JALUR GAZA: Potret Buram Di Tengah Peradaban Manusia

JALUR GAZA: Potret Buram Di Tengah Peradaban Manusia

1310
0
5 Flares Twitter 0 Facebook 5 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 5 Flares ×

Jalur Gaza: Tanah Terjanji, Intifada dan Pembersihan Etnis, yang di terbitkan pada Agustus 2009, karya wartawan senior Kompas, Trias Kuncahyono, adalah buku ke enam dari lima karya sebelumnya: Dari Damascus ke Baghdad, Catatan Perjalanan Jurnalistik; Bulan Sabit Di Atas Baghdad; Irak Korban Kaum Hawkish; Paus Yohanes Paulus II, Musafir dari Polandia; Jerusalem: Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir.

Catatan tentang wilayah Palestina, Jalur Gaza khususnya, yang menyoroti detil-detil pergolakan dan perkembangannya, secara umum lahir dari Jalur Gazakarya para penulis Barat. Kali ini, kita bisa ‘lebih dekat’, mengikuti bahkan merasakan apa yang tengah terjadi di wilayah yang secara historis tak kunjung usai dengan konflik memperebutkan tanah yang disebut ‘berlimpah susu dan madu’.

Sejak 3500 SM, Jalur Gaza telah menarik perhatian berbagai kelompok bangsa. Tidak hanya Israel, Gaza pernah disinggahi, dikuasai, diduduki, dihancurkan, dibangun dan diwarnai oleh para penguasa dunia dan beragam peradaban, seperti: Bangsa Mesir, Kaisar Alexander, Bangsa Romawi, Bangsa Byzantium, Bangsa Turki, Bangsa Mongol (Hulagu Khan), Bangsa Perancis (Kaisar Napoleon Bonaparte), Kristen dan Islam. Di Gaza ini inilah peristiwa Intifada (pelemparan batu oleh rakyat setempat kepada tentara Israel) meletus tahun 1987, setelah 20 tahun pendudukan Israel di Palestina.

Buku ini mengungkapkan dan sekaligus mengkonfirmasikan kepada kita berbagai paradigma yang mungkin selama ini kita bayangkan tentang Gaza. Tragedi kemanusiaan yang terus berulang karena ulah ketamakan manusia diselingi oleh bencana alam dan epidemi penyakit yang mengguncang peradaban masyarakat Gaza, seakan bagai sebuah ‘kutukan’.

Penduduk Gaza yang 75% berusia muda, melihat masa depan mereka yang tak jelas. Biaya hidup yang mahal dan sulitnya lapangan pekerjaan, membuat mereka bertanya: “Sampai kapan?” dan “Bagaimana masa depan kami?”

Tak hanya konflik antara Israel dan Palestina namun juga konflik kekuasaan dalam kancah perpolitikan Palestina – antara HAMAS dan Fatah – makin memperparah keadaan. HAMAS cenderung menghadapi Israel dengan kekuatan senjata. Sedangkan kelompok Fatah, menghadapi Israel melalui jalur perundingan.

Dan mereka saling menjatuhkan bukannya bersatu dalam melawan kebiadaban Israel. HAMAS dan Fatah, sama-sama ingin ‘bertahta’ di Palestina. Inilah yang menjadi kendala terbesar bagi perjuangan rakyat Palestina, bahwa para pemimpin mereka pun tak bersatu.

Dari catatan Trias Kuncahyono, kita bisa tahu bahwa sebagian besar rakyat Palestina hidup dalam himpitan penderitaan, terutama setelah blokade Israel. Mayoritas penduduk Gaza adalah Muslim, tapi ada juga orang-orang Kristen. Mungkin berseberangan dengan apa yang sering kita dengar di Indonesia, pada kenyataannya seperti pengakuan Muhammad:

“Kami tidak punya persoalan dengan mereka orang-orang Kristen. Hubungan antara umat Islam dan Kristen di sini berlangsung baik. Bagus. Orang-orang Kristen juga sama dengan kami yang Muslim, menjadi korban serangan tak berprikemanusiaan yang dilakukan oleh Israel.”

Konflik antara Israel dan Palestina bisa jadi didasari oleh kenangan masa lalu keagamaan mengenai ‘Tanah Terjanji’ bagi umat Yahudi (Israel). Namun, kepentingan politis dan kekuasaanlah yang terlihat semakin merasuki tindakan-tindakan peperangan, baik oleh Israel, maupun HAMAS (yang mengklaim mewakili rakyat Palestina). Kondisi ini pun diperburuk dengan peran DK PBB yang seperti macan ompong.

Situasi terpuruk dan menyedihkan yang direkam oleh Trias Kuncahyono, adalah potret buram sebuah bangsa di tengah peradaban manusia yang semestinya semakin menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan berdasarkan cinta kasih antar umat manusia.

Membaca Jalur Gaza, tak hanya membuat kita akan terenyuh, tapi semestinya melakukan upaya empati, setidaknya agar mereka, masyarakat yang terkurung dalam ‘penjara raksasa’ di Jalur Gaza tetap berpengharapan akan masa depannya dan merasakan bahwa kita berada dipihak yang teraniaya. Persoalan Jalur Gaza atau konflik Israel-Palestina bukanlah masalah agama, melainkan masalah kemanusiaan.

Judul: Jalur Gaza: Tanah Terjanji, Intifada dan Pembersihan Etnis
Penulis: Trias Kuncahyono
Penerbit: PT. Kompas Media Nusantara
Jumlah Laman: Xlii + 326 laman: 14 cm x 21 cm
ISBN: 978-979-709-434-8