Bara Hati 1908 (105 Tahun Kebangkitan Nasional)

Bara Hati 1908 (105 Tahun Kebangkitan Nasional)

843
0
31 Flares Twitter 0 Facebook 31 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 31 Flares ×

Hari Kebangkitan Nasional, mengenang rasa persaudaraan, kesatuan, persatuan, dan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan, yang sebelumnya tidak pernah muncul sejak penjajahan Jepang dan Belanda.

Hari Kebangkitan Nasional mengambil tanggal kelahiran Boedi Oetomo lebih dari seabad yang lalu. Tepatnya pada tanggal 20 Mei 1908, Boedi Oetomo hadir sebagai organisasi kepemudaan, yang menyatukan berbagai pemuda dari latar pendidikan yang beragam.

Kesadaran dalam tekanan penjajahan telah membawa mereka bersatu. Meleburkan diri dalam organisasi, yang turut mendorong lahirnya Sumpah Pemuda 1928 dan akhirnya menelurkan kemerdekaan republik ini pada 17 Agustus 1945.

Lantas apa yang perlu kita teladani dari peringatan Hari Kebangkitan Nasional? Ada semangat kebersamaan, kesatuan, dan persatuan yang mereka tunjukkan pada masa-masa itu. Mereka berkumpul satu tekad, mencari-cari peluang memerdekakan bangsanya. Dan kita saat ini merasakan sebagian kemerdekaan itu.

Apa yang menjadi fokus kita saat ini, tentu saja berbeda dengan tantangan pemuda dimasa lalu. Mereka dilahirkan untuk melepaskan Indonesia dari penjajahan Jepang dan Belanda. Sementara, kita, saat ini sedang berhadapan dengan berbagai hal yang menunjukkan bahwa kita sedang melawan bangsa kita sendiri.

Oh tidak. Ini bukan soal perang saudara seperti Yugoslavia atau Rwanda. Kita bertarung melawan berbagai budaya buruk yang sudah kadung melekat pada bangsa kita sendiri. Kita melihat bagaimana praktik korupsi merajalela hingga bobroknya mental pemuda masa kini, gampang menyerah! Tidak seperti di masa lalu ketika pemuda mampu menjabarkan tugas-tugas mereka, yaitu, sekali lagi, membebaskan bangsa ini dari penjajahan.

Kembali pada tantangan pemuda masa kini. Selain praktik korupsi dan mental gampang menyerah, kita juga menghadapi carut marutnya sistem pendidikan. Lihat bagaimana kegagalan pelaksanaan Ujian Nasional yang baru berlangsung kemarin.

Kaburnya ideologi Pancasila, juga menjadi masalah tersendiri, ketika intoleransi semakin dipertontonkan di negeri ini dan minoritas tak bisa terjamin hak-haknya. Tak hanya itu, lemahnya penegakan hukum juga ketidakjelasan dan ketidaktegasan kepemimpinan nasional, semakin memperkeruh situasi sosial terkini.

Oh iya, kita juga melihat bagaimana pola hidup konsumtif dekat dengan kehidupan setiap kita. Kita menjadi lupa melihat dan memilih kebutuhan yang utama. Kita menjadikan kebutuhan sekunder menjadi yang utama. Lebih baik beli pulsa ketimbang makan!

Ada pula kisah lain, sebagian dari kita bisa hidup enak dan hanya bingung memilih akan makan di mana. Sementara orang lain, mereka kebingungan dengan keterbatasan jumlah uang yang mereka miliki, yang membuat mereka justru bertanya, apakah mereka besok bisa makan?

Kehidupan bernegara, bersosial, berhukum, serta berelasi sesama anak bangsa sedang kacau balau!

Kita seperti hidup di negara yang sebentar lagi akan runtuh. Tentu kita tidak ingin bangsa ini hancur. Kita ingin bangsa ini semakin hari maju dan terus berkembang. Rakyat sejahtera dan makmur.

Ada yang menarik dari kisah seorang Hugo Chavez, bekas presiden Venezuela yang sudah mangkat. Semasa ia menjabat presiden, rakyat di negaranya sampai harus antri untuk membeli tiket kapal pesiar. Menandakan mereka sedang menikmati kemakmuran.

Terlepas dari kontroversi gaya kepemimpinan Hugo Chavez, upayanya untuk menumbuhkan kebanggaan masyarakatnya sebagai warga Venezuela, adalah sebuah kisah inspiratif. Bagaimana Chavez mengoptimalkan sumber daya alamnya untuk kemakmuran dan kemajuan masyarakatnya.

Tentunya, tak perlu masyarakat Indonesia hingga antri membeli tiket kapal pesiar. Apalagi situasi riil Venezuela juga berbeda dengan Indonesia. Tapi paling tidak, Indonesia seharusnya bisa bangkit dari keteledoran, kebobrokan, serta ketidaktegasan dalam berbagai ranah, dengan mengambil keteladanan dari negara yang berhasil membangkitkan semangat warganya.

Lalu, apa yang perlu kita lakukan sebagai warga negara? Terlebih sebagai pemuda?

Memulai hidup dengan kebutuhan yang sesuai dan yang utama, memandirikan diri dalam bekerja maupun perkuliahan, menghargai sesama, dan tidak korupsi waktu, adalah sebagian aksi nyata yang bisa kita lakukan untuk memajukan bangsa ini.

Kita sebagai pemuda harus lebih tekun belajar. Bangku sekolah dan perkuliahan adalah sebuah keistimewaan yang tidak bisa didapatkan semua orang. Kita mesti serius menjalani proses pendidikan, tanpa harus terjebak dalam menara gading dan target nilai yang tinggi.

Pemuda juga selayaknya meningkatkan kesadaran sosialnya, terlepas dari latar belakang pendidikan yang ditempuhnya. Memperluas pengetahuan melalui kegiatan berorganisasi adalah satu cara untuk meningkatkan kesadaran sosial pemuda.

Kita harus sadar bahwa kita tidak hanya hidup untuk sekedar memburu gadget terbaru dan hanya sekedar asik sendiri hingga menjadi pribadi yang anti sosial. Kita bisa hidup produktif, berbagi, sekaligus merangkul. Mengoptimalkan berbagai sumber daya yang kita miliki untuk memajukan diri juga sesama, dan akhirnya kemajuan bangsa ini.

Selamat datang Kebangkitan Nasional!

SHARE
Previous articleOnye: Sebuah Memoar
Next articlePemuda Yang Aktif
Basar Daniel Jevri Tampubolon
Suka menulis dan sedang menyelesaikan penulisan buku pertamanya. Sehari-hari, ia bekerja sebagai profesional muda di industri kreatif. Kutipan favoritnya, "Kekecewaan itu terbatas, namun harapan tidak terbatas." - Martin Luther King, Jr