogenes Laertius