Kinerja dan Karakter Kepemimpinan

Kinerja dan Karakter Kepemimpinan

622
0
9 Flares Twitter 0 Facebook 9 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 9 Flares ×

Bekerja setahun di lingkungan perkantoran membuat saya menyadari suatu hal. Percaya atau tidak, kinerja pegawai tak lepas dari siapa atasannya. Setiap atasan memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang karakternya menyenangkan, dan sebaliknya, ada yang kurang menyenangkan. Dalam tulisan ini, saya menyempitkan definisi karakter sebatas sikap atasan terhadap bawahan.

Di kantor saya dahulu, saya bekerja untuk dua atasan. Satu atasan merupakan daily supervisor, dan yang lain merupakan proposal leader. Sesuai namanya, tugas daily supervisor adalah memeriksa pekerjaan harian yang dilaporkan sebulan sekali, sementara tugas proposal leader adalah mengarahkan saya untuk membuat anggaran yang benar dalam proposal.

Sebagai pegawai baru saat itu, saya menaruh hormat pada kedua pimpinan tersebut. Saya selalu berusaha menyelesaikan dengan baik pekerjaan yang mereka berikan kepada saya. Awalnya, bekerja lembur pun saya jalankan dengan sukacita. Tetapi, namanya manusia, rasa bosan karena rutinitas tak dapat dihindari. Rasa bosan tersebut muncul pada bulan kelima saya bekerja.

Perlahan timbul rasa enggan untuk lembur. Anehnya, hal ini hanya berlaku untuk pekerjaan yang diberikan oleh daily supervisor. Pekerjaan yang diberikan oleh proposal leader tetap saya kerjakan dengan sukacita.

Saya lantas mencari penyebab kecenderungan di atas. Ternyata, sikap kedua pimpinan tersebut terhadap tugas yang saya kerjakan berbeda. Setiap awal bulan, daily supervisor hanya meminta laporan empat pekan tanpa pernah memberi saya umpan balik atau evaluasi. Beliau selalu mengelak mengomentari hasil pekerjaan saya dengan alasan sibuk. Ya, ya, beliau memang luar biasa sibuk!

Lain halnya dengan yang dilakukan oleh proposal leader saya. Meski memangku jabatan sebagai pimpinan, beliau tidak jarang menanyakan kesulitan apa yang saya hadapi, sudah sejauh mana kemajuan pengerjaan proposal, bahkan memberikan masukan untuk menyempurnakan pekerjaan saya.

Manusia memang luar biasa. Punya pikiran dan rasa. Sebagai manusia, kita dapat membedakan pribadi yang menghargai maupun tidak menghargai karya kita. Saat kita merasa dihargai, rasa hormat muncul. Saat kita merasa tidak dihargai, rasa hormat berkurang, bahkan mungkin sikap acuh yang muncul.

Saya merasa daily supervisor kurang menghargai hasil kerja saya. Penghargaan beliau sebatas kata “terima kasih” saat laporan itu saya serahkan padanya setiap awal bulan. Mungkin beliau pun mengucapkannya hanya sebagai kebiasaan atau formalitas belaka. Alhasil, saya tidak bersemangat lagi mengerjakan tantangan dari beliau. “Toh selama ini juga pekerjaan saya tidak pernah dihargai,” pikir saya.

Sungguh berbeda dengan proposal leader saya yang memang menghargai hasil pekerjaan saya. Saya bekerja untuknya dengan sukacita. Dan tak diragukan lagi, segala sesuatu yang dikerjakan dengan senang hati, hasilnya akan lebih baik daripada pekerjaan yang dilakukan dengan (sedikit) bersungut-sungut.

Dari pengalaman kerja saya tersebut, saya belajar bahwa jika suatu saat saya menjadi pemimpin, saya ingin memimpin dengan sikap seperti proposal leader saya. Saya ingin menghargai hasil karya anak buah saya; tidak dengan kata “terima kasih” yang sekadar keluar dari bibir, tetapi dengan kata “terima kasih” yang keluar dari dalam hati. Bagaimanapun juga, tanpa anak buah, seorang pemimpin tidak bisa mencapai tujuannya dalam bekerja dengan maksimal.

Perihal mengapresiasi pekerjaan orang lain ini bukan masalah yang tidak lazim kita jumpai. Tidak hanya terjadi di kantor, persoalan ini juga terjadi bahkan dalam keluarga, saat bekerja kelompok dengan teman, organisasi kemahasiswaan, organisasi keagamaan, organisasi olahraga, dan lainnya.

Belajar dari cerita di atas, sekarang kita tinggal memilih. Terhadap rekan kerja, mau bersikap seperti Pak Daily Supervisor atau Pak Proposal Leader?

SHARE
Previous articlePemuda Yang Aktif
Next articleCacat Bukanlah Sebuah Akhir
Renata Amelia
Lulusan Teknik Fisika ITB, sekarang menjadi guru fisika di SMAK Kalam Kudus Mekar Wangi Bandung.