Onye: Sebuah Memoar

Onye: Sebuah Memoar

739
0
7 Flares Twitter 0 Facebook 7 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 7 Flares ×

Tak terasa setahun telah berlalu setelah kecelakaan maut yang menimpa pesawat Sukhoi RRJ 95B-97004 Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Musibah ini tentunya menjadi luka yang mendalam bagi dunia penerbangan Indonesia, tak terkecuali keluarga yang ditinggalkan oleh para penumpang Sukhoi, yang saat itu sedang melakukan uji coba penerbangannya.

Ketika tragedi itu terjadi, Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya di dunia penerbangan, Kornel Mandagi Sihombing, salah seorang motor penggerak PT Dirgantara Indonesia. Insinyur jebolan ITB ini turut diundang pada joy flight naas itu, berhubung beliau sedang menjajaki kemungkinan kerjasama antara IPTN dan Sukhoi untuk pembuatan ekor pesawat.

Cover BukuSetelah kecelakaan itu terjadi, beredar kabar simpang siur bahwa Bang Onye—sapaan akrab Kornel—berhasil lolos dari kecelakaan itu. Namun, dua hari setelah tragedi itu, keluarga, kerabat, dan seluruh rekan Bang Onye harus menerima kabar pahit, ketika Tim Evakuasi menemukan jasad yang positif teridentifikasi sebagai tubuh Bang Onye.

Kepergiannya tentu menimbulkan luka yang mendalam. Tak hanya istri dan dua orang anaknya yang menangisi Bang Onye, namun juga seluruh individu yang beruntung pernah berkenalan dengan dirinya. Sosoknya yang kaya namun bersahaja, telah menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Meski telah meninggalkan kita untuk selamanya, memori atas sosok Bang Onye tidak pudar. Buah pemikirannya tersebar di berbagai forum diskusi, seminar, pelatihan, hingga sekedar obrolan biasa saja. Pemikiran Bang Onye yang inspiratif ini, untungnya, masih bisa dinikmati, karena produktivitas beliau dalam menghasilkan tulisan.

Indriati Ayub Sihombing, istri Bang Onye, berinisiatif untuk membukukan sederetan tulisan Bang Onye. Buku dengan tajuk “Indonesia Mengantarmu Pulang” ini lebih menjadi sebuah memori indah ketimbang ratapan tangis dari keluarga Bang Onye, sekaligus rekan-rekan yang pernah mengenalnya.

Buku setebal 216 halaman yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama ini tak hanya berisi pemikiran Bang Onye semata, namun juga mengikutkan tulisan-tulisan dari kolega dan kenalan beliau yang telah mengenal sosoknya yang inspiratif. Sebut saja tulisan Jusman Syafii Djamal, mantan Menteri Perhubungan, yang menyebut Bang Onye sebagai “sahabat yang jiwanya selalu hadir dan tersenyum dalam berbicara”.

Mantan Direktur Utama Merpati Hotasi Nababan, yang juga rekan sealmamater Bang Onye, turut memberikan kontribusinya di buku ini. Dalam tulisannya berjudul “Eulogi: Sahabat Yang Luar Biasa”, Hotasi menegaskan tiga nilai yang diusung Bang Onye dalam menjalani hidupnya, yaitu profesional, peduli, dan sederhana. Tak hanya itu, Hotasi juga menggarisbawahi peranan Bang Onye, “Dia memberi kontribusi dengan otak dan tangannya. Kehadirannya ditunggu banyak orang, tanpa menjadi pusat perhatian”.

Tak kurang, buku ini juga mencantumkan komentar-komentar singkat dari sahabat-sahabat Bang Onye semasa di ITB dan juga dari kalangan profesional. Fadjroel Rachman, alumni ITB yang lebih dikenal sebagai seorang aktivis, menyebut “kepedulian, pengabdian, dan keikhlasan” sebagai nafas hidup Bang Onye.

Yang utama tentunya adalah nukilan pemikiran Bang Onye yang dibuatnya semasa hidup. Uniknya, meski bergelar insinyur dan diakui kemampuannya dalam dunia penerbangan Indonesia, Bang Onye tak terpaku dengan pemikiran yang berbau eksak dan mekanika saja. Banyak tulisannya yang justru membahas hal-hal yang sangat mendasar dalam hidup.

Misalnya, pengakuan yang didapatnya dari dunia penerbangan tak membuat dirinya lupa akan perannya sebagai suami dan ayah dalam keluarga.

Dalam tulisan berjudul “I am a Father and a Husband”, Bang Onye menuliskan bagaimana tanggung jawab sebagai seorang profesional, suami, dan juga ayah yang harus dijalaninya. Namun, tanpa terkesan menggurui, Bang Onye justru memberikan contoh sederhana ketika ia menjalani keseharian di rumahnya.

Bang Onye juga tak lepas dari berbagai permasalahan yang menderanya. Dari tulisan “Aku Tidak Bisa Berdoa”, Bang Onye menggambarkan kegelisahannya, yang membuat ia sulit untuk berdoa untuk menyerahkan segala permasalahannya kepada Yang Maha Kuasa.

Berbagai tulisan Bang Onye yang inspiratif ini menjadi sebuah keunggulan yang membuat buku “Indonesia Mengantarmu Pulang” sebagai karya yang layak untuk dibaca. Selain menjadi sebuah ikon memori atas sosok Bang Onye, buku ini juga menjadi sebuah “kampanye” atas nilai-nilai yang diusung Bang Onye bagi mereka yang belum sempat mengenal sosoknya.

Judul: Indonesia Mengantarmu Pulang (Catatan-Catatan Kecil Ir. Kornel M. Sihombing, M.Sc. (Onye))
Penulis: Indriati Ayub Sihombing
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 216 halaman
SHARE
Previous articleSelamatkan Bumi, Selamatkan Hidupmu!
Next articleBara Hati 1908 (105 Tahun Kebangkitan Nasional)
Pirhot Nababan
Alumnus Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, kelahiran Bandung 20 Oktober 1985. Sempat menyicipi dunia aktivisme mahasiswa dengan menjadi Ketua Bidang I GMKI Bandung, dan Kepala Departemen Infokom BEM FH Unpad. Mengambil program kekhususan hukum internasional, namun lebih memilih untuk bergelut di bidang jurnalistik sejak di bangku kuliah. Sempat merasakan kerasnya dunia jurnalistik di KOMPAS.com saat berstatus mahasiswa, dan selepas menggenggam gelar sarjana hukum langsung bergabung dengan Hukumonline.com, media online yang fokus di bidang hukum. Di awal tahun 2014 berhasil menyelesaikan studi magister konsentrasi hukum ekonomi dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, sambil tetap mengisi waktu senggang dengan gitar klasik, buku, film, dan Rubik’s Cube.