Bahaya Jajan Sembarangan

Bahaya Jajan Sembarangan

4054
0
9 Flares Twitter 0 Facebook 9 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 9 Flares ×

Siapa sih yang nggak suka jajan? Jajan menjadi suatu kebiasaan sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat. Jajan berfungsi mengganjal perut di antara waktu jam makan utama atau selingan, meskipun tidak jarang sebagian dari kita jajan hanya karena ”lapar mata”.

Apa pun alasannya, kebiasaan jajan masyarakat kita merupakan suatu potensi pasar dan telah mendorong banyak orang untuk menjajakan jajanan sebagai bagian dari mata pencaharian, mulai dari restoran/kafe bintang lima, hingga pedagang kaki lima dan pedagang keliling. Jajanan yang dijajakan pun sangat beragam, mulai dari jajanan pasar seperti kue-kue kecil tradisional, martabak, baso tahu, bakso, cilok, cimol, gorengan, kripik, hingga jajanan ala “negeri orang”, seperti hamburger atau hotdog.

Kebiasaan mengkonsumsi jajanan sebagai makanan selingan, menurut Yohannes Kristianto, dosen Jurusan Gizi Politekkes Kemenkes Malang, bukan merupakan hal yang buruk. Menurutnya, pola makan yang baik adalah tiga kali makanan utama (pagi-siang-sore) dilengkapi dengan jajanan atau makanan selingan di antara waktu makan utama. Tanpa jajanan, makanan pokok hanya dapat memenuhi kebutuhan gizi harian sebesar 70–90 persen.

Agar kebutuhan harian menjadi sempurna, 10–30 persen sisanya dapat dipenuhi oleh makanan selingan atau jajanan. Mengkonsumsi jajanan di antara waktu jam makan utama juga dapat menjaga lambung tetap terisi sehingga bisa mencegah nyeri lambung akibat lambung kosong (http://www.poltekkes-malang.ac.id/artikel-165-benarkah-jajan-itu-perlu.html).

Di sisi lain, kebiasaan jajan juga bisa menjadi sesuatu yang negatif, ketika kita mengkonsumsi jajanan tanpa mempedulikan faktor kebersihan, kandungan gizi, proses pengolahan dan cara penyajiannya. Kebiasaan seperti ini populer dengan istilah jajan sembarangan.

Setidaknya ada dua alasan yang mendorong seseorang jajan sembarangan. Pertama, karena praktis dan paling cepat didapat. Bayangkan ketika kita sedang bekerja, tiba-tiba perut kita ”bernyanyi”. Di tengah kesibukan seperti itu tentu saja kita akan mencari makanan yang paling cepat bisa kita dapatkan tanpa pikir panjang.

Kedua, karena murah. Faktor kedua berkaitan erat dengan kondisi “kocek”. Kita tak ingin menghabiskan banyak uang untuk makanan selingan sehingga yang penting adalah harganya murah dan enak di lidah. Hal lainnya menjadi nomor dua.

Di zaman seperti ini, manusia kerap kali menghalalkan segala cara agar barang dagangannya cepat terjual dan meraup keuntungan sebesar-besarnya, perilaku jajan sembarangan bisa menjadi sesuatu yang membahayakan. Tidak sedikit para penjual yang mencampurkan bahan tambahan pangan (BTP) ilegal berbahaya ke dalam makanan yang dibuatnya, seperti boraks, formalin, dan pewarna tekstil.

Saya pernah menonton suatu program di salah satu stasiun televisi swasta yang membeberkan bagaimana donat dibuat dengan campuran boraks ke dalam adonannya dan digoreng dengan tambahan lilin di minyak gorengnya. Semua tindakan haram itu dilakukan agar donat buatannya lebih tahan lama jika tidak laku dan donat lebih mengkilap serta menarik.

Selain menggunakan BTP ilegal, masih banyak trik-trik berbahaya lainnya yang kerap digunakan penjual, seperti menggunakan bahan penyedap rasa (vetsin) secara berlebihan, mengolah kembali makanan yang sudah kadaluarsa, menggunakan minyak goreng berulang kali hingga pekat, es yang dibuat dari air mentah, air minum yang tidak direbus dahulu, dan lain sebagainya.

Belum lagi, faktor kebersihan yang sering diabaikan oleh para penjual jajanan, khususnya mereka yang merupakan pedagang kaki lima dan pedagang keliling, mengakibatkan jajanan tersebut berpotensi membawa kuman dan bakteri.

Kita perlu waspada. Masuknya jajanan-jajanan berbahaya tersebut ke dalam tubuh kita pastinya dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan kita. Sebagian dampaknya mungkin langsung terasa dalam waktu singkat, seperti tenggorokan kering, diare, pusing, mual, muntah, dan kesulitan buang air besar. Tetapi, tidak sedikit yang dampaknya mungkin baru kita rasakan setelah jangka waktu yang cukup lama.

Menurut drg. R. Edi Setiawan, BTP ilegal yang digunakan dalam makanan akan terakumulasi dalam tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker dan tumor pada organ tubuh manusia (http://www.gizikia.depkes.go.id/archives/837).

Mengubah kebiasaan jajan sembarangan sebenarnya tidak begitu sulit. Yang diperlukan adalah kesadaran yang tinggi untuk menyayangi diri sendiri bahwa jajan sembarangan dapat membahayakan kesehatan.

Pastikan yang kita konsumsi adalah jajanan yang sehat dan aman. Sehat, artinya jajanan yang kita konsumsi mengandung gizi yang diperlukan tubuh. Aman, artinya jajanan tersebut bebas dari bahaya fisik (seperti: debu, karet, rambut, pecahan kaca), cemaran bahan kimia (pestisida, pemanis buatan yang berlebihan, pewarna tekstil, pengawet), dan bahaya biologis (mikroba patogen penyebab keracunan pangan, seperti: virus, parasit, bakteri, dsb.). Dalam hal ini, pengetahuan mengenai bagaimana membedakan jajanan yang berbahaya dan yang tidak, sangatlah diperlukan.

Ketika memutuskan untuk jajan, kita harus lebih menaruh perhatian terhadap apa yang kita akan konsumsi, mulai dari komposisi, cara pengolahan, cara penyajian, hingga lokasi tempat berjualannya. Jika memungkinkan, akan lebih baik dan aman jika kita bisa mengurangi kebiasaan jajan. Banyak cara menyiasati kebutuhan untuk jajan di luar. Contohnya dengan mengkonsumsi buah-buahan sebagai pengganti jajanan dan membawa bekal snack sendiri dari rumah.

You are what you eat. Jika Anda ingin memiliki hidup yang sehat, maka perhatikan apa yang Anda konsumsi. Sehat itu pilihan.

SHARE
Previous articleMengenal Social Smoker
Next articleMelangkah Keluar Ruang Batas
Jeffrey Kurniawan
Jeffrey Kurniawan, alumni Teknik Telekomunikasi ITB yang merasa tertarik mendalami ilmu bisnis dan manajemen. Setelah hampir dua tahun bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi multinasional, memutuskan untuk melanjutkan studi magister di PPM School of Management, dengan konsentrasi keilmuan Operation Management. Saat ini, Jeffrey bekerja sebagai konsultan di bidang Organization Development. Selain itu, ia pun aktif sebagai trainer berbagai bidang manajemen, seperti Project Management, Problem Solving and Decision Making, serta Operation Excellence.