Kekerasan Simbolik pada Wanita

Kekerasan Simbolik pada Wanita

1390
0
5 Flares Twitter 0 Facebook 5 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 5 Flares ×

Konteks perempuan ideal pada media seringkali digambarkan dengan tampilan tubuh yang sensual dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rambut yang lurus, bersinar, dan tahan kusut; kulit yang putih dan bercahaya; bentuk tubuh dengan lekuk indah dan memiliki proporsi yang fantastis di beberapa bagian; hingga kaki yang mulus bebas bulu.

Tayangan pencitraan media tersebut seolah sebagai standar wanita ideal bagi para perempuan. Beberapa diantaranya berjuang mati-matian dengan berbagai cara untuk mencapai standar wanita ideal tersebut.

Caranya beragam, dari membeli produk kecantikan dengan harga mahal, korset seharga jutaan rupiah untuk menciptakan bentuk tubuh yang ideal bahkan hingga operasi plastik untuk menambah bobot di beberapa bagian tubuh. Maka tak heran, kini bisnis kosmetika, kecantikan, dan perawatan tubuh menjadi ‘lahan basah’.

Industri mode pun tiada hentinya menampilkan cara berpakaian dan berpenampilan. Kecantikan bukan sekedar menjadi keindahan natural seorang wanita tapi kini kecantikan dianggap faktor utama kesuksesan karir seseorang. Seolah membenarkan streotipe ‘body and beauty, not brain’.

Akhir-akhir ini di tanah air, sensualisme dan erotisme bukan sekedar menjadi bumbu penyedap tetapi sudah menjadi santapan utama. Ajang bupati (buka paha tinggi-tinggi) hingga sekwilda (sekitar wilayah dada) seolah menjadi komoditas yang menguntungkan.

Wanita yang memerankan adegan sensualisme dan erotisme ini sesungguhnya, baik sadar atau tidak, rela menempatkan dirinya sebagai objek tatapan pria (male gaze). Rela menjadikan dirinya korban kekerasan simbolik. Kekerasan seperti inilah yang dipertontonkan menjadi teman sarapan hingga teman pelepas lelah di malam hari.

Mencegah kekerasan simbolik
Seperti yang dinyatakan Johnson dan Ferguson dalam buku The Sourcebook of Psychology for Woman, perempuan harus mulai belajar menerima ukuran tubuh mereka yang normal untuk melawan citra ideal perempuan langsing yang dipromosikan oleh media dan kebudayaan mereka. Belajar bersyukur adalah kunci utama.

Berhati-hatilah terhadap tayangan media yang menggunakan bahasa yang telah terdistorsi, seolah memberikan citra standar kecantikan ideal bagi para wanita. Jangan sampai Anda rela memenuhi standar kecantikan tersebut hingga akhirnya membuat Anda menjadi korban kekerasan simbolik berikutnya.

Bukan berarti Anda tidak boleh memoles kecantikan di dalam diri Anda. Tetapi, gunakanlah cara yang wajar, alami, dan tidak berlebihan untuk mencapainya.

Peran pria dalam menghilangkan kekerasan simbolik
Cara pria memperlakukan wanita juga menjadi faktor yang mempengaruhi terjadinya kekerasan simbolik. Seringkali tidak puas dengan kecantikan pasangannya membuat pria menuntut wanita untuk memperbaharui penampilannya, melalui keluhan-keluhan kecil yang rutin dilontarkan.

Keluhan tersebut bisa sangat berdampak psikologis buruk pada wanita. Tanpa sadar mendorong wanita kembali menjadi objek kekerasan simbolik.

Tak ada salahnya apabila sesekali melontarkan pujian pada pasangan kita. Wanita tidak akan menjadi objek kekerasan simbolik, apabila ia dihargai dan dicintai. Wanita akan belajar menjaga penampilannya tetap baik dengan cara yang wajar di hadapan orang yang menghargai dan mencintainya. Cara pria menghargai wanita bisa dilakukan dengan memposisikan wanita itu setara dengannya.

Sumber:
Ibrahim, Idi Subandy. Kritik Budaya Komunikasi. 2011. Yogyakarta: Jalasutra.
http://www.cam.ac.uk/research/news/charting-genders-incomplete-revolution/
http://abcnews.go.com/blogs/lifestyle/2012/06/doing-chores-makes-many-men-happiest/
http://obyektif.com/duniawanita/read/sukses_karier_sukses_rumah_tangga/