Selamatkan Bumi, Selamatkan Hidupmu!

Selamatkan Bumi, Selamatkan Hidupmu!

1007
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup tahun 2009 yang dilakukan di salah satu SMA di Jayapura, Papua, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Ir. Rachmat Witoelar, menyatakan bahwa perubahan iklim global telah menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia di muka bumi ini. Hal ini diperkuat dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia yang tidak seimbang dengan ketersediaan sumber daya alam (SDA) bagi pemenuhan pangan dan energi di berbagai negara.

Penurunan kualitas lingkungan hidup ini tentu saja tak lepas dari perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab dalam memanfaatkan lingkungan. Sepertinya, hampir semua pemangku kepentingan yang memanfaatkan lingkungan identik dengan perbuatan mengeksploitasi, merusak dan mencemari lingkungan.

Perusahaan-perusahaan tambang terus-menerus mengeruk perut bumi hingga lapisan paling dalam tanpa berusaha untuk memulihkan kembali keadaan lahan. Pabrik-pabrik berlomba-lomba untuk mencetak rekor menyumbangkan limbah sebanyak-banyaknya baik ke sungai, danau ataupun laut tanpa mengupayakan pengelolaan limbah terlebih dahulu.

Ditambah lagi terjadi perusakan alam bawah laut yang dilakukan oleh nelayan-nelayan yang tidak mempedulikan keselamatan biota bawah laut. Padahal, biota tersebut memegang peranan penting dalam rantai ekosistem.

Belum selesai sampai di situ, para pengusaha membabat habis hutan untuk menciptakan  perkebunan sawit seluas-luasnya tanpa mempertimbangkan ketidaksuburan pada tanah akibat penanaman sawit. Hutan di tebang tanpa proses tebang pilih agar para pengusaha dapat mengambil sebanyak-banyaknya kayu yang mereka inginkan baik untuk usaha mebel, atau pembuatan kertas. Kegiatan ini pun seringkali tak diikuti upaya penanaman kembali hutan.

Selanjutnya, hutan-hutan juga harus mengalami pembalakan liar, pembakaran hutan untuk membuka lahan baru bagi usaha ladang atau pembangunan pemukiman yang semuanya ini menjadi penyumbang terbesar terjadinya perubahan iklim.

Masyarakat awam juga tidak hilang peranan dalam menurunkan fungsi lingkungan. Ketidaksadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan membuat pola hidup masyarakat sewenang-wenang terhadap lingkungan.

Pemakaian energi yang berlebihan, penggunaan barang-barang yang tidak ramah lingkungan hingga konsumsi barang-barang yang berbahan dasar sumber daya alam secara besar-besaran, seperti pemborosan pemakaian tissue dan kertas.  Belum lagi segala emisi yang di lepas di udara yang merusak lapisan ozon.

Bahkan, hingga jajaran pemerintah yang seharusnya melindungi negara ini dari kehancuran pun ikut memberikan sumbangsihnya dalam menurunkan fungsi lingkungan. Pemerintah yang demi pendapatan pusat atau daerah seringkali tidak lagi selektif dalam memberikan izin mengelola lingkungan hidup bagi masyarakat.

Segala resiko kerusakan dan pencemaran lingkungan dapat dijadikan nomor dua demi terjadinya pertumbuhan ekonomi yang pesat. Yang menjadi prioritas utama adalah pembangunan di bidang ekonomi dan mengenyampingkan perlindungan terhadap lingkungan. Padahal, rusaknya lingkungan pada akhirnya akan melumpuhkan perekonomian negara.

Kelihatannya, kecil sekali kemungkinan untuk memulihkan lingkungan. Meskipun demikian, usaha pemulihan lingkungan masih tetap layak untuk dilakukan demi mencegah kian buruknya keadaan lingkungan. Pada dasarnya, lingkungan sendiri memiliki daya lenting, yaitu daya untuk pulih dari kerusakan atau pencemaran. Tugas kita adalah untuk mendorong pemulihan itu lebih cepat terjadi.

Mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri. Mencintai lingkungan dapat kita mulai saat ini juga dengan mulai melakukan hal-hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, menggunakan energi seefisien mungkin, menghindari pemakaian barang-barang berbahan dasar sumber daya alam secara besar-besaran dan memulai hidup dengan pola 3R (reuse, reduce, dan recycle).

Pemerintah juga harus serius dalam menangani masalah-masalah lingkungan. Dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan, hendaknya pemerintah mengutamakan aspek lingkungan. Sudah saatnya hanya perusahaan atau pengusaha yang benar-benar layak dan membarengi usaha mereka dengan perlindungan lingkungan sajalah yang boleh mendapat izin untuk memanfaatkan lingkungan.

Para pengusaha pun dalam menjalankan usaha seharusnya sudah dapat beralih ke alat-alat atau bahan-bahan yang ramah lingkungan serta melakukan pengolahan limbah dengan benar sebelum membuangnya ke alam.

Penurunan kualitas lingkungan hidup yang terus-menerus jelas hanya akan membawa bencana pada umat manusia. Jika tidak ada lingkungan yang baik, maka tidak akan ada mahluk bernama manusia yang dapat bertahan di bumi. Mari selamatkan bumi, selamatkan hidup!***