Karena Kita Hanya Punya Satu ‘Rumah’

Karena Kita Hanya Punya Satu ‘Rumah’

802
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

“Earth provides enough to satisfy every man’s needs, but not every man’s greed.” Mahatma Gandhi

Juli 2007 di Morowali Sulawesi Tengah, Indonesia, terjadi banjir bandang. Banjir ini terjadi setelah hujan deras selama seminggu. Padahal, bulan Juli adalah musim kemarau di Indonesia. Pada tahun yang sama banjir terbesar terjadi di Inggris, banjir ini disebabkan naiknya air permukaan Sungai Severn dan Thames. Februari 2010 bencana tak kunjung mereda, 49 dari 50 negara bagian USA tertutup salju. Di Indonesia, longsor terjadi di Ciwidey, Bandung.

Kini, kekeringan dan badai semakin sering melanda Amerika Serikat. Banjir bandang, gempa bumi, dan tsunami bukan suatu hal yang asing lagi. Bencana yang begitu sering datang. Apa yang sedang terjadi pada bumi kita?

Bumi kian memanas! Menurut Badan Perubahan Iklim PBB, The Interngovernmental Panel on Climate Change (IPCC), apabila kenaikan suhu bumi mencapai 6oC, diperkirakan kehidupan di bumi akan berakhir.

Kenaikan suhu di bumi menyebabkan mencairnya es baik di Kutub Utara maupun di Kutub Selatan. Pencairan yang terjadi hingga kini, membuat naiknya permukaan air laut. Naiknya permukaan air ini yang membuat negara-negara kepulauan terutama Indonesia terancam tenggelam. Pada tahun 2100, Indonesia diprediksi akan kehilangan daerah pantai dan pulau-pulau kecil yang dimilikinya seluas 90.260 km2.

Kenaikan air laut, tenggelamnya pulau, akan menyebabkan masalah lain muncul ke permukaan. Penduduk yang berebut mencari tempat pemukiman baru menimbulkan masalah kepadatan penduduk hingga kemiskinan yang merajalela. Situs National Geographic menuliskan dampak hebat akibat pemanasan global yakni terjadinya peperangan. Perang terjadi akibat perebutan bahan makanan, lahan, dan sumber daya alam lainnya.

Pemanasan global tak lain disebabkan oleh dua hal, yakni berkurangnya vegetasi pohon serta rusaknya ekosistem laut. Berkurangnya vegetasi pohon di berbagai belahan dunia menyebabkan tidak terurainya gas CO2 menjadi O2. Selain itu rusaknya ekosistem laut yang berperan sebagai penyeimbang daur energi dan rantai makanan ekosistem laut.

Meningkatnya kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil menyebabkan perubahan komposisi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Sinar matahari yang seharusnya dipantulkan ke angkasa terperangkap di bumi karena terhalang oleh gas-gas tersebut, menimbulkan efek rumah kaca yang berlebihan. Efek rumah kaca inilah yang berujung pada pemanasan global, yang mencairkan es baik di Kutub Utara maupun Kutub Selatan.

Semua peristiwa yang terjadi seringkali dianggap sederhana dan dinilai akan berakhir dengan sendirinya.

Gross National Happiness
Negara Bhutan memperkenalkan teori Gross National Happiness (GNH). Teori ini diusulkan oleh Raja Jigme Singye Wangchuck IV. Saat kepemimpinannya ia tidak melulu memikirkan perkembangan ekonomi melainkan mendirikan negara yang mengusung kesetaraan, kepedulian, dan konsep ekologi.

Sang raja turut memperhatikan pelestarian lingkungan hidup di Bhutan. Ia memberlakukan larangan merokok di seluruh negeri, melarang impor kantong plastik, dan mewajibkan setiap orang setiap tahun minimal menanam 10 batang pohon. Konsep GNH ini pun langsung memperoleh perhatian seksama masyarakat internasional dan menjadi tema pelajaran ilmu ekonomi yang digandrungi para pakar dan institut penelitian di Amerika dan Jepang.

Lantas, apa kita akan membiarkan bumi, satu-satunya rumah kita hancur?
Jika tidak, sadarilah bahwa layaknya manusia bumi memiliki carrying capacity. Bumi punya batasan untuk dikeruk dan diekploitasi. Mengapa kita tidak belajar merawat bumi layaknya rumah kita sendiri, menjaganya tetap bersih, sehat, dan nyaman.

Memulai dari hal kecil dengan tidak membuang sampah begitu saja, mengurangi jumlah kepemilikan mobil tiap anggota keluarga, menggunakan peralatan rumah tangga yang ramah lingkungan, dan pengurangan penggunaan plastik untuk membawa bawaan.

Kita harus mengingat bahwa setelah kita akan ada generasi lain yang akan menempati ‘rumah’ kita. Saat kita membiarkannya hancur, maka hancur pulalah keberlangsungan mereka. Sebelum terlambat, mengapa tidak kita antisipasi?

Lantas bisakah kita, dengan kesadaran kita sendiri menerapkan teori GNH bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk membahagiakan alam ini? Bumi kita satu-satunya. Mulailah dari hal kecil, mulailah selagi ada waktu.

Kemajuan lahir melalui perhatian terhadap hal-hal kecil. Belajar menghargai bumi dari hal-hal kecil, begitulah cara kita berterimakasih kepada semesta. ***

Referensi:
http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/05/04/m3hjm3-negaranegara-yang-paling-oke-di-dunia
http://www.pemanasanglobal.net/lingkungan/dampak_perubahan_iklim_terhadap_manusia.htm
http://www.ipcc.ch/publications_and_data/publications_and_data.shtml#.UCi-r3bUOHw
http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/07/meningkatnya-suhu-bumi-lunturkan-perdamaian-dunia
http://www.attayaya.net/2008/12/fakta-tentang-perubahan-iklim-dunia.html
“Bumi, Rumah Kita Hari Ini” artikel yang dituliskan oleh Ilva Nurfitriati Effendi