Dunia Sophie: Dunia Kemanusiaan Manusia

Dunia Sophie: Dunia Kemanusiaan Manusia

1572
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×
“Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.” – Gothe

Jika kita mendengar kata ‘filsafat’, umumnya kita akan menganggap bahwa filsafat itu serangkaian kerumitan pemikiran manusia dari abad ke abad. Kita agak jengah dengan istilah-istilah yang tersuguh di dalamnya. Alih-alih melahapnya, kita malah menyingkirkannya, seolah filsafat hanya bagian dari tumpukan sampah peradaban manusia. Terlebih ketika filsafat dibentangkan vis a vis dengan agama.

Ada kecenderungan untuk memandang filsafat tak ada relevansinya dengan kehidupan manusia. Bahkan filsafat sering dunia sophiedikompartementalisasikan sebagai ‘musuh’ dalam berkeyakinan kepada Tuhan, karena filsafat terlanjur dianggap mengagungkan akal budi manusia. Padahal, bukankah manusia diperkenan untuk menggunakan akal pikirannya dalam menalar keberadaan dirinya sekaligus Tuhannya?

Dunia Sophie (Shopie’s World) adalah sebuah novel filsafat karya Jostein Gaarder. Ia seorang pengajar filsafat tingkat sekolah menengah di Norwegia selama lebih dari sebelas tahun. Pada tahun 1990, Gaarder menerima penghargaan dari Norwegian Literary Critics serta hadiah sastra dari  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk bukunya The Solitaire Mystery.

Dalam novel ini, kita diajak menelusuri perjalanan sejarah filsafat selama tiga milenium, melalui kisah seorang pelajar sekolah menengah berusia empat belas tahun bernama Sophie Amundsend. Sophie, seperti juga diri kita, memulai ‘petualangannya’ dengan mempertanyakan banyak hal terkait keberadaan dirinya dan alam semesta. ‘Dunia Sophie’ adalah gambaran dari dunia kita, dunia di mana pertanyaan-pertanyaan masa kanak-kanak kita mengalir sedemikian rupa dan kita lebih suka tak menggubrisnya.

Di dalamnya Sophie diperkenalkan oleh seorang misterius – yang kemudian diketahui bernama Alberto Knox – pada pergulatan pemikiran para filosof. Bersama Alberto Knox, Sophie secara bertahap menemukan jawaban yang dituangkan Gaarder dengan sangat menarik, ringkas, tajam, sederhana, tanpa menghilangkan inti pemikiran para filosof.

Perjalanan sejarah filsafat yang dimulai dari abad ke-6 sebelum kelahiran Isa Almasih. Yaitu cara pikir yang sama sekali baru yang berkembang di Yunani. Sejak adanya mitos-mitos seperti dewa Thor (dewa kesuburan) di Norwegia. Mulai dari Thales, Anaximander dan Anaximenes, tiga orang filosof awal dari Miletus, sebuah koloni Yunani di Asia Kecil. Kemudian ada Parmenides, Heraclitus, Empedocles, Anaxagoras. Mereka disebut sebagai para filosof alam.

Lalu Democritus, Socrates, Plato, Aristoteles, Descartes, Baruck Spinoza, John Locke, David Hume, Berkeley, Immanuel Kant, Hegel, Soren Kierkegaard, Karl Marx, Darwin, dan Frued. Tak hanya bersentuhan dengan mereka, Gaarder juga menyajikan konteks yang mempengaruhi para filosof tersebut. Seperti situasi Athena, Helenisme, Abad Pertengahan, Renaisans, Zaman Barok, Zaman Pencerahan, Romantisme, dan kaitannya dengan situasi atau zaman kita sendiri saat ini.

Seluruhnya merupakan warna-warni dalam perkembangan bahkan ‘lompatan-lompatan’cara pikir manusia dengan segala dampaknya, baik bagi peradaban manusia itu sendiri maupun bagi dunia. Baik untuk zamannya maupun terhadap konteks kini dan masa depan.

Meski ada satu kekurangan – mungkin karena Gaarder tumbuh dan dipengaruhi dunia Eropa – bahwa pemikiran para filosof dari dunia Islam yang cukup kaya serta ikut mewarnai peradaban manusia tak termasuk dalam kisahnya. Setidaknya, novel filsafat karya Gaarder ini layak dijadikan bacaan bagi kita yang ingin memulai mengenal dunia filsafat.

Kita akan jarang mengernyitkan dahi, bahkan malah membuat kita tersenyum. Ada bagian-bagian yang memungkinkan kita untuk memikirkan ulang (rethinking) segala hal yang sebelumnya kita anggap baku atau tak bisa digugat. Semuanya berpulang pada diri kita. Pilihan-pilihan hidup dan kehidupan dibentangkan di hadapan kita. Dengan beragam pemikiran para filosof – seiring dengan konteks sejarah peradaban manusia – kita ‘lebih bebas’ dan ‘dimudahkan’ untuk memilihnya.

Seperti kata-kata Gothe yang dikutip Gaarder di awal novelnya, bahwa novel ini sepertinya ditujukan agar kita dapat mengambil pelajaran dari masa-masa sebelumnya dengan memanfaatkan akal kita, yang adalah bagian dari anugerah Tuhan khalik semesta alam.  Gaarder berhasil membuat kajian filsafat menjadi enak diikuti.

‘Dunia Sophie’ adalah dunia kita, dunia kemanusiaan manusia, yang didalamnya bukan sekedar ide, teori dan pemikiran, melainkan sesungguhnya adalah ‘pengalaman’ manusia itu sendiri. Dan yang paling penting adalah bagaimana kita hidup dan menghidupi kehidupan kita sekarang dan kemudian dari rentetan ‘pengalaman’ itu sendiri.