Nasionalisme Kaum Muda Masa Modernisasi

Nasionalisme Kaum Muda Masa Modernisasi

5077
0
9 Flares Twitter 0 Facebook 9 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 9 Flares ×

Bung Karno pernah berkata,  “Berikan padaku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.” Sepenggal kalimat yang menyiratkan, bagi Bung Karno, pemuda adalah roda penggerak reformasi sekaligus pelopor lahirnya kaum revolusioner.

Selain itu, sebagai salah satu penggerak yang memperjuangkan kemerdekaan, ada sebuah harapan yang tersirat dalam kalimat itu, yaitu harapan bahwa pemuda-pemudi sebagai generasi penerus bangsa dapat terus berkarya bagi bangsa dan negaranya, Indonesia.

Sayangnya, kenyataan hidup kaum muda masa sekarang berada jauh dari harapan Sang Proklamator. Sikap nasionalisme pada kaum muda saat ini tidak kelihatan — jika tak dapat disebut telah lenyap. Sebagian besar kaum muda saat ini merupakan kaum yang apatis terhadap pembangunan dan keberlangsungan negaranya.

Semangat persatuan dan kesatuan yang pernah dilahirkan melalui Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, saat ini hanya sebagian kecil yang mengindahkannya.

Modernisasi memberikan sumbangsih terhadap kondisi ini. Disadari atau tidak, jiwa nasionalis, semangat persatuan dan kesatuan, dan kesadaran untuk mengisi kemerdekaan ini telah hilang ditelan oleh modernisasi yang melaju dengan pesat di bidang teknologi.

Teknologi modern sudah menyelimuti pikiran dan kehidupan para kaum muda sekarang serta dengan ganas menggerogoti jiwa revolusioner mereka. Padahal, jiwa nasionalis dan semangat Sumpah Pemuda hingga kapan pun dibutuhkan sebagai alat pemersatu Bangsa Indonesia dan juga sebagai katalis gerakan pembangunan dan perubahan Indonesia.

Secara kodrati, setiap teknologi ibarat dua sisi mata uang. Jika digunakan dengan bijak, kehadirannya banyak memberikan manfaat dan memudahkan aktivitas manusia. Selain itu, teknologi modern saat ini, seperti Internet, juga dapat membantu manusia mengembangkan potensi dirinya.

Bahkan, tidak dapat dihindari bahwa pengembangan pendidikan saat ini membutuhkan teknologi modern. Dunia pendidikan di masa modern ini harus secara kreatif memanfaatkan resource yang ditawarkan teknologi untuk membuat proses belajar lebih menarik.

Di sisi lain, tidak sedikit dampak negatif yang dimunculkan teknologi ini jika manusia tidak memanfaatkannya dengan bijak. Salah satu contoh dampak bagi diri sendiri adalah kemalasan. Kemalasan yang melemahkan daya juang seseorang lama-lama akan membuatnya tertelan oleh dunia yang semakin kompetitif. Contoh dampak bagi orang lain adalah perilaku “autis” karena keasyikan main gadget yang sudah merajalela di kalangan kaum muda dan perilaku egoistis.

Seseorang pernah berkata, “Kemajuan teknologi komunikasi (baca: gadget) telah mendekatkan orang yang jauh dan menjauhkan orang yang dekat.” Hal ini benar terjadi. Karena sibuk “main jari” dengan gadget atau tablet-nya, si pengguna seringkali tidak mempedulikan lingkungan di mana dia berada. Padahal, perilaku yang demikian bisa menimbulkan dampak tidak baik, mulai dari “bencana sosial” berupa teman di samping yang dicuekin, hingga kecelakaan lalu lintas.

Di zaman ini, kaum muda mestinya dapat memanfaatkan teknologi secara kreatif  dan optimal untuk kebaikan bagi diri sendiri, lingkungan, dan bangsanya. Sikap dan tindakan seperti ini sesungguhnya suatu bentuk nasionalisme yang bisa diwujudkan oleh para pemuda zaman sekarang, melalui setiap perannya, baik sebagai pelajar, mahasiswa, pengusaha, maupun pekerja.

Disadari atau tidak, perjuangan kaum muda masa kini memiliki tantangan yang berbeda. Perjuangan tersebut bukan lagi perlawanan terhadap invasi bangsa asing melainkan pengaruh yang dibawa oleh setiap kemajuan zaman, salah satunya teknologi.

Dalam menyikapi pengaruh-pengaruh yang dibawa oleh kemajuan teknologi, sudah tentu pemuda harus lebih cerdas dalam memanfaatkannya.

SHARE
Previous articleCacat Bukanlah Sebuah Akhir
Next articleToleransi Umat Berbangsa
Arion Euodia Saragih
Penulis yang lahir pada 16 Mei 1991 di Bahpasunsang ini, kini tinggal di Jatinangor, Sumedang. Arion, demikian ia biasa dipanggil, mahasiswa jurusan Agroteknologi Unpad. Selain menjabat sebagai komisaris di KOMPERTA GmnI cabang Sumedang, Arion juga aktif di Himpunan Mahasiswa Pertanian Unpad.